Maandag 25 Maart 2013

“PERGI”



Secangkir embun pagi….

Add caption

Sudah tiga tahun aku tinggal di kota pelajar ini, Jogja. Dulunya aku kurang bisa beradaptasi dengan suasana di kota budaya ini, tapi lama-kelamaan akhirnya aku sudah mulai meras aku harus bisa beradaptasi dan sampai sekarang, Alhamdulillah “Bisalah”. Tiap malam seperti ini, aku selalau duduk sendiri, termenung sendiri dan di temani secangkir kopi panas di teras kosku, tapi, seringkali juga sebuah buku bacaan menemaniku di malam yang gelap ini. Memang, ketika aku duduk sendiri ada banyak ide-ide yang muncul. Entah kenapa. Di bandingkan jika aku nongkrong bersama teman-temanku, rasanya tak pernah ada ide kreatif yang terpikirkan olehku..

“Bro!!! ke sekaten yuk!!,” kata Ari yang tiba-tiba datang dari belakangku, menghilangkan semua ide yang baru saja ku gali dari akarnya. “Kamu itu bikin kaget aja!!,”lanjutku sambil memukul pundaknya. “Sory bro!!,” gimana mau ke sekaten ga?,lanjut Ari. Aku berfikir sejenak. Kemudian…… “Ayo!!!, tapi yang lainnya mana?.” “Mereka sudah nunggu dari jam tujuh tadi bro!!!.” “Ayo, cabut….,lanjutku sambil membawa tas sampingku.

Ketika dalam perjalanan…………..

 Aku merasa ada yang ganjal dalam benakku ini, entah ada apa. Rasanya ada rasa was-was dalam jiwa ini. Aku tak melanjutkan langkah. Aku terdiam sejenak, hingga aku tertinggal jauh dengan Ari yang jauh di sana. “Astagfirullah!!!!, Ri, aku lupa kalau malam ini aku sudah ada janji sama Pak Subhan untuk pergi acara Maulid di gunung kidul, kataku sambil berlari menuju ke arah Ari. “Walla… kamu ini, gimana toh!!!”,lanjut Ari. “Jadi gimana dong, aku juga ga enak sama Bapaknya.” Kataku. “Ga papa lah, biar aku saja yang nyusul teman-teman di sana, kamu ke Pak Subhan saja cepat, nanti di marahin lagi”, pinta Ari yang begitu menyentuh. “Makasih yah, salam saja buat teman-teman yang lain”, kataku. “Maaf  banget yo!!!!,”lanjutku lagi.
Malam masih gelap, jangkrik-jangkrik berbunyi begitu nyaring, entah pesta apa yang mereka sedang adakan di kediamannya. Tiba-tiba saja ada petir, lalu…………,hujan pun turun dengan lebatnya. Aku langsung berlari kencang dangan  sekencang-kencangnya ke rumah Pak Subhan. Aku tak mau menyalahi janji padanya. Setahuku Bapak itu sangat disiplinnya bukan main. Jika ia mengatakan jam segini, maka jam segitu pula. Tak sama dengan kebanyak orang yang selama ini, tak tepat waktu. Mungkin juga aku. Semakin kencang aku berlari, hujan malah semakin rendah saja. Sepuluh menit kemudian, akhirnya aku sampai di kediaman Pak Subhan dengan basah kuyup. “Untung saja aku bawa salinan,” kataku dalam hati. Setelah aku kembali rapi, akhirnya aku, beserta keluarga Pak Subhan akhirnya berangkat menuju acara Maulid dengan mobil Sedannya yang sudah berumur tiga puluh tahun itu katanya. Ku lihat jam Digital yang melengket di depan kursi mobil menunjukkan pukul 22:13. Orang-orang masih rame. Begitu pula lampu-lampu jalanan masih bermain dengan keramaian malam. Indah sekali kota Jogja ini.

Di depan sana, terlihat sebuah keramaian. Entah keramaian apa. Tapi kayaknya sangat rame. Bahkan sempat terjadi kemacetan. “Bed!!! coba kamu lihat ada apa di depan sana,” kata Pak Subhan padaku. “Iya Pak.” Aku berjalan dengan biasa saja. Kemudian aku mulai menyeludup dari sela-sela keramaian itu, dan ternyata ada kecalakaan maut. Sebuah motor rupanya. Aku mulai mengenali motor itu. “Tidaaaaaaaaaaakkkk!!!, terikanku yang memecahakan suasana keramaaian itu. Sungguh tak bisa ku tahan air mata ini, ketika teman akrabku harus terkapar di jalan yang beraspal. Darah terus mengalir dari kepalanya. Padahal setengah jam yang lalu barusan saja kami bersenda gurau. Sebenarnya, ada hikmah juga yang bisa ku petik dari peristiwa ini. Bisa saja ketika aku ikut bersamanya ke Sekaten malam ini, mungkin aku menjadi korban juga. Tapi kesedihanku juga tak bisa ku ingkari lagi. Dia juga temanku. Teman yang selama ini banyak mengajariku bagaimana menghadapi hidup. Tubuhku begitu lemas melihatnya. Aku hanya bisa pasrah melihatnya, ketika jasadnya di angkut oleh Tim Medis. Hanya kesedihan yang menemaniku di malam itu. Aku berdoa semoga ia akan selau mengingatku di alam sana, bahkan akupun terus mendoakannya.

Selamat tinggal kawan……..

Syarief El Mahmudy
sackan thoellab
Jogja,2009

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking