Vrydag 22 Maart 2013

“Jejak kanan Nayaka”



Oleh: M.Syarief El Mahmudy*

….., Lalu apa yang harus ku ucapkan pada bibir yang terjajah ini?, terjajah dengan penuh keterasingan.
Aku tak mengerti dzikir apalagi yang dilantunkan serangga itu. Setelah hujan melewatinya. Bayang-bayang mulai hengkang dari porosnya. Kunang-kunang semakin gemerlap menari di luar sana, dan malampun menyelimuti heningnya sore.  Damai terasa menyatu, indahnya malam ini.  Tapi tidak untuk selamanya. Aku tersandar dalam lamunan . tiba-tiba Azka, adikku melangkah, mendekati kesunyianku, meretakkan semua lamunanku. “Mas, sampean di golei abah”, sahut Azka sebelum memegang buku bekas yang ku beli di pasar kauman siang tadi. Tak banyak kata dari Azka, sampul yang manarik dari buku itu membuat lisannya tak banyak cakap, konsentrasinya tertuangkan dalam sebuah buku; komik Satria baja hitam. Aku meningglkannya, beranjak dari letihnya kedua kakiini setelahseharian berkeliling Alun-alun kidul Jogjakarta, menjajakan peyek buatan Ummiku.
Kulihat abahku masih berkomat-kamit dalam dzikir magribnya, dengan surban putihnya, warisan dari kakekku membuatnya terlihat sedikit beribawa. Sementara Ummiku baru saja ku lihat mengusap kedua belahan tangannya yang bersejarahdari segumpal do’a yang mulia, dan sedikit keyakinanku berkata semoga ada doa yang diselipkan untukku. Abahku melirikku setelah bunyi pintu tengah kubuka. “Assalamu Alaikum “, ucapku sambil berjalan pelan. Setelah mencium kedua belahan tangan ayah dan ibuku, aku mulai melipat kedua kaki ini. Hatiku bertanya-tanya. Ada apa gerangan. Tak seperti biasanya, abahku memanggilku dengan penuh keseriusan. “Le’ sesokoe ra usah bakulan iwak peyek meneh”, selip Ummiku memulai lembaran obrolan malam ini. Belum sempat aku menanyakan kenapa, abahku menyambung perkataan Ummi, “Tadi Kyai Syam silaturrahim ke sini, dan aku sudah mengiyakan kalau anak saya Nayaka akan ke pesantren Kyai Syam”. Aku terdiam. Tak ada kata yang tersusun dari belahan bibirku hingga malam menenggelamkanku.
Sudah sejam lamanya aku bersama kucingku sesayanganku. Diteras rumah bambuku. Perlahan-lahan teh cap gunung mulai mendingin ditelan embun pagi. Sementara Abah dan Ummiku masih tetap disubukkan dengan dzikir paginya. Sesekali Ummuiku mengusap air matanya. Hati ibu siapa yang tak terisris jika mengetahui anaknya sebentar lagakan pergi meninggalkannya. Tak ada lagi lonceng yang berbunyi dariku diselingi teriakan “Es lilin....”. itulah aku. Suara itu akan terdengar lagi kalau Kyai Syam sudah mengizinkan aku pulang. Banyak hayalan yang berlabu di pagi ini, tapi itu tak cukup mengurangi kesedihanku jua. Sudah tiga delman yang melewati rumahku, namun delman Pak Suryo belum juga menghapiriku. Dari kejahuan sana Ummiku membuat kode untukku. Namun tak bisa ku pahami. Hingga akhirnya dia menunjukkan jarinya ke arah utara, ternyata delapan Pak Suryo sudah terlihat dari kejahuan bola mata yang masih dipenuhi kesedihan ini. Aku sudah bersiap-siap. Dengan koper tempo dulu Mbahku membuatku terlihat seperti perantau tingkat atas.  “Mas, jangan lupa kirim surat yah”, sahut Azka sambil mencengkram tangan kananku. Delman tua itu akhirnya menghampiriku. “Ayo Le, sebentar lagi kereta akan berangkat”, sahut Pak Suryo pelan.  “Tak banyak  yang abah inginkan darimu Nak, patuhilah Kyai Syam, berlaku dan berkata jujurlah Nak, jangan lupa belajar yang giat Nak”,  dawuh Abahku hingga mataku tak tahanmenahan air mata ini. Ummiku pun sama, larut dalam tangisan. Semikin lama-semakin tertinggal tiga orang yang kucintai selama ini. Delman Pak Suryo semakin cepat berlaju. Dari kejahuan sanaAzka melambaikan tangannya seraya berteriak, “Mas, jangan lupa belikan komik Satria baja hitam yah”. Ungkapan Azka sedikit membuat hatiku terasa aman dari tangisan ini.
Sesampainya di stasiun lempuyangan Jogja, perlahan-lahan ku mulai rapuh. Rapuh dengan keramaian ini. Kereta kelas ekonomi ini terasa sumpek luar biasa. Hampir semua jenis manusia ada si atas sepur ini. Kiri, kanan, depan dan belakang tak ada sopan santun lagi yang telihat. Tidak ada lagi kata permisi lagi yang terdengar. Ambisi dan ego mulai bergejolak. Aku tak tahan. Aku berjalan pelan menuju gerbong satu, tapi kata permisi dariku masih terucap, sebab itu pesan dari Ummiku. Sepertinya semua gerbong kereta membeludak, rupanya suporter Timnas yang memenuhi sepur ini. Lagi-lagi bola yang membuat orang seperti ini. Tak banyak pikir, dengan modal Bismillah aku beranjak dari keramaian ini. Kepala kereta pilihanku, walaupun resikonya tinggi, bisa-bisa ajal yang menjemput, angin yang begitu keras. Tapi mau bagaimana lagi. Inilah pilhananku.
Langkahku sedikit tertahan.ku berhenti sejenak. Pagar bambu Pesantren Al-Ikhlas, Dawar Boyolali membuat dadaku terasa siap untuk menerima semua tetesan pena. Walaupun sebanyak buih di lautan. Tiba-tiba seorang pria baya mendekatiku. “Assalamu Alaikum, Mas Nayaka?”. “Engge Mas”, lanjutku seraya berjabak tangan dengannya. “Pak Kyai sudah menunggu kedatangan Mas, monggo Mas”, tuturnya sopan membuatku hatiku tersa nyaman. 
“Ahlan wasahlan Le”, dawuh  Kyai Syam sambil menggosok-gosok telapak kakinya dengan minyak urut. sepontan aku langsung membuat tangan beliau berhenti memijat kakinya, tanganku dengan cepat menggantikannya. Sambil sandaran dengan pelapah bambu kering Kyai Syam ku lihat membaca mantra. Entah mantea apa. Sepertinya doa buatku. Semoga saja. “Besok kamu antar Nayaka ke kebun, mulai besok penjaga kebunnya bukan kamu lagi”, Dawuh Kyai sambil menunujuk ke arah pria baya tadi yang meyambutku, yang rupanya bernama Rewa. “Enje Pak Kyai”, sahut Rewa dengan penuh ta’dzim. Akhirnya, adzan magrib memecahkan suasana syahdu ini. Hatiku terasa nyamann bersama Kyai Syam.  Dalam suasana seperti ini, tak lupa do’a ku panjatkan .Selepas ku usapkan kedua belahan tanganku ini, tak sengaja ku lihat perempuan berkerudung putih. Wajahnya bersih. Dengan perlahan-lahan dia melewati tirai hijau disampingku. Setangkai pertanyaan akhirnya keluar, “Siapa dia?”. Aku terbawa khyalan. Astagfirullah setan baru saja menari difikiranku, ataukah ini rahmat.
Barisan shaf mulai terlihat rapi, namun belum juga muadzzin berdiri.Santri-santri terlihat tenang.Baju koko santri sederhana membuat hati kecilku ini ingin berkata lebih, “Indahnya suasana pesntren. Belum lagi ku lihat dipojok sana bocah kecil yang dengan lincahnya menyambung huruf demi huruf hijaiyyah itu tersusun rapi hingga menjadi sebuah kalimat yang indah terdengar; fasih. “Subahanallah”, selipku dalam hati dengan penuh kekaguman.Rupanya pak Kyai sudah berdiri tegak di bawah mihrab kayu ulin.Memecahkan kekagumanku pada bocah kecil itu. Anadai ku tahu seindah ini sauasana pesantren, maka doa yang paling pertama ku panjatkan setelah aku keluar dari rahim ibuku adalah, “Bawa diri ini ke Pesantren”.Suasana bertambah syahdu setelah shaolat magrib dihiasi oleh puji-puujian asmaul husna.Tak terasa air mataku menyerah.
“Nay, dapat surat dari Ummi”, teriak Rewa lantang dari kejahuan semak-semak.Mendengar teriakan itu, sepontan sapu lidi yang pegang langsung ku tinggalkan, meninggalkannya sejenak. Dengan masih dipenuhi keringat siang, ku berlari sekuat mungkin ke arah Rewa, menjemput surat dari Ummiuku. Senyumku tak bisa ku rangkai.Hanya kesenagan yang ada.“Ongkos Pos nya dong Nay”, canda Rewa menambah kesenanganku.Sejenak ku tinggalakn Rewa.Dia hanya bisa terseyum tipis melihat kegiranganku.Ku lansung mamanjat pohon asam; tempat istrahatku setelah membersihkan kebun Kyai Syam. “Nay, dapat salam dari Zidna”, sahut Rewa sambil berjalan pulang meninggalkanku. Kesekian kalinya sudah Rewa mengungkapkan kata-kata itu, akupun tidak begitu meresponnya, karena ku tahu itu hanya candaan. Bahkan mustahil kalau Zidna, putri bungsu Kyai Syam menitipkan salamnya kepada penjaga kebun seperti aku, yang sama sekali tidak ada garis keluarga Kyai. Andai-andai itu ku buang jauh, selemberan surat dari Ummiku membuatku beralih dari senyum zidna.Sudahlah. Perlahan-lahan ku mulai membuka surat dari Ummiku. Ada tulisan Shawalat yang mengawali tulisan Ummiku.“Nak, sebentar sore adikmu Azka akan dimakamkan, gunakanlah uang ini. Pulanglah Nak”. Kesenanganku berubah drastis.Tak banyak yang bisa aku ucap.Mulutku terkunci rapat.Bagai gembok raksasa mengunci bibirku.Tak sadar ku terjatuh dari pohon asam,namun tak membuat fisikku terasa sakit, lebih sakit dan perih mendengar kabar duka ini.Deras air mataku tak bisa ku hitung. Hanya kata-kata “Azka,azka, dan azka yang tersu ku ucap”.Innalillahi wainna ilahi rojiun.
Aku masih tersungkur ddibawah pohon asam.Egoku saat ini tak bisa ku merdekakan. Bagaimana bisa aku menatap adikku Azka yang terakhir kalinya, kalau Kyai Syam sedang ke Luar kota. Pesan ayahku membuatku berfikir lebih.Mata air yang terpercik-percik disampinkku membuat hati kecilku tergugah.Ku ambil air wudhu dari mata air itu dengan selang yang terbuat dari bambu, hingga sholat Ghaib pun ku dirikan di kebun rindang ini, sebagai penghormatan terakhirku kepada adik kecilku Azka.
Waktu terus berlalu.Tak kenal yang sungguh-sungguh atau tidak.Meninggalkan semua wacana.Menertawakan orang yang lalai atasnya.Ku mulai perhatikan pahatan demi pahatan yang ku goreskan di pohon asam besar ini.Rupanya sudah 5 tahun berlalu dalam jejakku dipesantren ini.Sesakali ku renungkan akan langkahku ini. Lima tahun menghabsikan waktu bersama pohon asam.Membakar ratusan daun tiap hari.Mencabut rumput liar disekeliling pohon tomat, cabe, kangkung dan buah-buah lainnya.Namun semua itu tak membuatku berkecil hati.
Ku melanghkah.Dengan sedkit kelahan yang menyelimutiku.Tetesan keringat membuat ku berjalan cepat, sebelum santriwati melihatkku.Tiba-tiba langkakahku terhenti.Terpotong oleh dawuh Kyai Syam. “le, tolong petikkan buah delima yang manis”, singkat. “Enje Pak Kyai”. Kyai Syam langsung meningglkanku.Keringaku kemabli mengalir alam langklh ke kebun.Hanya sepuluh buah delima yang ku petik, karena Cuma itu yang matang.Tak banayk piker ku mabil pelapah pisang lalu ku bungkus sepuluh buah delima itu. Seampainnya di depan rumah Pak Kyai, akun terhenti. Aku bertanya, apakah layak dengan pakian yang kusm ini, badan yang penuh keringat, belum lagi bau asap sampah deaunan aku layak masuk dikediaman beliau. Belum semapt aklu melangkah kebelakang untuk menggati baju, Zidna mengampiriku.Tak ada kata yang diucapkannya.Wajahnya bersih, putih.Alisnya yang indah membuatku mengaguminya sejenak, namun cepat ditutupi oleh kain putih yang dipegangnya. Hanaya tangannya ynag ia ulurkan, sebagai isyarat kalau buah delima yang uiainginkan.
Sepuluh langkah ku leawti, langkahku semakin lelah.Jari-jariku gemetar.Bertanda aku butuh setengah piring nasi untuk mengganjal perutku.Namun, Kyai Syam kembali memanggil namaku. “Nayaka!”. Respon ku menoleh cepat, “Enje Pak Kyai?”, sahutku dramatis. Kyai Syam, Rewa, Zidna dan tiga Kyai sahabat Kyai  Syam, membutaku bertanya-tanya. Ada apa gerangan. Menagapa mereka berdiri sesrius itu.Terlihat sesekali Kyai Syam memuntahkan buah delima yang diamaknnya. “Ada apa Pak kyai?”, tanyaku sambil menuju kedepan beliau. “sudah lima tahun kamu manajga kebun saya, masa cuma diperintahkan memilih delima yang manis kamu tidak bisa”, lantun Kyai syam sedikit serisu.”.sejenak ku rapuh. Takut.Belum lagi orang-orang disamping Kyai Syam pandangannnya sedkit sinis.Ku masih terdiam.Ku ingin bangkit dari pertnyataan Kyai, namun kekhawatiranku masih ada.Pak kyai tak berhenti sampai disitu, ku mulia dihujat.
“Ngapunten pak Kyai. Memang selama lima tahun ini aku menjaga kebunpanjenenganngan, namun demi Allah, sumpah atas nama Allah pencipta alam semesta, tak pertah sama sekali aku mencicipi buah delima. Walaupun buah delima itu jatuh pak Kyai aku tak pernah memakannya, karena selama lima tahun ini, Pak Kyai hanay memerintahklan kepadaku menjaga kebun saja. Aku minta maaf Pak Kyai kalau akau salah dalam memilih buah delima”.Jelasku panjangh.Susasnan hening.Masih taka da suara.Aku tak bisa banyak menoleh.Hany kakiku yang kusap ku pandang, juga sesekali semut merah memanjat kaki yang dipenuhi tanah liat.Tiba-tiba seseorang memulikku, namun belum ku pastikan itu siapa.Aku masih menunduk.Perlahan-lahan kepalaku mulai ku ayunkan ke atas.Aku terheran luar biasa.Rsa gemetar akhirnya hadir juga.“Baru kali ini ak mendapaykan santri sejujur ini.”Kata pak kYai yang masih dalam pelukannya.Tangisan pak Kyai Syam terdengar jelas ditelinga kananku.Aku hanya bisa terdiam.
Masih dalam susasana syahdu ini, bagaikan aku berada di area syuting bersama Syahrul Khan, semua terharu, termasuk Zidna.Namun taka da rekayasa.Masih dlam suasana syahdu.Kyai Syam perlahan-lahan melepaskan pelukan berkahnya.Ku mulai mengusap sedikit demi sdikit air mataku, begitupula Kyai Syam. “Duduk Sini Nak”, desah Kyai Syam pelan.Perasaan saya semakin terharu lagi, kata “Nak” terucap dari lisan Kyai Syam.Ku masih tegap dalam suasana ini.Kyai Syam menulis diatas kertas putih yang diambil dari sakunya. Entah,apa yang ditulis. “Pulanghlah besok Nak, berikan surat ini kepada orang tuamu. Jangan lupa samapaikan salam hangatku padanya”.“Enje Pak kyai, sahutku sambil mencium kedua belajan tangannya yang mulai kriput.
Hari ini hari, hari sangat bersejarah dalam hidupku. Sebentar lagi semua senyum akan tercurahkan kepadaku, semua kata selamat akan tertuju padaku termasuk kedua orang tuaku, terlebih lagi dari Kyai Syam. Surat yang dititipkan oleh Kyai Syam seminggu yang lalu, emmbuatku sedikit tak percaya akankeputusannya dan kepercayaan beliau. Begitu maha misterinya kausa Allah.  Janji suciku kepada Zidna sebentar lagi akan terucap. Perasaan terharu masaih saja menyelimutiku.Tamu undangan, dan para santri sudah terlihat membeludak.Namun tak bisa ku pungkiri, Zidna kelihat anggun.Sedikit aku tak percaya kalau dia adalah jodohku.Senyumnya begitu original.
Perlahan0lahan tnafasku ku atur, duduk silahku mulai berubah, hingga terucaplah kalimat “Qobiltu” dri lisanku.Ummi dan Abiku tak kuasa menahan air matanya. Akupun larutt, namun tangisanku kali ini hanya un tuk Azka. Andai saja dia bisa melihagt kebahgiaan kakaknta ini.
Bersambung…tunggu season berikutnya.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking