Oleh:
Syarief El Mahmudy*
Selangkah lagi. Sesaat
lagi. Sebentar lagi ku akan terhententi sejenak dalam kerinduan yang mendalam. Sepasang
sepatu hitamnnya sudah terlihat bersih di teras rumah, setelah usai sholat shubuh
tadi Doni membersihkannya. Aku masih termenung diteras ini sementara suamiku
belum lepas dari dua rakaat Dhuhanya. ku coba mengintipnya dari cela-cela
jendela, namun kedua belahan bibirnya masih disibukkan dengan Dzikir Dhuanya
pula. Antara sedih dan bahagia lamunanku terhenti, mendengar suara SMS masuk.
Walau perpisahan dalam jejak mulianya ini sudah yang ketiga kalinya, aku
sedikit tidak enak rasa, ada banyak was-was yang menerpa. Rasnaya ini yang
terakhir. Air mataku menyerah. Segaris doaku dipagi hari akhirnya kembali ku
panjatkan untuk-Nya, untuk suamiku. “Ayah kalau sudah sampai di Mekkah langsung
telepon Mama yah?”, sahutku masih penuh isak kesedihan. Dia tersenyum. Tak ada
kata terucap, hanya ciuman mesrah dikening yang ia balas. “Titip anak-anak yah
sayang, bilangin ke Dede jangan lagi makan Es krim”, sambil memegang ranselnya
kembali suamiku memelukku. “Hati-hati dijlalan yah sayang”, sambungku.
Malam menayapa dengan
dinginyya. Tak sadar dalam kerinduan aku terbawa arus, hingga pukul sebelasa malam
meyelimutiku. Mataku belum lelah. Tiba-tiba telepon berdering, sumiku rupanya.
Malam terakhir ini ternyata tak bisa juga menutup kedua belahan mata suamiku.
Aku bergegas menuju asrama haji. Memenuhi panggilannya. Walau terkesan bodoh
tapi inilah kami kebersamaan selalu kami rindukan. Tak banyak pikir mobil
langsung ku nyalakan. Bismillah..... Malam semakin larut saja dalam tumpuan
kerinduan. Lampu jalan masih saja kuat
menyinari kami dipinggir jalan ini. Segelas jahe hangat sedikit menambah
kemesrahan kami. Sepintas aku teringat pertemuan awalku dengannya 26 tahun
silam, tepatnya tahun 1985, di dalam bus jurusan tanah abang-ciputat. Waktu
yang cukup sulit untuk mengubah perasaaan cinta ini menjadi benci. Hatiku tak
kuasa menahan pilu, menghayati gigihnya perjuanagannya menakulukkan hatiku ini,
dari jakarta hingga ke Lampung. Tak
banyak obroalan yang tersingkap. Sekadar hanya ingin meelapskan kerinduan saja,
sebelum suamiku besok berangkat ke Mekkah. Hingga akhirnya malam menjadi saksi
bisu akan perjumpaan ini dan menutup obrolan kami dalam selimut syahdunya.
“Kabar dari kasir, Insya
Allah Mama brangkat, kita haji bareng ya Ma.. Ayah mau menebus semua kesalah
Ayah sama Mama. Ayah selalu menyakiti hati Mama. Ayah zalim sama Mama. Kita
selesaikan semua di Mekkah. Ayah nangis nih. Ayah sayang Mama. Pulsanya tinggal
bisa sms. Maafin Ayah sayang. Salam buat anak-anaku yang cantik-cantik”. “Semua
pangkal masalah dari dulu samapai sekarang asalanya dari Ayah. Mama gak ada salah.
Mama orang yang paling baik bagi Ayah. Sangat menyesal telah membuatmu menderita
sayang. Maafkan sayang. Ayah menangis Ma, lihat air matanya tuh dipoto”. Dua SMS dari suamiku membuat hatiku terasa terharu dan
tak ingin memabagi cinta kepada siapa-siapa.
7 November 2011
Dua minggu berajalan
dengan aktifitasku yang penuh kesibukan. Tapi tidak serta merta membuat komonikasiku
dengan sang sauami terputus. Walau hanya sekedar menanyakan kabar saja. Lalu
aku beranjak dari kelitihan ini setelah seharian suntuk menerima orderan
catering masuk. Rasanya ingin bersamanya dalam keletihan ini. Ku hanya bisa
sejenak tersenyum tipis melihat senyumannya yanag menawan itu lewat wallpaper
HPku. Setangkai senyum yang tak bisa ku pungkiri hingga pilihanku tertuju ke
dia pula, “Bang Mahmud yang menawan”, sahutku dalam hati. Tiba-tiba hayalanku
terpecah. Mumtaz anakku yang sekarang dalam pengabdian di Gontor Kendari,
menelpon. Tak ada pearsaan yang ganjil bahkan curiga. “Mama sudah ditelepon
tante Erna belum?”, “Ada apa memang Nak?”, tanyaku penasaran. Suara hening.
Mumtaz belum menjawab pertanyaanku. Masih hening. “Ada apa memang Nak?, tante
Erna kan sedang di Mekkah dengan ayah?”, sambungku pelan. “Mama yang sabar yah,
Ayah meninggal dunia didepan Ka’bah”. Sahut Mumtaz terbatah-batah. Aku tak berdaya, tak kuasa mendengar berita
ini. Aku tersungkur dalam kesedihan dan kepanikan. Rasanya tak percaya. Sungguh
mustahil. “Ayah!!!!”.
Seminggu berlalu masih
dalam keadaan duka. Ku lesuh dan tak berdaya. Persedian air mataku tak banyak
lagi. Semenjak sore tadi, anak PTIQ sudah terilhat khusyuk dalam lantunan ayat
sucinya yang dikemas dalam bentuk khataman . Sesekali aku tak percaya. Tapi aku harus rela,
dan belajar mengikhlaskannya, suamiku tersayang. Semalam pengurus Haji di
Mekkah menelponku, kalau jasad suamiku tak bisa dipulangkan secepat ini dengan
dalih musim Haji masih berjalan setengan waktu. Padahal sudah ku persiapkan
uang cass lima 50 juta untuk memulangkan jasad suamiku tercinta. Ada satu
alasan juga yang mengurungkan niatku memulangkannya. Pernah suamiku mengatakan
kepada sahabatnya, “Itulah rezeki terbesar ketika kematian akan menyapa di
Mekkah”, sampai-sampai suamiku membantah keras untuk tidak memulangkan jamaah
Haji yang meninggal dunia di Mekkah. Itulah mungkin salah satu alamat yang Allah
berikan kepadaku. Selamat jalan suamiku tercinta. Ku akan ikhlaskan
kepergianmu. Tenanglah dalam Dzikir Dhuhamu yang rutin kau dirikan. Salam dariku
dan keempat anak-anakmu yang cantik dan gagah.
*Manusia Ushuluddin 3
PTIQ
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking