Vrydag 22 Maart 2013

“Tak Kala Indomie Menyapaku”


Ini Ceritaku……Apa Ceritamu???


By: Muhammad Syarief
 Sebuah kisah nyata, yang masih teringat olehku. Walau umur semakin hari semakin bertambah, tapi untuk sepenggal kisah ini, tak bisa ku lupakan.

Cerita tentang diriku dan indomie sebenarnya dan sesungguhnya kujalani tanpa kusadari, dan baru sekarang aku menyadari indahnya menikmati masa kecil bersama indomie. Selain aku bersekolah, aku juga rutin membantu kedua orangtuaku berjualan nasi kuning di pelabuhan. Aku beda dengan anak-anak zaman sekarang. Anak-anak SD zaman sekarang  pulang dari sekolah larinya ke depan computer, ngapain? Ngapain lagi kalau bukan facebook-kan. Dahulu aku, setelah pulang dari sekolah, aku langsung  ke warung membantu ibuku berjualan nasi kuning di pelabuhan. Termasuk membantu ibuku berjualan indomie siram. Begitupula membantu Ayahku mengumpulkan pembungkus Indomie untuk dijadikan undian.

Begini ceritanya.

Kendari, Tahun 1999 silam.

Sore itu, ayahku baru saja datang ke warung. Seperti biasanya dengan membawa buku bacaan, pakaian istiqomahnya, celana kain, dan peci andalannya. Tapi ada sesuatu yang beda. Lain dari pada hari yang lain. Dia datang dengan senyuman yang menawan. Ada apa gerangan, tanyaku dalam hati. Setelah meneguk kopi hangatnya. Dia membuka pecinya, meletakkan bukunya. “Ada undian berhadiah lagi Nak”.singkat. “Undian apa Ba’ba”, tanyaku santai. “Indomie”. Lanjutnya singkat. Aku tersenyum riang gembira. Sebab pekerjaan ini sangat ku sukai. Seperti undian-undian sebelumnya. Berpetualang dari kali ke kali, kios ke kios bahkan dari bak sampah satu ke bak sampah lain, mencari pembungkus Indomie yang nantinya akan di kirim ke Jakarta. Jika mujur tentulah ada hadiahnya. Seperti itulah bayanganku jika berpetualang mencari pembungkus indomie. Walaupun hadihnya saat itu yang ditawarkan sangat sederhana, tapi entah kenapa aku bersemangant sekali dengan yang satu itu.  Tak banyak kata lagi yang ku lontarkan. Aku bergegas mengganti seragam sekolahku. Lalu siap dengan karung besarku dilengkapi dengan kayu yang nantinya untuk menagais-ngais pembungkus indomie yang terlihat oleh mataku.

Matahari mulai kejam. Kejam dengan sinarnya yang membakar kulit. Tapi itu bukan sebuah hambatan bagiku. Kumulai aksiku saat itu di pinggir laut. Saat aku mulai menulis ini, hatiku terasa perih.  Teringat masa laluku yang penuh dengan rintangan.  Satu hal yang baru kusadari. Perjuanaganku mencari pembungkus indomie saat itu, tidak sempat terpikirkan bahkan terbesit perasaan malu dan jijik. Karena memang kondisi keluargaku yang menuntut seperti itu, apalagi waktu itu ayahku tak tahu harus bekerja apa setelah tiga petak kiosnya habis dimakan sijago merah. Yah begitulah yang namanya kehidupan, walaupun sepenuhnya bukan masalah ekonomi juga, yang jelasnya aku menjalaninya dengan senang. Terkadang juga aku ditemani oleh kakakku. Kalau masalah ejekan-ejekan itu sudah menjadi hal yang biasa. Seperti halnya ketika teman-temanku mengatakan kepadaku “Anak pak Ustadz kok jadi pemulung”, itu sudah biasa, bahkan kujadikan angin lewat semata. Satu kata kunci mengapa aku tak malu melakukan hal itu, karena bagiku itu perbuatan halal, dan tidak merugikan orang lain, bahkan membawa manfaat tentunya.

 Apalagi pekerjaan seperti itu sudah ku anggap ringan, kerena memang aku terlahirkan dari keluarga yang etos semangat kerjannya kuat. Sesuatu yang unik bagiku dan yang masih ku ingat, sasaran pembungkus indomie yang kukejar dulu, bukan saja pembungkus indomie yang masih bersih. Pokoknya semua. Entah itu yang kotor atau kusut, yang penting masih layak kirim semua ku masukkan dalam karungku. Karena proseses pencucian akan kulakukan pula. Seringkali disela-sela pemburuan itu jika aku dan kakakku merasa letih kami beristirahat sejeanak. Jika beruntung pula jika ada uang yang kami kantongi mie rebus indomie pun langsung menamani kami.

Setelah merasa puas dengan buruanku, aku pulang dengan badan yang sangat kotor, tapi hati terasa damai.  Terkadang pula aku pulang melewati kali yang ada di belakang rumahku  sambil mencucui badan.  Sesampai di rumah pun, kami langsung di sambut oleh ayahku dengan sekumpulan air bersih yang siap untuk mencucui bungkusan indomie, dilengkapi oleh tenaga  kerja yang banyak. Prosesnya  untuk di kirim ke Jakarta pun sangat sederhana. Setelah dicuci bersih, proses pengeringan diadakan secara manual, yaitu dengan menyediakan banyak kain yang sudah tidak diguanakan lagi, lalu di lap perlahan-lalahan agar tidak robek. Barulah setelah kering semua, malam harinya dimasukkan ke dalam amaplop. Amplopnya pun bukan amplop yang utuh yang dibeli di toko-toko. Untuk masalah amplop ayahku sangat kreatif. Ayahku memanfaatkan kertas-kertas yang tidak diguanakan lagi, untuk di buat sebuah amlpop, dan hasilnya pun sanagat bagus, layaknya amlpo baru. Untuk nama pengirimnnya terkadang ayahku mencantumkan nama-nama anaknya yang paling banyak mengumpulkan pembungkus indomie. Disela-sela pekerjaan pemasukan pembungkus indomie ke dalam amplop, lahir pula senda gurau di anatara kami bersaudara. Bahkan mantra-mantara pun ditiup semoga undian kami bisa naik nantinya. Seru sekali. Jika larut malam mendekam kami dengan dinginnya, santapan indomie pun hadir di depan kami,dari tangan ibuku yang menyayangiku. Yang paling andalan bagiku dulu adalah indomie rasa kari ayam, yang sampai sekarang masih rasa itu yang menyatu dengan bibirku.
Singkat cerita.

Hari yang ditunggu-tunggu itupun datang, jika sudah begitu, Ayahku menyuruhku untuk meliat pengumamannya diteleivisi tetangga. Seingatku sempat juga undian kami yang naik, tapi hanya untuk hadiah hiburan saja.  Kalau bapak masih penyimpan data-data pengirimya silahkan di cek langsung. a/n bpk. H Abdullah Colleng. Jln. Cakalang no 27 E. kel. Sauna. Kendari. Sulawesi tenggara.

Demikianlah kisahku bersama Indomie yang betul-betul orisinil. Semoga seetangkai kisahku ini bisa  memberi inspirasi kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa terkadang untuk menyatukan keluarga menjadi indah dibutuhkan sebuah hidangan yang membangkitkan selera, tentunya Indomie. Secara tidak sadar pula indomie banyak memberi sumbangsih kepada keluarga Indonesia, menyatukan keluraga Indonesia tak kala suasana tak mulai lagi bersahabat.

Semoga produksi Indomie bisa lebih maju sepanjang masa, produk-produknya bisa terpercayakan lebih mendalam, dan terus mengembangkan resep-resep terbaru untuk kembali memperkuat kebersamaan keluarga Indonesia. Maju terus indomie, buktikan kalau produk yang kamu ciptakan akan terus terpecayakan oleh masyarakat Indonesia dan seluruh penduduk dunia.

Sekian
Jakarta,  Senin, 27 Des 2011

Pengirim:
Nama: Muhammad Syarif Dzul Fahmi Abdullah
Status: Mahasiswa Islam Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an
Alamat: Jl. Batan 1 No. 63 Ps. Jum’at , Asrama RUSUNAWA PTIQ, Jakarta Selatan, Lebak Bulus, Cilandak 12440

Kontak: 085399519004/085241741763

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking