Ini Ceritaku……Apa Ceritamu???
By: Muhammad Syarief
Sebuah kisah nyata, yang masih teringat olehku. Walau
umur semakin hari semakin bertambah, tapi untuk sepenggal kisah ini, tak bisa
ku lupakan.
Cerita tentang
diriku dan indomie sebenarnya dan sesungguhnya kujalani tanpa kusadari, dan
baru sekarang aku menyadari indahnya menikmati masa kecil bersama indomie.
Selain aku bersekolah, aku juga rutin membantu kedua orangtuaku berjualan nasi
kuning di pelabuhan. Aku beda dengan anak-anak zaman sekarang. Anak-anak SD
zaman sekarang pulang dari sekolah
larinya ke depan computer, ngapain? Ngapain lagi kalau bukan facebook-kan.
Dahulu aku, setelah pulang dari sekolah, aku langsung ke warung membantu ibuku berjualan nasi
kuning di pelabuhan. Termasuk membantu ibuku berjualan indomie siram.
Begitupula membantu Ayahku mengumpulkan pembungkus Indomie untuk dijadikan
undian.
Begini ceritanya.
Kendari, Tahun 1999 silam.
Sore itu, ayahku baru
saja datang ke warung. Seperti biasanya dengan membawa buku bacaan, pakaian istiqomahnya,
celana kain, dan peci andalannya. Tapi ada sesuatu yang beda. Lain dari pada
hari yang lain. Dia datang dengan senyuman yang menawan. Ada apa gerangan,
tanyaku dalam hati. Setelah meneguk kopi hangatnya. Dia membuka pecinya,
meletakkan bukunya. “Ada undian berhadiah lagi Nak”.singkat. “Undian apa Ba’ba”,
tanyaku santai. “Indomie”. Lanjutnya singkat. Aku tersenyum riang gembira.
Sebab pekerjaan ini sangat ku sukai. Seperti undian-undian sebelumnya.
Berpetualang dari kali ke kali, kios ke kios bahkan dari bak sampah satu ke bak
sampah lain, mencari pembungkus Indomie yang nantinya akan di kirim ke Jakarta.
Jika mujur tentulah ada hadiahnya. Seperti itulah bayanganku jika berpetualang
mencari pembungkus indomie. Walaupun hadihnya saat itu yang ditawarkan sangat
sederhana, tapi entah kenapa aku bersemangant sekali dengan yang satu itu. Tak banyak kata lagi yang ku lontarkan. Aku
bergegas mengganti seragam sekolahku. Lalu siap dengan karung besarku
dilengkapi dengan kayu yang nantinya untuk menagais-ngais pembungkus indomie
yang terlihat oleh mataku.
Matahari mulai
kejam. Kejam dengan sinarnya yang membakar kulit. Tapi itu bukan sebuah
hambatan bagiku. Kumulai aksiku saat itu di pinggir laut. Saat aku mulai
menulis ini, hatiku terasa perih. Teringat
masa laluku yang penuh dengan rintangan. Satu hal yang baru kusadari. Perjuanaganku mencari
pembungkus indomie saat itu, tidak sempat terpikirkan bahkan terbesit perasaan malu
dan jijik. Karena memang kondisi keluargaku yang menuntut seperti itu, apalagi
waktu itu ayahku tak tahu harus bekerja apa setelah tiga petak kiosnya habis
dimakan sijago merah. Yah begitulah yang namanya kehidupan, walaupun sepenuhnya
bukan masalah ekonomi juga, yang jelasnya aku menjalaninya dengan senang. Terkadang
juga aku ditemani oleh kakakku. Kalau masalah ejekan-ejekan itu sudah menjadi
hal yang biasa. Seperti halnya ketika teman-temanku mengatakan kepadaku “Anak
pak Ustadz kok jadi pemulung”, itu sudah biasa, bahkan kujadikan angin lewat
semata. Satu kata kunci mengapa aku tak malu melakukan hal itu, karena bagiku
itu perbuatan halal, dan tidak merugikan orang lain, bahkan membawa manfaat
tentunya.
Apalagi pekerjaan seperti itu sudah ku anggap
ringan, kerena memang aku terlahirkan dari keluarga yang etos semangat kerjannya
kuat. Sesuatu yang unik bagiku dan yang masih ku ingat, sasaran pembungkus indomie
yang kukejar dulu, bukan saja pembungkus indomie yang masih bersih. Pokoknya
semua. Entah itu yang kotor atau kusut, yang penting masih layak kirim semua ku
masukkan dalam karungku. Karena proseses pencucian akan kulakukan pula. Seringkali
disela-sela pemburuan itu jika aku dan kakakku merasa letih kami beristirahat
sejeanak. Jika beruntung pula jika ada uang yang kami kantongi mie rebus
indomie pun langsung menamani kami.
Setelah merasa puas
dengan buruanku, aku pulang dengan badan yang sangat kotor, tapi hati terasa
damai. Terkadang pula aku pulang melewati
kali yang ada di belakang rumahku sambil
mencucui badan. Sesampai di rumah pun,
kami langsung di sambut oleh ayahku dengan sekumpulan air bersih yang siap untuk
mencucui bungkusan indomie, dilengkapi oleh tenaga kerja yang banyak. Prosesnya untuk di kirim ke Jakarta pun sangat sederhana.
Setelah dicuci bersih, proses pengeringan diadakan secara manual, yaitu dengan
menyediakan banyak kain yang sudah tidak diguanakan lagi, lalu di lap
perlahan-lalahan agar tidak robek. Barulah setelah kering semua, malam harinya
dimasukkan ke dalam amaplop. Amplopnya pun bukan amplop yang utuh yang dibeli
di toko-toko. Untuk masalah amplop ayahku sangat kreatif. Ayahku memanfaatkan
kertas-kertas yang tidak diguanakan lagi, untuk di buat sebuah amlpop, dan
hasilnya pun sanagat bagus, layaknya amlpo baru. Untuk nama pengirimnnya
terkadang ayahku mencantumkan nama-nama anaknya yang paling banyak mengumpulkan
pembungkus indomie. Disela-sela pekerjaan pemasukan pembungkus indomie ke dalam
amplop, lahir pula senda gurau di anatara kami bersaudara. Bahkan
mantra-mantara pun ditiup semoga undian kami bisa naik nantinya. Seru sekali. Jika
larut malam mendekam kami dengan dinginnya, santapan indomie pun hadir di depan
kami,dari tangan ibuku yang menyayangiku. Yang paling andalan bagiku dulu
adalah indomie rasa kari ayam, yang sampai sekarang masih rasa itu yang menyatu
dengan bibirku.
Singkat cerita.
Hari yang
ditunggu-tunggu itupun datang, jika sudah begitu, Ayahku menyuruhku untuk
meliat pengumamannya diteleivisi tetangga. Seingatku sempat juga undian kami yang
naik, tapi hanya untuk hadiah hiburan saja. Kalau bapak masih penyimpan data-data
pengirimya silahkan di cek langsung. a/n bpk. H Abdullah Colleng. Jln. Cakalang
no 27 E. kel. Sauna. Kendari. Sulawesi tenggara.
Demikianlah kisahku
bersama Indomie yang betul-betul orisinil. Semoga seetangkai kisahku ini
bisa memberi inspirasi kepada seluruh
masyarakat Indonesia, bahwa terkadang untuk menyatukan keluarga menjadi indah
dibutuhkan sebuah hidangan yang membangkitkan selera, tentunya Indomie. Secara tidak
sadar pula indomie banyak memberi sumbangsih kepada keluarga Indonesia,
menyatukan keluraga Indonesia tak kala suasana tak mulai lagi bersahabat.
Semoga produksi
Indomie bisa lebih maju sepanjang masa, produk-produknya bisa terpercayakan
lebih mendalam, dan terus mengembangkan resep-resep terbaru untuk kembali
memperkuat kebersamaan keluarga Indonesia. Maju terus indomie, buktikan kalau
produk yang kamu ciptakan akan terus terpecayakan oleh masyarakat Indonesia dan
seluruh penduduk dunia.
Sekian
Jakarta,
Senin, 27 Des 2011
Pengirim:
Nama: Muhammad Syarif Dzul Fahmi Abdullah
Status: Mahasiswa Islam Institut Perguruan
Tinggi Ilmu Al-Qur’an
Alamat: Jl. Batan 1 No. 63 Ps. Jum’at ,
Asrama RUSUNAWA PTIQ, Jakarta Selatan, Lebak Bulus, Cilandak 12440
Kontak: 085399519004/085241741763

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking