Perjuangan
Cinta Yang Harus Tetap diperjuangkan...
………,Setelah
itu, apa yang aku
akan katakan pada bibir yang terjajah ini, jika hati terkadang berbicara tak
searah dengan lisan ini?
Dulu,aku sempat Depresi menghadapi kenyaataan cinta
dalam hidup ku ini.yaa, bagaimana tidak jika orang yang kucintai selama ini,
perasaanku hanya ku simpan untuknya tak bisa menerimaku dengan tulus hati. Dari
situ aku bercermin akan sikapku yang belum sempurna ini.Aku memang harus lebih
banyak belajar lagi memperbaiki sikap, atau juga pilihanku masih kurang tepat.
Akan tetapi selama itu aku merasa, kalau aku bukan Tipe orang yang pembagi
cinta kepada lawan jenis,cukup mengatakan “Aku cinta kamu”.Mungkin itu sudah
sangat memuasakan bagiku, dan untuk melanjutkannya kayaknya aku masih kurang
mampu.
Waktu itu, aku
sangat berani bersumpah, menyumpai diri ini sendiri untuk tidak menjalin cinta
kepada lawan jenis lagi. Entah kenapa aku ini. Dan aku siap menerima resiko
yang ada nantinya.
Tapi tunggu……entah kenapa cinta ini kembali lagi.
Di pertengahan februari
2006 aku mengenal teman cewek di sekolahku. Ku kenal dia bukan dari Hp, bukan
pula dari kontak jodoh yang sering ada di lembaran koran atau majalah, bukan
pula dari cafee. Sebut saja dia Ulfa. orangnya manis, pintar dan berakhlak,
belum lagi sikap malunya yang membuatku ingin mengetahui dia lebih lanjut. Ku
kenal di karena waktu itu aku di tunjuk oleh guruku mengikuti Olimpiade
Matematika se-Provinsi. Kebutulan pasanganku waktu itu dia, Ulfa. Belum sempat
ada obrolan panjang di antara kami. Paling hanya ada obrolan seputar soal di
Olimpiade nanti.
Sudah dua minggu
kami latihan bersama. kami yakin bisa mendapat nomor di ajang itu nanti. “Fa,
sejak kapan kamu ikut Olimpiade ini?”,tanyaku yang ingin mendinginkan suasana.
“Baru kali ini”, jawabnya singkat. Berbicara masalah siakapnya, akau belum
terlalu faham, tapi sejauh ini aku bisa mengatakan kalau orangnya agak sedikit
supel, tapi asik. Pandai, jenius.
Tak terasa sore
sudah berbicara, aku dan dia pulang tanpa ada diskusi lagi. Sesampainya di
kamar,aku merasa bingung akan sikapnya yang supel itu. Tapi aku tak begitu
menyerah saja untuk menghapadinya.
Bumi terus
memutari Matahari, bayang-bayang mimpi indah masih merasukiku, ada banyak
cerita diakhir pekan ini, dan tak terasa tibalah saatnya ajang yang menarik
itu. Aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ada sedikit yang
berbeda di pagi ini. Yah sepatu baru. Sepatu baru ini hadiah dari kawanku yang
sekilah di Negeri kanguru. Walaupun sedikit norak, tapi tak apalah untuk
menghargai pemberian sahabat dekaku ini.aku sudah berdiri di depan pintu,
menunggu bapak menggoncengku dengan sepeda ontelnya. Tak alama kemudian aku
bersalaman dengan ibu dan adikku, memohon doa darinya. “Assalamu alaikum Bu”.
Akupun berangkat ke sekolah dengan jutaan harapan. Tak lama kemudian akupun
sampai di depan gerbang sekolah. Suasana sepi. Dedaunan masih berserakn
disekitar sekolah. Tiba-tiba pak Edi lewat di garis bola mataku sekitar dua
puluh meter, ”Pak, Ulfah sudah datang,?”,tanyaku. Pak Edi hanya terdiam
membisu. Belum menjawab pertanyaanku. Aku bingung. Tak disangka Pak Edi
menangis. Mengajakku dududk sejenak dekat kolam ikan hias. “ Ada apa dengan
Bapak, Kok menangis sich pak?”, tanyaku peanasaran sambil memerbaiki lengan
bajuku. Pak Edy masih terdiam. Masih mengusap air matanya dengan sapu tanagn
merahnya. Bersamaan aku bersin, Pak Edy pun berkata dengan suaranya yang
menyedihlkan, “Ulfa masuk Rumah sakit nak, kemarin dia kecelakaan”. Aku tak
bisa berkata banyak, hanya air mata yang menemaniku di pagi itu. rasanya tubuh
baru saja dipenggal hidup-hidup. Susuah untuk bergerak dan berkata-kata.Aku
seakan tak percaya dengan semua itu. Pak Edi hanya bisa melihatku saja,tak ada
satu kata sambungan untukku.
Siang harinya aku
ke Rumah sakit bersama kedua Orang tuaku. Ku lihat tubuh Ulfa terbaring lemas
di atas kasur dan di dampingi oleh kedua orang tuanya yang di hiasi dengan
tangisan pilu juga.”Selamat siang Bu, Pak”,kataku yang berada di depan
pintu.”Silahkan masuk Nak”,lanjut ibu Ulfa. “Aku teman Olimpiadenya Ulfa Bu,aku
juga turut berduka cita atas musibah ini”.Belum sempat ibu ulfa menanggapi
pembicaraanku,tiba-tiba seorang Dokter bertkaca mata masuk menghampiri kami
sambil membawa selembar kertas.”Kami dari tim Rumah sakit sudah sangat berusaha
dengan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan anak bapak,tapi Tuhan berkata
lain. kedua kaki anak bapak tak bisa kami selamatkan dengan sempurna”,jelas
Dokter itu. “Maksudnya?”Tanya Ibu Ulfa penasaran. “Anak ibu di nyatakan lumpuh
seumur hidup. kerena kecelakaan yang menimpahnya kemarin sangat parah sekali.
Sekali lagi kami mohon maaf”,lanjut Dokter itu. Tiba-tiba Ibu Ulfa jatuh
pingsan. Sulit sekali rasanya mengambil nafas waktu itu. Aku hanya bisa terdiam
saja, tak ada kata yang keluar dariku. Sementara ayah Ulfa hanya bisa pasrah dan
menggendong kembali sang istri.
Ulfa juga hanya
bisa menangis dan meratapi nasibnya yang malang itu. Lalu kudekati dia.”Ulfa
tak usah sedih, mungkin ini yang terbaik bagi ulfa dari Tuhan”. Dia masih
menangis dan menangis. Lalu aku berpamitan. Meninggalkannnya dalam keadaan
kesedihan. Meninggalkannnya, tapi bukan untuk selamanya.
Tujuh tahun kemuduian……
Sekarang aku sudah
kerja di industri minyak,jabatanku lumayan tinggi,yaitu di bagian
Marketing. Hijrah ke Jakarta memang tergantung dari nasib baik atau buruk. Tak
banyak orang yang hijrah ke Jakarta untuk meraih kesuksesan namun akhirnya
hidupnya masih terlilit sewa kontrakan, tak banayk pula yang Hijrah ke kota
yang terjuluki “Lebih kejam dari ibu tiri’ ini meraih kesuksesannnya di Kota
ini. Mungkin aku termasuk pada golongan yang kedua ini. Aku juga tak menyangka
bisa bekerja di tempat yang sangat diimpikan banyak orang ini. Hanya berbekal
Sarjana Ekonomi dari Universitas Hasanuddin Makassar, aku langsung bisa
diposisikan di tempat ini.ini sebuah Anugerah Allah yang Maha kuasa. Kejadian
tujuh tahun yang lalu itu sudah terlupakan di pita otakku. Tapi terkadang pula
sejenak aku mengingatnya. Terkadang aku bertanya, “Apakah dia masih terebaring
lemas?”. Yang jelasnya Doaku tetap ada untuknnya. Orang tuaku menyuruhku untuk
segera menikah,melihat umurku yang semakin matang saja. Belum lagi orang tuaku
sudah iri melihat saudara-saudaranya yang sudah memangku cucu-cucunya di sore
hari sambil bermain di taman hijau. Mereka juga selalu berkata “Hasil
keringatmu tidak akan berberkah sebelum kamu menikah”. Kata-kata itu menyimpan
jutaan makna. Tapi, aku sering menyanggahnya dengan ucapan seperti ini
“Sekarang dalam tahap pencarian Bu, doakan saja bu semoga dapat yang shaleh”.
Perkantoran ini besok akan mendapatkan lahan baru untuk peluassan jaringan
bisnis, artinya aku akan diajak, dan kebetulan sekali di daerah agak dekat
dengan tempat kelahiranku.
Sesampainya di sana sempat terpikirkan olehku kalau
tempat ini pernah ku kunjungi,”Tapi siapa dan kapan?”,tanyaku penasaran.”Apa
betul ini tempatnya Pak?”, tanyaku keheranan pada Bosku. “Iya lah”. Jawabnya singkat.
Aku mencoba mengingatnya ,lalu…., ”Iya, aku ingat. Wilayah ini tempat temanku
Ulfa.Tapi di mana dia sekarang. Aku mencoba mencari tahu di mana ia sekarang.
ku tanya masyarakat setempat tentang keberadaanya. Lalu, ku lihat seorang bapak
dan ibu yang sudah sangat tua. Aku menangis melihatnya.Ternyata dia adalah
orang tua Ulfa, teman SMA ku yang kecelakaan tujuh tahun yang lalu. Aku
menangis melihatnya. Kemudian aku memeluknya. Ternyata dia juga masih
mengingatku walaupun dengan pakaian yang mewah dan di lengkapi dengan
dasi.”Ulfanya di mana Bu?, tanyaku penasaran. Dia tak menjawab,hanya
menunjukkan arah. Lalu ku telusuri arah itu, dan tiba-tiba,…… aku menagis,bukan
sekedar tangisan. Bahkan aku langsung berlutut memegangnya,seraya berkata “Aku
tak kan rela melihatmu tersiksa begini saja. Maukah kamu menjadi
istriku?”,lantunanku sedih.Ulfa hanya bisa menangis melihat ketulusan
cintaku.”Tak mungkin kamu mau menikahi wanita lumpu seperti aku,sedangkan kau
pria yang normal dan terhormat”,lantunan Ulfa yang di hiasi dengan air mata.
“Bagiku itu tak penting, yang penting hatimu yang tak pernah lumpuh semangat
hidup dari cobaan Tuhan selama ini. Sebab, aku sadar “Bukan cantik yang
menyebabkan cinta, akan tetapi cintalah yang menyebabkan cantik dan keselurhan
perasaan indah”.
Akhirnya kami
menikah. kebahagiaan menyertai kami. Semua pihak kelurgaku sangat bahagia,
terlebih lagi kedua orang tuaku. Di sinilah kenikmtan cinta yang hakiki. Semoga
Tuhan mengeretkan cinta kami ,hingga ajalkan kan “Berkata….”
Terinspirasi
Dari Sang Mantan Ulfah Ariany... 2006
NB: Nominasi 10 Cerpen Terbaik Tingkat SMA-SMK-MA
Se-Yogyakarta 2009.

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking