Vrydag 22 Maart 2013

“KATA MAAF TERAKHIR DARI MEKKAH”



Oleh: Syarief El Mahmudy*


Selangkah lagi. Sesaat lagi. Sebentar lagi ku akan terhententi sejenak dalam kerinduan yang mendalam. Sepasang sepatu hitamnnya sudah terlihat bersih di teras rumah, setelah usai sholat shubuh tadi Doni membersihkannya. Aku masih termenung diteras ini sementara suamiku belum lepas dari dua rakaat Dhuhanya. ku coba mengintipnya dari cela-cela jendela, namun kedua belahan bibirnya masih disibukkan dengan Dzikir Dhuanya pula. Antara sedih dan bahagia lamunanku terhenti, mendengar suara SMS masuk. Walau perpisahan dalam jejak mulianya ini sudah yang ketiga kalinya, aku sedikit tidak enak rasa, ada banyak was-was yang menerpa. Rasnaya ini yang terakhir. Air mataku menyerah. Segaris doaku dipagi hari akhirnya kembali ku panjatkan untuk-Nya, untuk suamiku. “Ayah kalau sudah sampai di Mekkah langsung telepon Mama yah?”, sahutku masih penuh isak kesedihan. Dia tersenyum. Tak ada kata terucap, hanya ciuman mesrah dikening yang ia balas. “Titip anak-anak yah sayang, bilangin ke Dede jangan lagi makan Es krim”, sambil memegang ranselnya kembali suamiku memelukku. “Hati-hati dijlalan yah sayang”, sambungku.
Malam menayapa dengan dinginyya. Tak sadar dalam kerinduan aku terbawa arus, hingga pukul sebelasa malam meyelimutiku. Mataku belum lelah. Tiba-tiba telepon berdering, sumiku rupanya. Malam terakhir ini ternyata tak bisa juga menutup kedua belahan mata suamiku. Aku bergegas menuju asrama haji. Memenuhi panggilannya. Walau terkesan bodoh tapi inilah kami kebersamaan selalu kami rindukan. Tak banyak pikir mobil langsung ku nyalakan. Bismillah..... Malam semakin larut saja dalam tumpuan kerinduan. Lampu jalan  masih saja kuat menyinari kami dipinggir jalan ini. Segelas jahe hangat sedikit menambah kemesrahan kami. Sepintas aku teringat pertemuan awalku dengannya 26 tahun silam, tepatnya tahun 1985, di dalam bus jurusan tanah abang-ciputat. Waktu yang cukup sulit untuk mengubah perasaaan cinta ini menjadi benci. Hatiku tak kuasa menahan pilu, menghayati gigihnya perjuanagannya menakulukkan hatiku ini, dari jakarta hingga ke Lampung.  Tak banyak obroalan yang tersingkap. Sekadar hanya ingin meelapskan kerinduan saja, sebelum suamiku besok berangkat ke Mekkah. Hingga akhirnya malam menjadi saksi bisu akan perjumpaan ini dan menutup obrolan kami dalam selimut syahdunya.
“Kabar dari kasir, Insya Allah Mama brangkat, kita haji bareng ya Ma.. Ayah mau menebus semua kesalah Ayah sama Mama. Ayah selalu menyakiti hati Mama. Ayah zalim sama Mama. Kita selesaikan semua di Mekkah. Ayah nangis nih. Ayah sayang Mama. Pulsanya tinggal bisa sms. Maafin Ayah sayang. Salam buat anak-anaku yang cantik-cantik”. “Semua pangkal masalah dari dulu samapai sekarang asalanya dari Ayah. Mama gak ada salah. Mama orang yang paling baik bagi Ayah. Sangat menyesal telah membuatmu menderita sayang. Maafkan sayang. Ayah menangis Ma, lihat air matanya tuh dipoto”. Dua SMS  dari suamiku membuat hatiku terasa terharu dan tak ingin memabagi cinta kepada siapa-siapa.

7 November 2011
Dua minggu berajalan dengan aktifitasku yang penuh kesibukan. Tapi tidak serta merta membuat komonikasiku dengan sang sauami terputus. Walau hanya sekedar menanyakan kabar saja. Lalu aku beranjak dari kelitihan ini setelah seharian suntuk menerima orderan catering masuk. Rasanya ingin bersamanya dalam keletihan ini. Ku hanya bisa sejenak tersenyum tipis melihat senyumannya yanag menawan itu lewat wallpaper HPku. Setangkai senyum yang tak bisa ku pungkiri hingga pilihanku tertuju ke dia pula, “Bang Mahmud yang menawan”, sahutku dalam hati. Tiba-tiba hayalanku terpecah. Mumtaz anakku yang sekarang dalam pengabdian di Gontor Kendari, menelpon. Tak ada pearsaan yang ganjil bahkan curiga. “Mama sudah ditelepon tante Erna belum?”, “Ada apa memang Nak?”, tanyaku penasaran. Suara hening. Mumtaz belum menjawab pertanyaanku. Masih hening. “Ada apa memang Nak?, tante Erna kan sedang di Mekkah dengan ayah?”, sambungku pelan. “Mama yang sabar yah, Ayah meninggal dunia didepan Ka’bah”. Sahut Mumtaz terbatah-batah. Aku tak berdaya, tak kuasa mendengar berita ini. Aku tersungkur dalam kesedihan dan kepanikan. Rasanya tak percaya. Sungguh mustahil. “Ayah!!!!”.
Seminggu berlalu masih dalam keadaan duka. Ku lesuh dan tak berdaya. Persedian air mataku tak banyak lagi. Semenjak sore tadi, anak PTIQ sudah terilhat khusyuk dalam lantunan ayat sucinya yang dikemas dalam bentuk khataman .  Sesekali aku tak percaya. Tapi aku harus rela, dan belajar mengikhlaskannya, suamiku tersayang. Semalam pengurus Haji di Mekkah menelponku, kalau jasad suamiku tak bisa dipulangkan secepat ini dengan dalih musim Haji masih berjalan setengan waktu. Padahal sudah ku persiapkan uang cass lima 50 juta untuk memulangkan jasad suamiku tercinta. Ada satu alasan juga yang mengurungkan niatku memulangkannya. Pernah suamiku mengatakan kepada sahabatnya, “Itulah rezeki terbesar ketika kematian akan menyapa di Mekkah”, sampai-sampai suamiku membantah keras untuk tidak memulangkan jamaah Haji yang meninggal dunia di Mekkah. Itulah mungkin salah satu alamat yang Allah berikan kepadaku. Selamat jalan suamiku tercinta. Ku akan ikhlaskan kepergianmu. Tenanglah dalam Dzikir Dhuhamu yang rutin kau dirikan. Salam dariku dan keempat anak-anakmu yang cantik dan gagah.




*Manusia Ushuluddin 3 PTIQ

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking