Vrydag 22 Maart 2013

“NYANYIAN CINTA TERAKHIR”



Oleh: Syarief El Mahmudy*

...Lalu, akankah terus penderitaan ini ku pertahankan? Kemana harus kini ku melangkah? Andai saja bukan karena anak-anakku, ku tak akan terus diam seperti ini. Hari ini baru saja aku mendapat tamparan yang kesekian kalinya dari suamiku. Walau ia anak Kyai, tapi sungguh jauh dari hakikat kata itu.  Hingga akhirnya ku yakini bahwa tak ada jaminan akhlaq yang baik akan terwarisi. Awal aku mengenalnya, sungguh indahnya kata-kata dan tingkah lakunya, seketika ku terhipnotis. “Allah masih ada”, tiga kata  terucap sebelum bilasan piring berbusa ini ku akhiri. Tak terasa air mataku menyerah lagi yang kesekian kalinya pula. Sesekali aku ingin menikmati indahnya pagi hari dengan sapaan atau dekapan  mesra dari suamiku. Tapi semua itu nihil, semenjak sebulan lalu dia pergi meninggalkanku bersama ketiga anakku, tingkah lakunya semakin hari semakin tak jelas. Bahkan terkadang angin dan bayangannya ikut pusing tujuh keliling.
“Ayah!!!, sarapan buatan Bunda sudah siap”, sahut Difyan anak bungsuku di atas kursi kecilnya seraya melambai-lambaikan tangannya ke arah Ayahnya. Semua sudah duduk diatas kursi masing-masing, termasuk Rewa anak pertamaku yang sedikit pendiam, namun banyak tahu tentang sikap buruk Ayahnya. Sesekali pula terlintas dalam benakku, ternyata kekayaan materi bukan segalanya, dan itu harus ku yakini, dan sungguh itu terjadi dalam keluargaku. Namun do’aku tak pernah lepas. Semoga suamiku diberi jalan yang baik, walau sekata dan setindak saja ia bisa mengertiku.
Ku tersingkap tak kala melihat ekspresi Difyan larut dalam lahapnya. Ku bangga bisa melahirkannya dan ku bertekad kuat untuk terus mendidiknya, hingga akhirnya ia bisa menyangi kedua orang tuanya,  tak kala waktu tua menghampiri. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu diluar sana. Ku menoleh sejenak, dengan menggilingkan sedikit kepalku ke arah kanan, rupanya seorang pengemis laki-laki. “Ayah, bolehkan aku memberikan sesuatu kepada pengemis itu?”, kataku sopan. “Tidak usah. Usir saja dia. Cepat saja kamu habsikan makananmu, lalu hantar anak-anakmu ini ke sekolah, hari aku sangat sibuk sekali”, Jawabnya lantang. “Masih banyak yang harus kamu kerjakan dari pada pengurus pengemis malas itu”, lanjutnya keras.
Hari meninggalkanku, termasuk masa-masa buruk bersama suamiku. Awalnya memang terasa berat, tapi inilah jalanku. Belum lagi anak-anaku juga semakin hari semakin tak meras betah dengan Ayahnya sendiri, hingga akhirnya  perceraianku dengannya terucap sepuluh bulan yang lalu. Namun tak bisa ku pungkiri dan menentang takdir Allah. Setelah masa iddahku selesai dengannya, Allah kembali memberiku jalan baru. Seorang pria Almnus Mesir meminangku. Saat itu aku sangat dilema juga, melihat posisiku mempunyai dua anak yang harus ke besarkan, lalu ku dihadapkan dengan persoalan baru yang secara tidak langsung bertambah lagi amanah yang Allah berikan. Untungnya aku masih punya keluarga, Abi dan Ummi yang masih melihat sisi baiknya dari persoalan ini. Sebut saja Ustdz Azka. Sederhana namun berwawasan dan berakhlaq baik. “Bismillah”, sahutku saat ini tak kala menreima lamarannya.
Kesyukuran terbesarku sungguh tak bisa ku bendung. Ternyata dia betul pria yang baik. Akhlaqnya dan sifat pengertiannya  membuatku betah bersamanya, hingga akhirnya Alllah kembali menganugrahkan anak perempuan, Balqis namanya. Hari-hariku bersamanya tak ingin ku sia-siakan, apalgi ku nodai dengan peretengkaran dan kedurhakaan, karena ku sadar dia adalah orang yang diutus Allah untuk  menuntutku ke arah yang lebih baik. Walau profesinya  tak banyak orang bangga dengan posisinya; guru ngaji di PAUD, tapi sikap tanggung jawabnya tak pernah hengkang. Pribadi inilah yanag sebenarnya diinginkan oleh wanita pada umumnya, tanggung jawab.
Selepas mengajar, ku hampiri suamiku dalam kelelahan yang ku lihat di wajahnya, pucat. Sambil menyodorkan segelas air dingin di depannya, ku mulai membuka obrolan tentang si Rewa yang mendapat prestasi dikelasnya. “Oh yaa!!!, hebat sekali yah”, komentar suamiku pelan. Obroaln kami terpotong, ada sahutan diluar sana, rupanya seorang pengemis, sedilkit tua. “Duhai suamiku, maukah engkau memberikan aku izin menemui pengemis itu, memberikannya sesuatu yang bisa meringankan bebabnnya?, tuturku teratur. “Silahkan saja istriku, berikan uang ini juga kepadanya”, jawabnya santai sambil menyodorkan amlop putih yang berisi uang gaji ngajarnya bulan ini. “ sebelulm ku beranjak, ku terpukai melihat ketulusan dan kepedulian suamiku.
“Mengapa engkau menangis sayang?”, tanya suami penasaran setelah melihatku bertemu dengan pengemis itu. Ku masih tak bisa bayangkan skanario Allah ini. Ku terheran dan seakan tak percaya. Ku masih dalam isak tangis. “Wahai suamiku!, tahukan engkau siapakah pengemis yang tadi ku jumpai?”. “Memangnya dia siapa istriku?”, tanya suamiku penasaran. Ku terdiam sejenak, mengatur kata-kata yang pas untuknya. "Dia adalah mantan suamiku dahulu, Ayah Difyan dan Rewa”. Suasana hening. Suamiku belum berkomentar. Aku juga mulai bertanya-tanya, kenapa dia hanya bisa terdiam setalah mendengar kenyataan ini. Kepalanya ditundukkan ke bawah, serasa ada sesuatu yang ia sembunyikan juga. Lalu kembali melihatku rupanya  air matanya menetes, sama dengan diriku. “Ada apa gerangan suamiku?, menagapa engkau ikut menangis?”. Masih sajan dalam kebisuan. “Dan tahukah engkau wahai istriku, siapa penegmis yang dia (Mantan suami istriku) usir itu?” lantunan suami syahdu. Aku terdiam. Masih belum faham dengan tingkah suamiku, tiba-tiba ia menangis, dan kembali bersuara. Aku mengeleng-gelengkan kepala. “Itu adalah aku, wahai istriku”, lanjut sumiku.  ku tak tahan dan tak percaya sebaik dan sehebat ini Allah mengatur skanario-Nya. Aku memeluknya melepaskan rasa terharuku kepadanya dan sebagai simbol maafku padanya dahulu.
Bersambung..... nantikan kelanjutan cerintanya....


*Manusia Ushuluddinn  3. Syndibed@yahoo.co.id

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking