Vrydag 05 April 2013

”BUKAN CINTA YANG LUMPUH”


Perjuangan Cinta Yang Harus Tetap diperjuangkan...



………,Setelah itu,  apa yang aku akan katakan pada bibir yang terjajah ini, jika hati terkadang berbicara tak searah dengan lisan ini?
Dulu,aku sempat Depresi menghadapi kenyaataan cinta dalam hidup ku ini.yaa, bagaimana tidak jika orang yang kucintai selama ini, perasaanku hanya ku simpan untuknya tak bisa menerimaku dengan tulus hati. Dari situ aku bercermin akan sikapku yang belum sempurna ini.Aku memang harus lebih banyak belajar lagi memperbaiki sikap, atau juga pilihanku masih kurang tepat. Akan tetapi selama itu aku merasa, kalau aku bukan Tipe orang yang pembagi cinta kepada lawan jenis,cukup mengatakan “Aku cinta kamu”.Mungkin itu sudah sangat memuasakan bagiku, dan untuk melanjutkannya kayaknya aku masih kurang mampu.
Waktu itu, aku sangat berani bersumpah, menyumpai diri ini sendiri untuk tidak menjalin cinta kepada lawan jenis lagi. Entah kenapa aku ini. Dan aku siap menerima resiko yang ada nantinya.
Tapi tunggu……entah kenapa cinta ini kembali lagi.
Di pertengahan februari 2006 aku mengenal teman cewek di sekolahku. Ku kenal dia bukan dari Hp, bukan pula dari kontak jodoh yang sering ada di lembaran koran atau majalah, bukan pula dari cafee. Sebut saja dia Ulfa. orangnya manis, pintar dan berakhlak, belum lagi sikap malunya yang membuatku ingin mengetahui dia lebih lanjut. Ku kenal di karena waktu itu aku di tunjuk oleh guruku mengikuti Olimpiade Matematika se-Provinsi. Kebutulan pasanganku waktu itu dia, Ulfa. Belum sempat ada obrolan panjang di antara kami. Paling hanya ada obrolan seputar soal di Olimpiade nanti.
Sudah dua minggu kami latihan bersama. kami yakin bisa mendapat nomor di ajang itu nanti. “Fa, sejak kapan kamu ikut Olimpiade ini?”,tanyaku yang ingin mendinginkan suasana. “Baru kali ini”, jawabnya singkat. Berbicara masalah siakapnya, akau belum terlalu faham, tapi sejauh ini aku bisa mengatakan kalau orangnya agak sedikit supel, tapi asik. Pandai, jenius. 
Tak terasa sore sudah berbicara, aku dan dia pulang tanpa ada diskusi lagi. Sesampainya di kamar,aku merasa bingung akan sikapnya yang supel itu. Tapi aku tak begitu menyerah saja untuk menghapadinya.
Bumi terus memutari Matahari, bayang-bayang mimpi indah masih merasukiku, ada banyak cerita diakhir pekan ini, dan tak terasa tibalah saatnya ajang yang menarik itu. Aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ada sedikit yang berbeda di pagi ini. Yah sepatu baru. Sepatu baru ini hadiah dari kawanku yang sekilah di Negeri kanguru. Walaupun sedikit norak, tapi tak apalah untuk menghargai pemberian sahabat dekaku ini.aku sudah berdiri di depan pintu, menunggu bapak menggoncengku dengan sepeda ontelnya. Tak alama kemudian aku bersalaman dengan ibu dan adikku, memohon doa darinya. “Assalamu alaikum Bu”. Akupun berangkat ke sekolah dengan jutaan harapan. Tak lama kemudian akupun sampai di depan gerbang sekolah. Suasana sepi. Dedaunan masih berserakn disekitar sekolah. Tiba-tiba pak Edi lewat di garis bola mataku sekitar dua puluh meter, ”Pak, Ulfah sudah datang,?”,tanyaku. Pak Edi hanya terdiam membisu. Belum menjawab pertanyaanku. Aku bingung. Tak disangka Pak Edi menangis. Mengajakku dududk sejenak dekat kolam ikan hias. “ Ada apa dengan Bapak, Kok menangis sich pak?”, tanyaku peanasaran sambil memerbaiki lengan bajuku. Pak Edy masih terdiam. Masih mengusap air matanya dengan sapu tanagn merahnya. Bersamaan aku bersin, Pak Edy pun berkata dengan suaranya yang menyedihlkan, “Ulfa masuk Rumah sakit nak, kemarin dia kecelakaan”. Aku tak bisa berkata banyak, hanya air mata yang menemaniku di pagi itu. rasanya tubuh baru saja dipenggal hidup-hidup. Susuah untuk bergerak dan berkata-kata.Aku seakan tak percaya dengan semua itu. Pak Edi hanya bisa melihatku saja,tak ada satu kata sambungan untukku.
Siang harinya aku ke Rumah sakit bersama kedua Orang tuaku. Ku lihat tubuh Ulfa terbaring lemas di atas kasur dan di dampingi oleh kedua orang tuanya yang di hiasi dengan tangisan pilu juga.”Selamat siang Bu, Pak”,kataku yang berada di depan pintu.”Silahkan masuk Nak”,lanjut ibu Ulfa. “Aku teman Olimpiadenya Ulfa Bu,aku juga turut berduka cita atas musibah ini”.Belum sempat ibu ulfa menanggapi pembicaraanku,tiba-tiba seorang Dokter bertkaca mata masuk menghampiri kami sambil membawa selembar kertas.”Kami dari tim Rumah sakit sudah sangat berusaha dengan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan anak bapak,tapi Tuhan berkata lain. kedua kaki anak bapak tak bisa kami selamatkan dengan sempurna”,jelas Dokter itu. “Maksudnya?”Tanya Ibu Ulfa penasaran. “Anak ibu di nyatakan lumpuh seumur hidup. kerena kecelakaan yang menimpahnya kemarin sangat parah sekali. Sekali lagi kami mohon maaf”,lanjut Dokter itu. Tiba-tiba Ibu Ulfa jatuh pingsan. Sulit sekali rasanya mengambil nafas waktu itu. Aku hanya bisa terdiam saja, tak ada kata yang keluar dariku. Sementara ayah Ulfa hanya bisa pasrah dan menggendong kembali sang istri.
Ulfa juga hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya yang malang itu. Lalu kudekati dia.”Ulfa tak usah sedih, mungkin ini yang terbaik bagi ulfa dari Tuhan”. Dia masih menangis dan menangis. Lalu aku berpamitan. Meninggalkannnya dalam keadaan kesedihan. Meninggalkannnya, tapi bukan untuk selamanya.
Tujuh tahun kemuduian……
Sekarang aku sudah kerja di industri minyak,jabatanku lumayan tinggi,yaitu di  bagian Marketing. Hijrah ke Jakarta memang tergantung dari nasib baik atau buruk. Tak banyak orang yang hijrah ke Jakarta untuk meraih kesuksesan namun akhirnya hidupnya masih terlilit sewa kontrakan, tak banayk pula yang Hijrah ke kota yang terjuluki “Lebih kejam dari ibu tiri’ ini meraih kesuksesannnya di Kota ini. Mungkin aku termasuk pada golongan yang kedua ini. Aku juga tak menyangka bisa bekerja di tempat yang sangat diimpikan banyak orang ini. Hanya berbekal Sarjana Ekonomi dari Universitas Hasanuddin Makassar, aku langsung bisa diposisikan di tempat ini.ini sebuah Anugerah Allah yang Maha kuasa. Kejadian tujuh tahun yang lalu itu sudah terlupakan di pita otakku. Tapi terkadang pula sejenak aku mengingatnya. Terkadang aku bertanya, “Apakah dia masih terebaring lemas?”. Yang jelasnya Doaku tetap ada untuknnya. Orang tuaku menyuruhku untuk segera menikah,melihat umurku yang semakin matang saja. Belum lagi orang tuaku sudah iri melihat saudara-saudaranya yang sudah memangku cucu-cucunya di sore hari sambil bermain di taman hijau. Mereka juga selalu berkata “Hasil keringatmu tidak akan berberkah sebelum kamu menikah”. Kata-kata itu menyimpan jutaan makna. Tapi, aku sering menyanggahnya dengan ucapan seperti ini “Sekarang dalam tahap pencarian Bu, doakan saja bu semoga dapat yang shaleh”. Perkantoran ini besok akan mendapatkan lahan baru untuk peluassan jaringan bisnis, artinya aku akan diajak, dan kebetulan sekali di daerah agak dekat dengan tempat kelahiranku.
Sesampainya di sana sempat terpikirkan olehku kalau tempat ini pernah ku kunjungi,”Tapi siapa dan kapan?”,tanyaku penasaran.”Apa betul ini tempatnya Pak?”, tanyaku keheranan pada Bosku. “Iya lah”. Jawabnya singkat. Aku mencoba mengingatnya ,lalu…., ”Iya, aku ingat. Wilayah ini tempat temanku Ulfa.Tapi di mana dia sekarang. Aku mencoba mencari tahu di mana ia sekarang. ku tanya masyarakat setempat tentang keberadaanya. Lalu, ku lihat seorang bapak dan ibu yang sudah sangat tua. Aku menangis melihatnya.Ternyata dia adalah orang tua Ulfa, teman SMA ku yang kecelakaan tujuh tahun yang lalu. Aku menangis melihatnya. Kemudian aku memeluknya. Ternyata dia juga masih mengingatku walaupun dengan pakaian yang mewah dan di lengkapi dengan dasi.”Ulfanya di mana Bu?, tanyaku penasaran. Dia tak menjawab,hanya menunjukkan arah. Lalu ku telusuri arah itu, dan tiba-tiba,…… aku menagis,bukan sekedar tangisan. Bahkan aku langsung berlutut memegangnya,seraya berkata “Aku tak kan rela melihatmu tersiksa begini saja. Maukah kamu menjadi istriku?”,lantunanku sedih.Ulfa hanya bisa menangis melihat ketulusan cintaku.”Tak mungkin kamu mau menikahi wanita lumpu seperti aku,sedangkan kau pria yang normal dan terhormat”,lantunan Ulfa yang di hiasi dengan air mata. “Bagiku itu tak penting, yang penting hatimu yang tak pernah lumpuh semangat hidup dari cobaan Tuhan selama ini. Sebab, aku sadar “Bukan cantik yang menyebabkan cinta, akan tetapi cintalah yang menyebabkan cantik dan keselurhan perasaan indah”.
Akhirnya kami menikah. kebahagiaan menyertai kami. Semua pihak kelurgaku sangat bahagia, terlebih lagi kedua orang tuaku. Di sinilah kenikmtan cinta yang hakiki. Semoga Tuhan mengeretkan cinta kami ,hingga ajalkan kan “Berkata….”


Terinspirasi Dari Sang Mantan Ulfah Ariany... 2006

NB: Nominasi 10 Cerpen Terbaik Tingkat SMA-SMK-MA Se-Yogyakarta 2009.





Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking