Oleh:
Syarief
El Mahmudy*
...Lalu,
akankah terus penderitaan ini ku pertahankan? Kemana harus kini ku melangkah?
Andai saja bukan karena anak-anakku, ku tak akan terus diam seperti ini. Hari
ini baru saja aku mendapat tamparan yang kesekian kalinya dari suamiku. Walau
ia anak Kyai, tapi sungguh jauh dari hakikat kata
itu. Hingga akhirnya ku yakini bahwa tak ada jaminan
akhlaq yang baik akan terwarisi. Awal aku mengenalnya, sungguh indahnya
kata-kata dan tingkah lakunya, seketika ku terhipnotis. “Allah masih ada”, tiga
kata terucap sebelum bilasan piring berbusa ini ku akhiri. Tak terasa air mataku menyerah
lagi yang kesekian kalinya pula. Sesekali aku ingin menikmati indahnya pagi hari dengan sapaan atau dekapan mesra dari suamiku. Tapi semua itu nihil,
semenjak sebulan lalu dia pergi
meninggalkanku bersama ketiga anakku, tingkah lakunya semakin hari semakin tak
jelas. Bahkan terkadang angin dan bayangannya ikut pusing tujuh keliling.
“Ayah!!!, sarapan buatan
Bunda sudah siap”, sahut Difyan anak bungsuku di atas kursi kecilnya seraya
melambai-lambaikan tangannya ke arah Ayahnya. Semua sudah duduk diatas kursi
masing-masing, termasuk Rewa anak pertamaku yang sedikit pendiam, namun banyak
tahu tentang sikap buruk Ayahnya. Sesekali pula terlintas dalam benakku,
ternyata kekayaan materi bukan segalanya, dan itu harus ku yakini, dan sungguh
itu terjadi dalam keluargaku. Namun do’aku tak pernah lepas. Semoga suamiku
diberi jalan yang baik, walau sekata dan setindak saja ia bisa mengertiku.
Ku tersingkap tak kala
melihat ekspresi Difyan larut dalam lahapnya. Ku bangga bisa melahirkannya dan
ku bertekad kuat untuk terus mendidiknya, hingga akhirnya ia bisa menyangi
kedua orang tuanya, tak kala waktu tua
menghampiri. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu diluar sana. Ku
menoleh sejenak, dengan menggilingkan sedikit kepalku ke arah kanan, rupanya
seorang pengemis laki-laki. “Ayah, bolehkan aku memberikan sesuatu kepada
pengemis itu?”, kataku sopan. “Tidak usah. Usir saja dia. Cepat saja kamu
habsikan makananmu, lalu hantar anak-anakmu ini ke sekolah, hari aku sangat
sibuk sekali”, Jawabnya lantang. “Masih banyak yang harus kamu kerjakan dari
pada pengurus pengemis malas itu”, lanjutnya keras.
Hari meninggalkanku,
termasuk masa-masa buruk bersama suamiku. Awalnya memang terasa berat, tapi
inilah jalanku. Belum lagi anak-anaku juga semakin hari semakin tak meras betah
dengan Ayahnya sendiri, hingga akhirnya
perceraianku dengannya terucap sepuluh bulan yang lalu. Namun tak bisa
ku pungkiri dan menentang takdir Allah. Setelah masa iddahku selesai dengannya,
Allah kembali memberiku jalan baru. Seorang pria Almnus Mesir meminangku. Saat
itu aku sangat dilema juga, melihat posisiku mempunyai dua anak yang harus ke
besarkan, lalu ku dihadapkan dengan persoalan baru yang secara tidak langsung
bertambah lagi amanah yang Allah berikan. Untungnya aku masih punya keluarga,
Abi dan Ummi yang masih melihat sisi baiknya dari persoalan ini. Sebut saja
Ustdz Azka. Sederhana namun berwawasan dan berakhlaq baik. “Bismillah”, sahutku
saat ini tak kala menreima lamarannya.
Kesyukuran terbesarku
sungguh tak bisa ku bendung. Ternyata dia betul pria yang baik. Akhlaqnya dan
sifat pengertiannya membuatku betah
bersamanya, hingga akhirnya Alllah kembali menganugrahkan anak perempuan, Balqis
namanya. Hari-hariku bersamanya tak ingin ku sia-siakan, apalgi ku nodai dengan
peretengkaran dan kedurhakaan, karena ku sadar dia adalah orang yang diutus
Allah untuk menuntutku ke arah yang
lebih baik. Walau profesinya tak banyak
orang bangga dengan posisinya; guru ngaji di PAUD, tapi sikap tanggung
jawabnya tak pernah hengkang. Pribadi inilah yanag sebenarnya diinginkan oleh
wanita pada umumnya, tanggung jawab.
Selepas mengajar, ku
hampiri suamiku dalam kelelahan yang ku lihat di wajahnya, pucat. Sambil
menyodorkan segelas air dingin di depannya, ku mulai membuka obrolan tentang si
Rewa yang mendapat prestasi dikelasnya. “Oh yaa!!!, hebat sekali yah”, komentar
suamiku pelan. Obroaln kami terpotong, ada sahutan diluar sana, rupanya seorang
pengemis, sedilkit tua. “Duhai suamiku, maukah engkau memberikan aku izin
menemui pengemis itu, memberikannya sesuatu yang bisa meringankan bebabnnya?,
tuturku teratur. “Silahkan saja istriku, berikan uang ini juga kepadanya”,
jawabnya santai sambil menyodorkan amlop putih yang berisi uang gaji ngajarnya
bulan ini. “ sebelulm ku beranjak, ku terpukai melihat ketulusan dan kepedulian
suamiku.
“Mengapa engkau menangis
sayang?”, tanya suami penasaran setelah melihatku bertemu dengan pengemis itu.
Ku masih tak bisa bayangkan skanario Allah ini. Ku terheran dan seakan tak
percaya. Ku masih dalam isak tangis. “Wahai suamiku!, tahukan engkau siapakah
pengemis yang tadi ku jumpai?”. “Memangnya dia siapa istriku?”, tanya suamiku
penasaran. Ku terdiam sejenak, mengatur kata-kata yang pas untuknya. "Dia
adalah mantan suamiku dahulu, Ayah Difyan dan Rewa”. Suasana hening. Suamiku
belum berkomentar. Aku juga mulai bertanya-tanya, kenapa dia hanya bisa terdiam
setalah mendengar kenyataan ini. Kepalanya ditundukkan ke bawah, serasa ada
sesuatu yang ia sembunyikan juga. Lalu kembali melihatku rupanya air matanya menetes, sama dengan diriku. “Ada
apa gerangan suamiku?, menagapa engkau ikut menangis?”. Masih sajan dalam
kebisuan. “Dan tahukah engkau wahai istriku, siapa penegmis yang dia (Mantan
suami istriku) usir itu?” lantunan suami syahdu. Aku terdiam. Masih belum faham
dengan tingkah suamiku, tiba-tiba ia menangis, dan kembali bersuara. Aku
mengeleng-gelengkan kepala. “Itu adalah aku, wahai
istriku”, lanjut sumiku. ku tak tahan
dan tak percaya sebaik dan sehebat ini Allah mengatur skanario-Nya. Aku
memeluknya melepaskan rasa terharuku kepadanya dan sebagai simbol maafku
padanya dahulu.
Bersambung..... nantikan kelanjutan cerintanya....
*Manusia Ushuluddinn
3. Syndibed@yahoo.co.id

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking