Vrydag 05 April 2013

“MENGUKIR SEJARAH”



Sekuntum kisah bernuansa perjuangan hidup.....


"Jadi terkadang sikap menerima apa adanya itu memberikan kepuasan terbesar dalam diri seseorang, bukan hanya materi yang  bisa buat orang tersenyum. Banyak orang kaya, punya tabungan bermiliyar-miliyar tapi sayangnya hanya jagung dan singkong yang ia bisa makan. Tidak banyak pula orang kaya yang hidupnya selalu di liputi pertengkaran dalam rumah tangganya, begitu pula tak banyak diantara mereka yang kaya materi tapi di mata masyarakat mereka kurang di pandang. Namun, lain halnya jika sikap kepuasan hati yang di miliki oleh orang yang berokonomi lemah, hidup yang mereka hadapi begitu mulus, tak ada hambatan. Jika ada sesuatu hal yang menarik yang mereka temui mereka langsung tersenyum. Jadi intinya, bagaimana kita hidup, sikap menerima apa adanya harus kita tanamkan".

"Yaa Tuhan…,Adnan!!!", teriak ibu Adnan dari dapur. Pagi ini Adnan  baru saja menulis beberapa tumpuan kata pikirannya. Memang tiap hari Adnan selalu mewajibkan dirinya untuk menulis. Aku pernah Tanya padanya, "Buat apa sih kamu menulis?" tapi sebelum dia menjawab pertanyaanku, dia malah balas bertanya "Buat apa kamu bernafas?. Aku hanya diam. Menatapku dengan pandangan santai. "Bagiku, setiap hembusan nafas yang aku keluarkan adalah sejarah, setiap kata yang aku tuliskan hari ini akan menjadi sejarah". Jawabnya singkat. ia lalu meninggalkannku, menyuruh aku tuk merenungi. Adnan memang hoby menulis, pokoknya dia jadikan sebagian dari hidupnya. Walaupun keterbatasan materi yang sudah bertahun-tahun bersamanya tapi semangatnya tak pernah pupus. Kemudian Adnan buru-buru bangkit dari pulpen hitam dan buku tulisnya. "Iya bu, tunggu sebentar." Sahut Adnan keheranan. " Ada apa bu?", Tanya Adnan yang baru masuk dari mulut pintu dapur. "(Bingung dan heran) yang bawa beras sekarung ini siapa yah Nak? "(Heran) aku tidak tahu juga Bu". Lanjut Adnan.
Pagi ini entah Barokah apa yang menghujani keluarga ini. Rumah yang sangat sederhana, yang tidak ada penerangan lampu listrik tiba-tiba mendapat sekarung beras yang tak di tahu dari mana asalnya. "Ohhhh, mungkin itu dari juragan," lanjut Adnan yang memotong suasana heran. "Ah.., ga mungkilah Nak, kalau juragan mau ngasi itu biasanya bulan  oktober, nah sekarang kan bulan maret" jawab Ibu Adnan seraya memegang karung beras yng masih terikat rapi itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar "Tok-tok,tok!!!, bu Ratna!!!" " Nan ada orang tuh, cepat buka pintunya" perintah Ibunya. Adnan terdiam sejenak,mencoba menintip-ngintip sejenak. "Cepat!!!!," lanjut Ibu Adnan lagi.
Adnan bukannya malas, tapi dari suara orang di balik pintu itu kayaknya bukan orang biasa. Suaranya agak serat, seakan orang yang ingin minta segelas air di siang hari. Belum lagi pancaran sinar matahari yang menerobos masuk lewat dinding rumah yang terbuat dari bambu, Adnan semakin penasaran saja. Sekarang Adnan tinggal membuka pintu, tapi dia ragu. Menoleh ke belakang, melihat ibunya yang mengintip-ngintip juga. "Ayo buka," kata Ibu Adnan dengan gerakan mulut sambil memberikan isyarat lewat tangan kanannya. Adnan terdiam sejenak. Manusia di luar itu semakin lambat memanggil nama Bu Ratna."Bu Ratna!!!!". Dengan bekal kata Bismillahirrahmanirrahim di siang hari, akhirnya Adnan membuka pintu, "Srettttt".
Betapa kagetnya Adnan melihat makhluk yang membuatnya penasaran dan sempat takut beberapa menit yang lalu. Adnan girangnya bukan main. Melompat-lompat gembira siapa yang ada di hadapanya sekarang. Bu Ratna mencoba tuk mengenali orang yang baru datang itu. Adnan belum memeluknya. Masih di liputi kegembiraan yang bukan main. Masih belum beraksi. "Ayah!!!," serentak mereka berteriak, berusaha tuk memeluknya, mendapatkan posisi yang yang stabil, memeluk hangatnya kerinduan kepada sang Ayah. Indahnya pertemuan ketiga hati ini di siang hari. Penuh dengan senyuman.
Ayah Adnan baru saja datang dari Batam. Setelah sekian lama berkelahi dengan panasnya matahari dan kotornya debu di tanah yang kaya itu, akhirnya siang ini akan menjadi saksi bertemunya tiga insan yang saling merindukan. Ayah Adnan atau pak Sugi memang seringkali pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu, dan ini adalah kejutan yang lima kalinya. "Gimana kerjaanya di sana Pak?" Tanya sang Istri lembut. "(Terdiam sejenak) Alhamdulillah masih lancar" jawab pak Sugi sambil memegang kerudung putih sang Istri.
Pak sugi melihat keadaan rumahnya dengan raut muka sedih. Atap-atap rumah sudah bocor, maka jika hujan sudah reda, kerjaan mengepel sudah menjadi agenda rutin. Belum lagi dinding rumah sudah mulai termakan usia. "Maafkan aku Bu, Nak, aku tak bisa membahagiakan kalian. Ayah janji suatu saat nanti kita akn tidur nyaman, dinding rumah akan ayah ganti dengan yang baru". Kata Pak Sugi dengan suara kalem, namun penuh dengan keinginan kuat.
"Ayah, Adnan sudah banggga ko' hidup begini.kita sudah mendingan hidup kaya gini, dari pada orang-orang yang hidip di bawah jembatan. Dan yang aku lebih bangga lagi kekeluargaan kita nyaman sekali. Di bandingkan banyak orang kaya di luar sana , tapi kekeluargaan mereka seringkali rebut." Pinta Adnan panjang lebar seakan baru saja memberi semangat baru untuk keluarganya.
Adnan semakin di peluk erat oleh Ayahnya. "Ayah bangga punya anak kaya kamu." "Ko' kaya aku sih??", Tanya Adnan. "Lho.. terus harus gimana?", Tanya Ayahnya penasaran.
"Bukan kaya aku, tapi seperti ini." Lanjut Adnan yang agak membingungkan kedua orang tuanya. "Kamu makin pintar saja, hehehehe!!" Ayah Adnan baru mengerti.
Sekarang hari kamis, Adnan tidak berangkat ke Madrasah, katanya hari tenang sebelum, ujian semester genap tiba, dan hari ini ia tak menduga kalau kejutan hati akan datang. Ibunya pun sama, biasanya setiap hari kamis ia keliling kampung menjajakan jasa cucinya. Biasanya ia bisa dapat sepuluh ribu hingga dua puluh ribu. Tapi hari ini lain, tangannya lecet dan perih. Namun keajaiban datang bersamaan.  Tiba-tiba ada beras satu karung terikat rapi dan tak kala bahagianya sang suami tiba-tiba datang. Alangkah senangnaya. "Oh..iya, besok pagi kita ke makam yah!!!", kata Pak Sugi sambil membawa tasnya menuju ke kamar. "Aduh.. Pak, kemarin aku dari makamnya Paman terus aku ga tahu nisanya miring gitu," sambung Adnan dengan nada kecewa."Paling tertiup angin," sambung Ibunya. "Yah.. besok kita ziarah sekalian memperbaikinya," lanjut Ayahnya santai.
Adnan anak bungsu. Tiga tahun kemarin pamannya di panggil dengan  cepat oleh Allah. Ajalnya di jemput ketika ia ikut pergi menerima BLT di lapangan. Nyawanya tak bisa terselamatkan kerena kekurangan oksigen akibat terinjak-injak oleh massa yang berjumlah banyak. Keluarganya  sangat sedih sekali ketika mendengar kabar naas itu, termasuk Ayah Adnan yang satu darah. Belum lagi kekecewaanya terhadap pemerintah pemerintah yang tidak bisa mengatur dengan baik sistem pembagian itu.
Jarum pendek jam dinding mendarat di angka dua belas pas. Rasa tawa dan senang sudah hanpir redup. Bu Ratna masuk ke dapur, mengambilkan segelas air untuk sang suami. Sementara Adnan sibuk merapikan pakaian ayahnya yang baru di bawanya. Berselang beberapa detik terdengar suara Adzan Dzuhur berkumandang dengan merdunya. Indah sekali. "Pak, SPP Adnan bulan kemarin sama bulan ini belum di bayar. "(Menatap sejenak) sabarlah Nak. Ayah juga merasa malu menjadi seorang Ayah yang tak bisa membahagiakan anaknya." Lanjut Pak Sugi dengan nada agak sedih. Sebenarnya, bukan karena pak Sugi tak punya uang. Tapi ketika dalam perjalanan menuju ke rumahnya ia melihat sebuah keluarga yang menurutnya hidupnya sangat menyedihkan sekali. Bayangkan saja, kedua orang tua yang mempunyai anak lima orang harus hidup di bawah jembatan panjang. Sampai-sampai Pak Sugi meneteskan air mata melihat keluarga itu, dan merasa bersukur masih bisa hidup lebih layak, walaupun tidak begitu juga. Jadi tinggallah selembar uang seratus ribu yang menemani perjalanannya, hingga sampai ke rumah. "Sudah lah pak kalau memang niat bapak tulus tuk membantunya, maka balasan pasti akan datang, dan lagian juga ibu masih punya tabungan ko'," pinta Bu Ratna yang berusaha membawa jiwa sang suami ke alam yang penuh rasa sabar.Adnan hanya bisa mendengar dengan khusuk rintian kedua orang tuanaya dengan santai.

Seminggu kemudian

Pagi yang sangat cerah. Puluhan burung gereja sedang asik bermain di di udara sana . Embun pagi masih pula malas untuk beranjak dari kediamannya. Tak ada makanan special di pagi ini. Hanya ada semangkuk sup dan tempe hangat yang menemani sarapan mereka. Setelah sarapan Adnan langsung berangkat ke sekolah di temani oleh sepasang sepatu yang sudah lanjut usia. Adnan memang bukan anak gengsian. Apa yang ia dapatkan, itu yang ia jalankan. Di sekolah ia terkenal sopan, pintar dan rajin. Teman-temannya selalu segan padanya, walaupun masih duduk di bangku kelas satu Madrasah aliyah cita-citanya sudah bisa di banggakan oleh guru dan orang tuanya. Sementara pak sugi pagi ini akan mengerjakan atap yang bocor. Peralatan sudah siap.
"Bu, Adnan pulang sekolah jam berapa?" Tanya Pak Sugi sambil menaiki tangga menuju atap rumah. "Ya paling jam satu Pak." Akhirnya tak ada lagi obrolan di antara mereka, karena Bu ratna juga sedang sibuk menimba air  dari sumur yang usianya hanya beda dua hari dengan usianya sendiri.
Siang sudah menyapa. Matahari semakin gagah memancarkan sinarnya. Mungkin tinggal dua atau tiga genteng lagi yang kan di pasang lalu selesai."Pak, makan siang sudah siap.” Kata Bu Ratna singkat. "Iya, tunggu sebentar. Tapi, anak kita ko belum pulang Bu.'"
"Ah paling sebentar lagi datang." Jawab Bu Ratna santai.
Akhirnya Pak Sugi pun turun, bersama keringatnya. Lalu bergegas mandi. Sementara Bu Ratna sudah duduk lesehan, menunggu sang suami datang dan anaknya tuk makan bersama. Jam sudah bersuara pada pukul dua siang. Adnan tak kunjung pulang juga. Orang tua Adnan sangat khawatir. Beginilah perasaan orang tua yang diberikan kepada kedua insan ini. Sangat beda dengan kasih sayang seorang pacar. Nasi hangat yang di masak oleh Bu ratna lewat tungku, mulai dingin, begitu pula dengan lauk yang lainnya. Alis pak sugi agak bengkok, lain halnya dengan wajah bu ratna yang kedua belahan pipinya sudah digenangi oleh kesedihan.
“Ibu tunggu di sini saja, biar ayah yang mencarinya,” sahut pak sugi, sambil bangkit dari lesehannya dan ditemani oleh topi coklatnya. Tak ada kata yang terlontar dari belahan bibir bu Ratna, di dalam hatinya pasti hanya doa yang ia panajtkan kepada anaknya, dan masih besedih. Setelah sekitar sepulu meter pak sugi berjalan, bukan sekedar berjalan, ada jutaan perasangka yang sedang menghantui dirinya, dan akan ada satu perasangka yang akan terjadi. Semakin lama pak sugi berjalan, semakin cepat langkahnya untuk keluar dari jalan setapak. Tiba-tiba ia berhenti sejenak. Memperhatikan keramaian dari depan sana . Jalan yang menghubungkan antra jalan poros dengan jalan masuk perkampungan. Kemudian seseorang yang mengenal pak sugi menghampirinya. Ternyata dia adalah Jarot, petugas keamanan desa. Sepertinya pak sugi sudah bisa menebak skanario Allah di siang hari ini. Belum sempat jarot melaporkan berita duka itu, pak sugi langsung berlari menuju ke keramaian itu, melewati jalan setapak yang dikelilinggi pohon-pohon mangga, dan jalanan yang masih berpasir kuning basah. Semua pandangan dikerumunan, langsung tertuju pada pak sugi yang berlari yang ditemani oleh tangisannya. Sesampainya di sana , pak sugi hanya bisa pasrah melihat keadaan anaknya Adnan yang tubuhnya lemas tertabrak truk pengagkut pupuk. Namun masih ada nafas yang berjalan diantar mulut dan tenggorekan adnan, itu artinya masih ada harapan untuk hidup. Masyarakat hanya bisa terdiam lemas. Adanan masih bisa bicrara, namun sepatah kata saja sangat sulit di ucapkan.
Tak lama kemudian akhirnya adanan dibawah ke rumah sakit terdekat, setelah beberapa waktu tadi menunggu mobil pak lurah.
Di rumah sakit adnan masih terbaring lemas, setelah dua jam lamanya dokter dan para perawat lainnya membatu sekuat tenaga untuk bisa menyelamatkan nyawa anak berbakti ini. “Bapak harus pasrah dan tawakkal saja, anak bapak divonis lumpuh seumur hidup dan buta.” Kata Dokter dengan mata berkaca-kaca. Sulit untuk dibahasakan, pak sugi bukan main kagetnya, hingga sampai ia jatuh pingsan. Sungguh skanrio Allah yang begitu dahsyat namun penuh makna.

Dua tahun kemudian….

Adnan kini sudah mulai pandai berjalan dengan kursi rodanya, walaupun sesekali sang ayah atau ibunya membantunya. Namun ada satu hal yang mengherankan dari adnan, walaupun dua tahun yang lalu ia telah divonis oleh dokter buta, namun kegemarannya menulis tak pupus juga. Sesekali teman akrabnya syarif pergi mengambil tulisannya untuk diterbitkan di majalah-majalah kota atau koran kota , dan pastinya tulisannya selalu ditunggu-tunggu dan digemari. Ini sebuah pelajaran besar bagi kita. Adnan memang lumpuh dan buta, namun semangat dan kreativitasnya jangan dikatakan lumpuh. Sebab, baginya menulis adalah mengukir sejarah.

Teruslah berkarya Adnan temanku.

 Di mulai di kota Jogja bulan july 2009, di akhiri di Makassar (Takkalasi), 20 January 2010






RIWAYAT PENULIS

Nama kecilnya ketika SD Lalif, filosofinya kurang jelas juga. Masuk jenjang pendidikan MTS di Pon-Pes “Al-Ikhlas Ad-Dary” DDI Takkalsi, Barru, namanya berubah dengan “Syarief”. Tahun 2006, hijrah ke Yogyakarta melanjutkan jenjang pendidikan MA di Pondok Pesantren “Ali Maksum” krapyak, namanya berubah drastis menjadi “Bugis”. filosofinya mudah sekali. karena dari ratusan santri yang bersekolah di Madrasah itu cuma dia yang berasal dari seberang Sulawesi, Makassar dan berdarah bugis. sebut saja Muhammad Syarief  Dzul Fahmi Abdullah, putra asli sulewesi selatan kelahiran 15 Desember 1990 silam.
Anak ke tujuh dari sebelas bersaudara ini, menemukan hobi menulisnya ketika umurnya menginjak 16 tahun. yang baginya menulis itu “Sejarah”. “Menulislah engkau jika engkau tak mau dilupakan oleh sejarah”, itulah prinsip hidupnya.
Syarief yang kini masih tercatat sebagai santri di salah satu Pondok Pesantren Qur’an “Al-Imam Ashim” di Tidung, Makassar ini masih banyak menghabiskan waktunya mengkaji Qur’an dan menulis catatan harian.
baginya dimanapun kita berada kreativitas harus tetaap ada.


untuk lebih lanjut dia terkadang ada di: Syndibed@yahoo.co.id
atau beralamat di:

“Yayasan Al-Imam Ashim Pondok-Pesantren Tahfidzul Qur’an”
Jl: Tidung Marioli lrg.7 no.11, kel:Tidung, Kec: Rappocini, Kota Makassar, kode pos 90222
tlp:0411 884906/5062686. a/n: Muh.Syarief.











Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking