Sekuntum
kisah bernuansa perjuangan hidup.....
"Jadi
terkadang sikap menerima apa adanya itu memberikan kepuasan terbesar dalam diri
seseorang, bukan hanya materi yang bisa
buat orang tersenyum. Banyak orang kaya, punya tabungan bermiliyar-miliyar tapi
sayangnya hanya jagung dan singkong yang ia bisa makan. Tidak banyak pula orang
kaya yang hidupnya selalu di liputi pertengkaran dalam rumah tangganya, begitu
pula tak banyak diantara mereka yang kaya materi tapi di mata masyarakat mereka
kurang di pandang. Namun, lain halnya jika sikap kepuasan hati yang di miliki
oleh orang yang berokonomi lemah, hidup yang mereka hadapi begitu mulus, tak
ada hambatan. Jika ada sesuatu hal yang menarik yang mereka temui mereka
langsung tersenyum. Jadi intinya, bagaimana kita hidup, sikap menerima apa
adanya harus kita tanamkan".
"Yaa
Tuhan…,Adnan!!!", teriak ibu Adnan dari dapur. Pagi ini
Adnan baru saja menulis beberapa tumpuan kata pikirannya. Memang tiap
hari Adnan selalu mewajibkan dirinya untuk menulis. Aku pernah Tanya padanya, "Buat apa sih
kamu menulis?" tapi sebelum dia menjawab
pertanyaanku, dia malah balas bertanya "Buat apa kamu bernafas?. Aku
hanya diam. Menatapku dengan pandangan santai. "Bagiku, setiap hembusan
nafas yang aku keluarkan adalah sejarah, setiap kata yang aku tuliskan hari ini
akan menjadi sejarah". Jawabnya singkat. ia lalu meninggalkannku, menyuruh
aku tuk merenungi. Adnan memang hoby menulis, pokoknya dia jadikan sebagian
dari hidupnya. Walaupun keterbatasan materi yang sudah bertahun-tahun
bersamanya tapi semangatnya tak pernah pupus. Kemudian Adnan buru-buru bangkit
dari pulpen hitam dan buku tulisnya. "Iya bu, tunggu sebentar."
Sahut Adnan keheranan. " Ada apa bu?", Tanya
Adnan yang baru masuk dari mulut pintu dapur. "(Bingung dan
heran) yang bawa beras sekarung ini siapa yah Nak? "(Heran) aku
tidak tahu juga Bu". Lanjut Adnan.
Pagi ini entah Barokah apa yang
menghujani keluarga ini. Rumah yang sangat sederhana, yang tidak ada penerangan
lampu listrik tiba-tiba mendapat sekarung beras yang tak di tahu dari mana
asalnya. "Ohhhh,
mungkin itu dari juragan," lanjut Adnan yang memotong suasana heran. "Ah.., ga mungkilah Nak, kalau juragan mau ngasi itu biasanya
bulan oktober, nah sekarang kan bulan maret" jawab Ibu Adnan seraya
memegang karung beras yng masih terikat rapi itu. Tiba-tiba
terdengar suara ketukan pintu dari luar "Tok-tok,tok!!!, bu Ratna!!!" " Nan ada
orang tuh, cepat buka pintunya" perintah Ibunya. Adnan terdiam
sejenak,mencoba menintip-ngintip sejenak. "Cepat!!!!,"
lanjut Ibu Adnan lagi.
Adnan bukannya malas, tapi dari
suara orang di balik pintu itu kayaknya bukan orang biasa. Suaranya agak serat,
seakan orang yang ingin minta segelas air di siang hari. Belum lagi pancaran
sinar matahari yang menerobos masuk lewat dinding rumah yang terbuat dari
bambu, Adnan semakin penasaran saja. Sekarang Adnan tinggal membuka pintu, tapi
dia ragu. Menoleh ke belakang, melihat ibunya yang mengintip-ngintip juga. "Ayo buka,"
kata Ibu Adnan dengan gerakan mulut sambil memberikan isyarat lewat tangan
kanannya. Adnan terdiam sejenak. Manusia di luar itu semakin lambat
memanggil nama Bu Ratna."Bu Ratna!!!!". Dengan bekal kata
Bismillahirrahmanirrahim di siang hari, akhirnya Adnan membuka pintu,
"Srettttt".
Betapa kagetnya Adnan melihat
makhluk yang membuatnya penasaran dan sempat takut beberapa menit yang lalu.
Adnan girangnya bukan main. Melompat-lompat gembira siapa yang ada di hadapanya
sekarang. Bu Ratna mencoba tuk mengenali orang yang baru datang itu. Adnan
belum memeluknya. Masih di liputi kegembiraan yang bukan main. Masih belum
beraksi. "Ayah!!!," serentak mereka berteriak, berusaha tuk
memeluknya, mendapatkan posisi yang yang stabil, memeluk hangatnya kerinduan
kepada sang Ayah. Indahnya pertemuan ketiga hati ini di siang hari. Penuh
dengan senyuman.
Ayah Adnan baru saja datang dari
Batam. Setelah sekian lama berkelahi dengan panasnya matahari dan kotornya debu
di tanah yang kaya itu, akhirnya siang ini akan menjadi saksi bertemunya tiga
insan yang saling merindukan. Ayah Adnan atau pak Sugi memang seringkali pulang
tanpa memberi kabar terlebih dahulu, dan ini adalah kejutan yang lima kalinya. "Gimana kerjaanya di sana Pak?" Tanya sang Istri lembut. "(Terdiam
sejenak) Alhamdulillah masih lancar" jawab pak Sugi sambil memegang
kerudung putih sang Istri.
Pak sugi melihat keadaan rumahnya
dengan raut muka sedih. Atap-atap rumah sudah bocor, maka jika hujan sudah
reda, kerjaan mengepel sudah menjadi agenda rutin. Belum lagi dinding rumah
sudah mulai termakan usia. "Maafkan aku Bu, Nak, aku tak
bisa membahagiakan kalian. Ayah janji suatu saat nanti kita akn tidur nyaman,
dinding rumah akan ayah ganti dengan yang baru". Kata Pak Sugi dengan
suara kalem, namun penuh dengan keinginan kuat.
"Ayah,
Adnan sudah banggga ko' hidup begini.kita sudah mendingan hidup kaya gini, dari
pada orang-orang yang hidip di bawah jembatan. Dan yang aku lebih bangga lagi
kekeluargaan kita nyaman sekali. Di bandingkan banyak orang kaya di luar sana ,
tapi kekeluargaan mereka seringkali rebut." Pinta Adnan panjang lebar
seakan baru saja memberi semangat baru untuk keluarganya.
Adnan semakin di peluk erat oleh
Ayahnya. "Ayah bangga punya anak kaya kamu." "Ko' kaya aku
sih??", Tanya Adnan. "Lho.. terus harus
gimana?", Tanya Ayahnya penasaran.
"Bukan kaya aku, tapi seperti ini." Lanjut Adnan yang
agak membingungkan kedua orang tuanya. "Kamu makin pintar
saja, hehehehe!!" Ayah Adnan baru mengerti.
Sekarang hari kamis, Adnan tidak berangkat ke Madrasah, katanya
hari tenang sebelum, ujian semester genap tiba, dan hari ini ia tak menduga
kalau kejutan hati akan datang. Ibunya pun
sama, biasanya setiap hari kamis ia keliling kampung menjajakan jasa cucinya.
Biasanya ia bisa dapat sepuluh ribu hingga dua puluh ribu. Tapi hari ini lain,
tangannya lecet dan perih. Namun keajaiban datang bersamaan. Tiba-tiba
ada beras satu karung terikat rapi dan tak kala bahagianya sang suami tiba-tiba
datang. Alangkah senangnaya. "Oh..iya, besok pagi kita ke
makam yah!!!", kata Pak Sugi sambil membawa tasnya menuju ke kamar. "Aduh.. Pak,
kemarin aku dari makamnya Paman terus aku ga tahu nisanya miring gitu,"
sambung Adnan dengan nada kecewa."Paling tertiup angin," sambung
Ibunya. "Yah..
besok kita ziarah sekalian memperbaikinya," lanjut Ayahnya santai.
Adnan anak bungsu. Tiga tahun
kemarin pamannya di panggil dengan cepat oleh Allah. Ajalnya di jemput
ketika ia ikut pergi menerima BLT di lapangan. Nyawanya tak bisa terselamatkan
kerena kekurangan oksigen akibat terinjak-injak oleh massa yang berjumlah
banyak. Keluarganya sangat sedih sekali ketika mendengar kabar naas itu,
termasuk Ayah Adnan yang satu darah. Belum lagi kekecewaanya terhadap
pemerintah pemerintah yang tidak bisa mengatur dengan baik sistem pembagian itu.
Jarum pendek jam dinding mendarat di
angka dua belas pas. Rasa tawa dan senang sudah hanpir redup. Bu Ratna masuk ke
dapur, mengambilkan segelas air untuk sang suami. Sementara Adnan sibuk
merapikan pakaian ayahnya yang baru di bawanya. Berselang beberapa detik
terdengar suara Adzan Dzuhur berkumandang dengan merdunya. Indah sekali. "Pak, SPP
Adnan bulan kemarin sama bulan ini belum di bayar. "(Menatap
sejenak) sabarlah Nak. Ayah juga merasa malu menjadi seorang Ayah yang tak bisa
membahagiakan anaknya." Lanjut Pak Sugi dengan nada agak sedih.
Sebenarnya, bukan karena pak Sugi tak punya uang. Tapi ketika dalam perjalanan
menuju ke rumahnya ia melihat sebuah keluarga yang menurutnya hidupnya sangat
menyedihkan sekali. Bayangkan saja, kedua orang tua yang mempunyai anak lima
orang harus hidup di bawah jembatan panjang. Sampai-sampai Pak Sugi meneteskan
air mata melihat keluarga itu, dan merasa bersukur masih bisa hidup lebih
layak, walaupun tidak begitu juga. Jadi tinggallah selembar uang seratus ribu
yang menemani perjalanannya, hingga sampai ke rumah. "Sudah lah pak kalau memang niat bapak tulus tuk membantunya, maka
balasan pasti akan datang, dan lagian juga ibu masih punya tabungan ko',"
pinta Bu Ratna yang berusaha membawa jiwa sang suami ke alam yang penuh rasa
sabar.Adnan hanya bisa mendengar dengan khusuk rintian kedua orang tuanaya
dengan santai.
Seminggu kemudian
Pagi yang sangat cerah. Puluhan
burung gereja sedang asik bermain di di udara sana . Embun pagi masih pula
malas untuk beranjak dari kediamannya. Tak ada makanan special di pagi ini.
Hanya ada semangkuk sup dan tempe hangat yang menemani sarapan mereka. Setelah
sarapan Adnan langsung berangkat ke sekolah di temani oleh sepasang sepatu yang
sudah lanjut usia. Adnan memang bukan anak gengsian. Apa yang ia dapatkan, itu
yang ia jalankan. Di sekolah ia terkenal sopan, pintar dan rajin.
Teman-temannya selalu segan padanya, walaupun masih duduk di bangku kelas satu
Madrasah aliyah cita-citanya sudah bisa di banggakan oleh guru dan orang
tuanya. Sementara pak sugi pagi ini akan mengerjakan atap yang bocor. Peralatan
sudah siap.
"Bu, Adnan pulang sekolah jam berapa?" Tanya Pak Sugi
sambil menaiki tangga menuju atap rumah. "Ya paling jam
satu Pak." Akhirnya tak ada lagi obrolan di
antara mereka, karena Bu ratna juga sedang sibuk menimba air dari sumur
yang usianya hanya beda dua hari dengan usianya sendiri.
Siang sudah menyapa. Matahari
semakin gagah memancarkan sinarnya. Mungkin tinggal dua atau tiga genteng lagi
yang kan di pasang lalu selesai."Pak, makan siang sudah siap.” Kata Bu
Ratna singkat. "Iya, tunggu sebentar. Tapi,
anak kita ko belum pulang Bu.'"
"Ah paling sebentar lagi datang." Jawab Bu Ratna
santai.
Akhirnya Pak Sugi pun turun, bersama
keringatnya. Lalu bergegas mandi. Sementara Bu Ratna sudah duduk lesehan,
menunggu sang suami datang dan anaknya tuk makan bersama. Jam sudah bersuara
pada pukul dua siang. Adnan tak kunjung pulang juga. Orang tua Adnan sangat
khawatir. Beginilah perasaan orang tua yang diberikan kepada kedua insan ini.
Sangat beda dengan kasih sayang seorang pacar. Nasi hangat yang di masak oleh
Bu ratna lewat tungku, mulai dingin, begitu pula dengan lauk yang lainnya. Alis
pak sugi agak bengkok, lain halnya dengan wajah bu ratna yang kedua belahan
pipinya sudah digenangi oleh kesedihan.
“Ibu tunggu di sini saja, biar ayah yang mencarinya,” sahut pak
sugi, sambil bangkit dari lesehannya dan ditemani oleh topi coklatnya. Tak
ada kata yang terlontar dari belahan bibir bu Ratna, di dalam hatinya pasti hanya
doa yang ia panajtkan kepada anaknya, dan masih besedih. Setelah sekitar sepulu meter pak sugi berjalan, bukan sekedar berjalan, ada
jutaan perasangka yang sedang menghantui dirinya, dan akan ada satu perasangka
yang akan terjadi. Semakin lama pak
sugi berjalan, semakin cepat langkahnya untuk keluar dari jalan setapak.
Tiba-tiba ia berhenti sejenak. Memperhatikan keramaian dari depan sana . Jalan
yang menghubungkan antra jalan poros dengan jalan masuk perkampungan. Kemudian
seseorang yang mengenal pak sugi menghampirinya. Ternyata dia adalah Jarot,
petugas keamanan desa. Sepertinya pak sugi sudah bisa menebak skanario Allah di
siang hari ini. Belum sempat jarot melaporkan berita duka itu, pak sugi
langsung berlari menuju ke keramaian itu, melewati jalan setapak yang
dikelilinggi pohon-pohon mangga, dan jalanan yang masih berpasir kuning basah.
Semua pandangan dikerumunan, langsung tertuju pada pak sugi yang berlari yang
ditemani oleh tangisannya. Sesampainya di sana , pak sugi hanya bisa pasrah
melihat keadaan anaknya Adnan yang tubuhnya lemas tertabrak truk pengagkut
pupuk. Namun masih ada nafas yang berjalan diantar mulut dan tenggorekan adnan,
itu artinya masih ada harapan untuk hidup. Masyarakat hanya bisa terdiam lemas.
Adanan masih bisa bicrara, namun sepatah kata saja sangat sulit di ucapkan.
Tak
lama kemudian akhirnya adanan dibawah ke rumah sakit terdekat, setelah beberapa
waktu tadi menunggu mobil pak lurah.
Di rumah sakit adnan masih terbaring
lemas, setelah dua jam lamanya dokter dan para perawat lainnya membatu sekuat tenaga
untuk bisa menyelamatkan nyawa anak berbakti ini. “Bapak harus pasrah dan
tawakkal saja, anak bapak divonis lumpuh seumur hidup dan buta.” Kata Dokter
dengan mata berkaca-kaca. Sulit untuk dibahasakan, pak sugi bukan main
kagetnya, hingga sampai ia jatuh pingsan. Sungguh skanrio Allah yang begitu
dahsyat namun penuh makna.
Dua
tahun kemudian….
Adnan kini sudah mulai pandai
berjalan dengan kursi rodanya, walaupun sesekali sang ayah atau ibunya
membantunya. Namun ada satu hal yang mengherankan dari adnan, walaupun dua
tahun yang lalu ia telah divonis oleh dokter buta, namun kegemarannya menulis
tak pupus juga. Sesekali teman akrabnya syarif pergi mengambil tulisannya untuk
diterbitkan di majalah-majalah kota atau koran kota , dan pastinya tulisannya
selalu ditunggu-tunggu dan digemari. Ini sebuah pelajaran besar bagi kita.
Adnan memang lumpuh dan buta, namun semangat dan kreativitasnya jangan
dikatakan lumpuh. Sebab, baginya menulis adalah mengukir sejarah.
Teruslah
berkarya Adnan temanku.
Di
mulai di kota Jogja bulan july 2009, di akhiri di Makassar (Takkalasi), 20 January
2010
RIWAYAT
PENULIS
Nama kecilnya ketika SD Lalif,
filosofinya kurang jelas juga. Masuk jenjang pendidikan MTS di Pon-Pes
“Al-Ikhlas Ad-Dary” DDI Takkalsi, Barru, namanya berubah dengan “Syarief”.
Tahun 2006, hijrah ke Yogyakarta melanjutkan jenjang pendidikan MA di Pondok
Pesantren “Ali Maksum” krapyak, namanya berubah drastis menjadi “Bugis”.
filosofinya mudah sekali. karena dari ratusan santri yang bersekolah di Madrasah itu cuma dia yang berasal dari seberang Sulawesi, Makassar dan
berdarah bugis. sebut saja Muhammad Syarief
Dzul Fahmi Abdullah, putra asli sulewesi selatan kelahiran 15 Desember
1990 silam.
Anak ke tujuh dari sebelas
bersaudara ini, menemukan hobi menulisnya ketika umurnya menginjak 16 tahun.
yang baginya menulis itu “Sejarah”. “Menulislah engkau jika engkau tak mau
dilupakan oleh sejarah”, itulah prinsip hidupnya.
Syarief yang kini masih tercatat
sebagai santri di salah satu Pondok Pesantren Qur’an “Al-Imam Ashim” di Tidung,
Makassar ini masih banyak menghabiskan waktunya mengkaji Qur’an dan menulis
catatan harian.
baginya dimanapun kita berada kreativitas harus tetaap ada.
untuk
lebih lanjut dia terkadang ada di: Syndibed@yahoo.co.id
atau
beralamat di:
“Yayasan Al-Imam Ashim
Pondok-Pesantren Tahfidzul Qur’an”
Jl: Tidung Marioli lrg.7 no.11,
kel:Tidung, Kec: Rappocini, Kota Makassar, kode pos 90222
tlp:0411 884906/5062686. a/n: Muh.Syarief.



Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking