Secangkir
embun pagi….
![]() |
| Add caption |
Sudah tiga tahun aku tinggal di kota pelajar ini, Jogja.
Dulunya aku kurang bisa beradaptasi dengan suasana di kota budaya ini, tapi lama-kelamaan akhirnya aku
sudah mulai meras aku harus bisa beradaptasi dan sampai sekarang, Alhamdulillah
“Bisalah”. Tiap malam seperti ini, aku selalau duduk sendiri, termenung sendiri
dan di temani secangkir kopi panas di teras kosku, tapi, seringkali juga sebuah
buku bacaan menemaniku di malam yang gelap ini. Memang, ketika aku duduk sendiri
ada banyak ide-ide yang muncul. Entah kenapa. Di bandingkan jika aku nongkrong
bersama teman-temanku, rasanya tak pernah ada ide kreatif yang terpikirkan
olehku..
“Bro!!! ke sekaten yuk!!,” kata Ari yang tiba-tiba
datang dari belakangku, menghilangkan semua ide yang baru saja ku gali dari
akarnya. “Kamu itu bikin kaget aja!!,”lanjutku sambil memukul pundaknya. “Sory
bro!!,” gimana mau ke sekaten ga?,lanjut Ari. Aku berfikir sejenak. Kemudian……
“Ayo!!!, tapi yang lainnya mana?.” “Mereka sudah nunggu dari jam tujuh tadi
bro!!!.” “Ayo, cabut….,lanjutku sambil membawa tas sampingku.
Ketika dalam
perjalanan…………..
Aku
merasa ada yang ganjal dalam benakku ini, entah ada apa. Rasanya ada rasa
was-was dalam jiwa ini. Aku tak melanjutkan langkah. Aku terdiam sejenak,
hingga aku tertinggal jauh dengan Ari yang jauh di sana . “Astagfirullah!!!!, Ri, aku lupa kalau
malam ini aku sudah ada janji sama Pak Subhan untuk pergi acara Maulid di
gunung kidul, kataku sambil berlari menuju ke arah Ari. “Walla… kamu ini,
gimana toh!!!”,lanjut Ari. “Jadi gimana dong, aku juga ga enak sama Bapaknya.”
Kataku. “Ga papa lah, biar aku saja yang nyusul teman-teman di sana , kamu ke Pak Subhan saja cepat, nanti di
marahin lagi”, pinta Ari yang begitu menyentuh. “Makasih yah, salam saja buat
teman-teman yang lain”, kataku. “Maaf banget
yo!!!!,”lanjutku lagi.
Malam masih gelap, jangkrik-jangkrik
berbunyi begitu nyaring, entah pesta apa yang mereka sedang adakan di
kediamannya. Tiba-tiba saja ada petir, lalu…………,hujan pun turun dengan lebatnya.
Aku langsung berlari kencang dangan sekencang-kencangnya ke rumah Pak Subhan. Aku
tak mau menyalahi janji padanya. Setahuku Bapak itu sangat disiplinnya bukan
main. Jika ia mengatakan jam segini, maka jam segitu pula. Tak sama dengan
kebanyak orang yang selama ini, tak tepat waktu. Mungkin juga aku. Semakin
kencang aku berlari, hujan malah semakin rendah saja. Sepuluh menit kemudian, akhirnya
aku sampai di kediaman Pak Subhan dengan basah kuyup. “Untung saja aku bawa
salinan,” kataku dalam hati. Setelah aku kembali rapi, akhirnya aku, beserta
keluarga Pak Subhan akhirnya berangkat menuju acara Maulid dengan mobil Sedannya
yang sudah berumur tiga puluh tahun itu katanya. Ku lihat jam Digital yang
melengket di depan kursi mobil menunjukkan pukul 22:13. Orang-orang masih rame.
Begitu pula lampu-lampu jalanan masih bermain dengan keramaian malam. Indah
sekali kota
Jogja ini.
Di depan sana , terlihat sebuah keramaian. Entah
keramaian apa. Tapi kayaknya sangat rame. Bahkan sempat terjadi kemacetan. “Bed!!!
coba kamu lihat ada apa di depan sana ,”
kata Pak Subhan padaku. “Iya Pak.” Aku berjalan dengan biasa saja. Kemudian aku
mulai menyeludup dari sela-sela keramaian itu, dan ternyata ada kecalakaan
maut. Sebuah motor rupanya. Aku mulai mengenali motor itu. “Tidaaaaaaaaaaakkkk!!!,
terikanku yang memecahakan suasana keramaaian itu. Sungguh tak bisa ku tahan
air mata ini, ketika teman akrabku harus terkapar di jalan yang beraspal. Darah
terus mengalir dari kepalanya. Padahal setengah jam yang lalu barusan saja kami
bersenda gurau. Sebenarnya, ada hikmah juga yang bisa ku petik dari peristiwa
ini. Bisa saja ketika aku ikut bersamanya ke Sekaten malam ini, mungkin aku
menjadi korban juga. Tapi kesedihanku juga tak bisa ku ingkari lagi. Dia juga
temanku. Teman yang selama ini banyak mengajariku bagaimana menghadapi hidup. Tubuhku
begitu lemas melihatnya. Aku hanya bisa pasrah melihatnya, ketika jasadnya di
angkut oleh Tim Medis. Hanya kesedihan yang menemaniku di malam itu. Aku berdoa
semoga ia akan selau mengingatku di alam sana ,
bahkan akupun terus mendoakannya.
Selamat tinggal kawan……..
Syarief El Mahmudy
sackan thoellab
Jogja,2009

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking