Vrydag 05 April 2013

“Di Bawah Menara Mushola Tua”



“Bismillahirrohmanirrohim”



…..lalu, bagaimana jika cinta menyapa ketika hati ini belum siapa menatapnya, belum bisa berkata-berkata, belum bisa memberikan satu  dua kata yang  sama. Lalu, bagaimana pula ketika janji untuk saling setia tak bisa untuk dipegang. Pondok Pesantren “Al-Ihlas Ad-Dary” Makassar.Hari ini, hari keberuntunganku. Hari yang tak biasanya ku alami. Hari yang membuttaku selalu tersenyum tipis sejak mentari menyapaku tadi pagi. Bagaimana tidak, suatu kebanggaan terbesar bagiku untuk mewakili Pesantrenku mengikuti Olimpiade terbesar di Provinsiku. Sebuah ajang besar yang di laksanakan setahun sekali antara Pondok Pesantren se-Provinsi. Lombanya pun macam-macam. Mulai dari cerdas cermat, kaligrafi, pidato, baca kitab kuning, senam, dan lain –lain. Sementara aku, di tunjuk oleh Ustadzku pada lomba Pidato bahasa Arab. Yah, bukannya aku sombong, Di Pondokku aku cukup mahir berpidato. Aku juga tak tahu kenapa bakat  ini menyatu denganku sejak aku masih duduk di bangku kelas empat Madrasah Ibtidaiyah. mungkin Ini juga sebuah Anugerah Tuhanku yang di berikan oleh keluargaku. Soalnya kakak-kakakku juga pandai berpidato. Belum lagi aku pernah juara dua Da’I Cilik tingkat Provinsi. Dari sini aku sadar, kalau ini sebuah nikmat dari Allah yangharus aku jaga baik-baik.Aku berlari menuju kantor Madrasah. Sebab, aku sudah telat sepuluh  menit mengikuti rapat sebelum keberangkatan nanti. Senyum tipis masih menemaniku di sore ini. Sesekali aku berjalan lambat, karena jarak kantor juga agak jauh. Berjalan kecil-keci melewati teman-teman santri lain yang sedang asik bermain bola plastik. Ada juga yang santri yang sedang asik mencuci pakaian di sumur Tua. Ada juga santri yang saling antri mencuci beras di kerang Mushollah. Iniilah Pondokku yang aku cintai, Pondok yang telah lama memebesarkanku. Bagaimana tidak aku sudah berada di sini enam tahun yang lalu. Artinya semenjak aku berumur sepuluh tahun aku sudah berpisah jauh dengan orang tua. Hijrah menuntut ilmu, melewati laut dan pegunungan. Pondok yang kemandiriannya sangat terjaga.Beberapa saat kemudian…Aku sudah berada di depan kantor. Teman-teman lain sudah berkumpul. Aku agak malu masuk sebab rapat sudah di mulai. Belum lagi Santriwati lebih banyak di bandingkan santri putra. Tiba-tiba pak Muslimin, Ustadz yang akan membimbing kami nanti dalam Olimpiada ini melihatku.“Masuk saja Rif,”“Iya Pak.”Kemudian aku masuk. Sedikit memecah suasana di kantor. Melewati barisan  teman-teman lain yang sudah serius duduk di kursi plastik mendengarkan arahan dari Ustadz.. Aku duduk di kursi paling belakang. Sementara itu jam dinding sudah bersandar di angka lima sore.  Hari semakin sore saja. Lapangan yang tadinya ramai diisi oleh Santri-santri bermain bola kini sepi dimakan sorenya waktu. Tunggu!!!, aku bertanya-tanya dalam hati. “Siapa Santriwati yang memakai jilbab hijau itu?”. Wajahnya cantki sekali. Dia kelihatan tenang duduk di sana. Bibirnya merah dan tipis. Sungguh.  “Astagfirullah!!,“ pintaku dalam hati. Setan barus saja merasuki otakku. Tak lama kemudian rapat pun dibubarkan. Seminggu lagi kita akan berangkat bertarung. Membawa nama Pondok, dan memenagkan pertarungan nantinya. Amin.Aku, Hamir, dan Amal pulang bersama sambil saling memegang bahu masing-masing. Aku menoleh sejenak. Melihat  makhluk Tuhan berjilbab hijau tadi itu. Aku penasaran saja. Adzan Magrib kembali menyapa ratusan Santri. Aku terdiam sejnak di teras Mushollah. Aku merasa, kenapa aku harus mengingat dia terus. Wanita yang baru ku pandang sekali langsung membuat tubuh ini bergetar. “Apa ini yang namanya cinta?,” tanyaku dalam hati penasaran. Tapi, “Apakah ini yang di namakan nafsu?”. Aku semakin bingung saja. Malam harinya, aku tak bisa memejamkan mata.”Wanita berjilbab hijau itu masih ada dia di lesung pipiku”. “Oh, iya, hamir. Hamir pasti tahu sepenggal tentang wanita berlilbab hijau  itu.” Batinku.Aku langsung bergegas menuju kamar Hamir yang tak jauh dari Asramaku. Hamir temanku yang cerdas. Orangnya agak kecil namun ia tak pernah dipandang sebelah mata.“Ada apa Rif?,” tanya Hamir yang menemukanku di luar pintu kamarnya.“Wah, kebetulan sekali, aku mau curhat sama kamu.”“Jangan di kamar,” lanjut Hamir.“Kenapa memangnya?,” tanyaku penasaran.“Kamu tahu sendiri kan, kalau teman sekamarku Rony tidur, semua tempat di kuasaiunya.”Aku tertawa. “Makanya dari dulu aku bilang, bilang Ustadz. Kalau begitu di atas Mushollah saja?”, tawarku padanya.“Ayo”.Di atas Mushollah…“Mau curhat apa memangnya?,” tanya Hamir yang membuka suasana malam.“Wanita berjilbab hijau di kantor tadi.” Kataku singkat dan malu.Hamir tersenyum, dan tertawa. “Gila kamu!, itu anaknya Pak Kyai.” Tegasnya.Aku tak bisa berkata-kata. Rasanya seperti barusan terjadi gempa bumi. Aku takut bukan main.“Serius kamu?”“Iyalah. Coba kamu bandingkan wajahnya dengan wajah Bu Nyai. Sama kan?”Aku diam sejenak. “Iya, yah.”Tak ada harapan lagi untuk banyak berpimpi dengannya.  Malam itu juga, malam pertama aku merasakan cinta dalam hidupku. Sudahlah, cukluplah  perasaan ini aku dan Tuhanku yang tahu.  Cukuplah kata cintaku ku simpan buat diriku saja. Aku dan  Hamir terus berobrol sambil berbaring santai dia atas sajadah, namun bukan lagi mengenai wanita berjilbab hijau itu lagi. Seminngu kemudian…Adzan shubuh memecah keheningan. Jangkrik-jangkrik bersholawat sejak tadi. Tetesan embun melekat di atap-atap Asrama Pondok.  Ratusan  Santri berhamburan  memasuki Mushollah Tua. Mushollah yang sudah tak cukup lagi menampung  banyaknya santri. Mushollah yang banyak mencetak Tokoh-tokoh jenius.  Masya Allah, shubuh ini Pak Kyai tak bisa mememimpin sholat jamaah. Beginilah kondisi Pak Kyai yang sudah tak sekuat kuda liar lagi. Akhir-akhir ini beliau sakit-sakitan. Yah, kami dari santri merasa sedih juga kalau beliau terus terbaring dalam kehendak Tuhan itu. Mungkin hanya Do’a dan berperilaku baik yang bisa kami lakukan, agar beliau bisa sehat kembali.Sekarang sudah pukul 06:15. Mentari sudah bangun dari tidurnya setelah semalam melapor pada Tuhannya.  Aku langsung bergegas mandi. Bersiap untuk berangkat Olimpiade. Tiba-tiba terdengar pengumuman dari Mushollah…“Diharapakan kepada seluruh santri dan santriwati agar berkumpul di Mushollah sekarang, tanpa terkecuali.” Entah pengumaman apa itu. Kayaknya penting sekali. Tidak sampai di situ. Para Ustadz pun terjun ke lapangan untuk lebih menegaskan. Aku semakin penasaran saja. Ada apa ini. Di sana sini terdengar pertanyaan yang sama dari sejumlah santri     “Ada apa, ada apa, ada apa?.”Tak lama kemudian, ratusan santripun sudah berada dalam Mushollah yang kecil. Duduk tak beraturan. Ada yang sudah berseragam sekolah, ada yang membawa handuk, ada yang masih berpakaian kokoh, bahkan ada pula yang  santri yang belum sempat membilas wajahnya dari segumpalan sabun. Yah, begitulah.Para Ustadz di depan sana saling berbisik-bisik. “Ustadz Muslimin menagis kenapa?,” tanyaku semakin penasaran dengan keadaan ini. Suasana sangat tegang sekali. Wajah-wajah hanya saling bertanya-tanaya. Ustadz akhirnya mengangkat suara, tanpa menggunakan  Mic.Sungguh sulit ku terima dan ku percaya. Bahkan bukan hanya aku yang bernasib seperti ini. Kini Pak Kyai sudah tak ada lagi. Pergi untuk selama-lamanya. Kemarin shubuh adalah sholat jamaah terakhir yang kami lakukan bersama Beliau. Itulah sepenggal pengumuman yang disampaikan Pak Muslimin barusan. Wajah dan hati bersedih di mana-mana. Air mataku menetes, membasahi kedua belahan pipi yang pernah di pegang oleh Beliau. Aku langsung teringat ketika beliau pertama kalin mengajarkanku baca Al-Quran yang benar. Ma’ruf santri yang agak dekat dengan Pak Kyai  mengamuk, namun langsung di amankan oleh kakak kelas lainya. Tak ada wajah riang. Hanya sedih dan tetesan air mata.Otomatis sudah. Olimpiade tahun kali ini Pondokku tak ikut serta. “Yaa Allah apakah engkau masih ada di sana”. Kediaman beliau  terus didatangi  para pelayat. Ku lihat wanita yang berjilbab hijau itu, yang ternyata bernama Ulfa meneteskan air mata juga. Dia anak Pak Kyai yang bungsu. Wajahnya bersih sekali. Sedih sekali. Hari ini hari bersejarah dalam hidupku. Bukan hanya aku, ratusan santri lainnya juga.Dua bulan kemudian…Sekarang aku sudah tahu kalau ternyata Ulfah juga berperasaan sama denganku. Entah dia banyak tahu dari mana tentang aku. Ternyata pandangannya yang selalu berpaling ketika berjumpa denganku itu hanya sebuah isyarat berharga. “Kau sungguh Sholihah.” Semua itu ku tahu dari buku Diarinya yang ketinggalan di Mushollha. Jelas-jelas  kata-kata cintanya padaku  tertulis indah  di buku Diarinya. Sekarang aku tahu. Kami sudah saling cinta. Namun aku berjanji dalam jiwa  ini, tak akan mengatakan perasaanku padanya. Ku tunggu waktu yang akan di kehendaki Tuhanku suatu saat nanti. 17 Ramadhan 1415 H.Malam ini, malam yang sangat mulia. Lebih Mulia dari seribu bulan. Bulan di turunkan  Al-Quran ratusan tahun lalu. Sejak tadi pagi panitia Nuzulul Qur’an sudah menyipakan  acara yang akan di laksanakan malam ini. Santri-santri sudah duduk rapi di luar Mushollah, sementara santriwati berada di dalam Mushollah. Para tamu sudah bersilah rapi juga. Malam ini aku ditugaskan membaca  ayat Suci Al-Quran. “Insya Allah Siap,” mantapku dalam hati.“Mir, MC nya siapa?,” kataku sambil membuka lembaran Al-Quran  yang akan ku baca nantinya.Tesenyum dan memegangku. “Ulfah.,” lanjut Hamir.Aku bengong. Memandang wajah Hamir. “Masya Allah!!.”Kini tibalah giliranku. Memulai aksi. “Aku harus memeperbaiki kembali niatku. Ini bukan karena Ulfa, tapin karena Allah”. Wajah Ulfah sangat sempurna ketika memanggil namaku. Ia tersenyum tipis padaku. Akupun membalasnya. “Cantiknya hamabamu ini yaa Allah.” Batinku.Tak terasa acara demi acara terlaksanakan dengan rapi dan lancar. Aku dan Hamir tak langsung pulang ke Asrama. Kami bersih-bersih dulu. Lalu kami pulang.  Malampun larut dengan tenagnya. Suasana hening di pukul 23:05. Tiba-tiba saja, aku teringat oleh  Pak Kyaiku. Aku menangis lagi mengingatnya. Tunggu!!!, Hamir menyruhku untuk ke Mushollah sekarang. Aku langsung ke sana saja tanpa memepertanyakannya lagi.Di teras Mushollah…“Kau mengagetkanku saja,” ucap lisan ini antara khawatir dan malu. “Ada apa  kau memaggilku?,” tanyaku pada Ulfah agak grogi. Dia diam sejenak. “Kak, ini hadiah ulang tahun kakak dariku,” sambil menyodorkan kadomya.Aku memang aneh. Sampai-sampai hari ulang tahunku saja aku lupa. “Terima  kasih,” ungkapku malu. “Cepat Ade” pergi dar sini, nanti ada yang lihat,” sambungku khawatir.Menatapku sejeanak, dan tersenyum “Assalaamu Alikum”.“Waalikum salam, semoga mimpi indah”.Malam ini indah sekali bagiku. Ini adalah kado pertamaku dari seorang wanita cantik dan sholihah. Aku sudah menagntuk. Kado itu masih ku pegang di dadaku, hingga aku tertidur bersamanya.Hari senin, 18 Ramadhan 1415 H.Pagi  ini sudah libur. Aku sudah bergegas merapikan barang-barangku. Kado yang semalam Ulfah berikan padaku belum ku buka. Kata dia bukanya nanti sampai di rumah bersama ibuku.Aku heran. Drama apa lagi ini. Ibuku tiba-tiba datang ke Pondok. Tidak biasanya ibu ke Pondok. Bukannya  juga senbentar lagi aku akan pulang. Pak Muslimin lalu menyampiriku dan ibuku. “Alhamduliillah ibu sudah datang,” sahut Pak Muslimin. Aku masih terheran-heran. Ada apa sebenarnya. “Mari Bu kita langsung ke kediaman Bu Nyai saja.” Lanjut pak Muslimin. Aku tak berkata-kata lagi. Aku dan ibuku menuju kediaman Pak Kyai dengan perasaan masih bingung. Ternyata ibuku juga belum tahu ada apa sebenarnya, kenapa  Ibuku tiba-tiba di undang oleh Bu Nyai. Smentara itu, dari tadi aku  perhatikan Pak Muslimin tersenyum saja.  Semakin aneh saja.Di kediaman Pak Kyai…Aku semakin heran saja. Ternyata di dalam sana Bu Nyai, De Ulfah, beserta para Ustadz sudah berkumpul dan duduk rapi. Mereka sopan menyambut kami dan tersenyum. setelah kami duduk rapi, akhirnya Bu Nyai pun membuka Forum. “Sebelumnya kami minta maaf, kalau undangan kami sangat mendadak sekali. Saya sebagai Istri Pak Kyai hanya ingin menyampaikan selembaran wasiat  dari beliau yang menginginkan Putri kami yang bernama Ulfah Ariani binti H. Abdillah L.c dinikahkan denagn putra Ibu.” Sungguh ini bagaikan mimpi, terasa aku berada di Planet Jupiter mendengar Ucapan beliau barusan.  Aku seakan tak percaya. Dengan rauk wajahku yang keheranan, aku meminta beliau membacakan isi wasiat lagi itu dengan benar. Ternyata benar,  namaku tertulis dalam wasiat itu.  Ibuku terheran bukan main. Pandangannya langsung menuju padaku denga tangisan. Sementara Ulfah ku lihat tersenyum malu dan menunduk saja. Aku langsung meninggalkan Forum itu. Aku harus berfikir sejenak.Tidak mungkin aku langsung menerima isi wasiat itu. Aku tak tahu harus berbuat apa. Air mata antara sedih dan senang menemaniku di pagi hari itu.  Akhirnya pertanyaan simple terlintas. “Apa aku harus nikah di usia yang mudah seperti ini?”, “Bukannya aku masih ingin melanjutkan studi yang lebih tinggi?”, “dan, apakah aku harus mengecewakan Pak Kyaiku, Bu Nyai dan De’ Ulfah?”. Aku pusing bukan main. Aku butuh waktu untuk semua ini.Sehari kemudian…Kini tinggal Allah Harapanklu. Tak ada tempat sandaran yang lain untuk keluar dari semua ini. Lalu, aku masuk ke gudang  Pondok, membawa lilin dan korek api.  Ini adalah hal yang pernah dilakukan oleh orang dahulu, untuk memutuskan suatu perkara setelah meminta bantuan dari Allah, membakar jari telunjuk di atas lilin. “Jika aku  kuat menahan rasa panas lilin ini hingga usai aku membaca Al-fatihah tujuh kali, berarti aku harus menikah muda, dan cita-cita tinggiku tak ada lagi, namun jika aku tak kuat, artinya, ya tidak” ungkapku dengan mantap dalam hati.Mungkin sudah bukan takdir lagi. Aku tak bisa menahan rasa sakitnya. Aku menyerah di bacaan ke enam. Aku tak kuat. Aku meangais. Tanganku bengkak dan berdarah akibat panasnya. Hari itu juga aku dan ibuku kembali bertemu  dengan Bu Nyai untuk memberikan jawaban. Jawabanku sudah mantap. “Aku belum bisa, dan siap” itu saja. Ibuku agak kecewa sedikit, namun ibuku bisa mengerti kalau aku masih ingin menambah ilmu dulu. “Sebelumnya, kami minta maaf. Dengan berat hati anakku belum bisa menerima isi wasiat yang di tuliskan oleh Pak Kyai,” lantun ibuku langsung.“Iya Bu Nyai, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, aku belum bisa dan siap”, jelasku menayambung perkataan ibuku.Aku lihat ibu Nyai agak kecewa, dan meneteskan aira mata. Dan tak berkata-kata. Tiba-tiba De’ Ulfah berlari meninggalkan Forum. Kali ini dia yang berlari meningglkan Forum. Aku tahu  dia sedih mendengar jawabanku. Aku lansung menyusulnya dengan kesedihan pula. Tapi di mana dia. Aku mencoba mencarinya. Aku melihatnya. Di bawah menara Mushollah tua. Dia menagis dan tersungkur di tembok Musholla.“Ulfah, kalau kamu memang cinta padaku karena Allah kamu harus bisa menerima semua ini, kalau aku memang belum siap, kamu ingatkan kalau aku masih mau mencapai cita-citaku setinggi derajat Rosul”, lantunanku sedih.Dia masih terdiam dan menagis. Aku tahu ini sulit diterimanya, dan aku juga tahu kalau  dia memang mencintaiku tulus. “ Aku hanya ingin menjadi istri kakak.  Sampai kapan aku harus menunggumu?,” pertanyaan yang menjebak.Aku terseduh-seduh. Menatapnya. Lalu ku pegang kedua tangannya. “Kalau  kamu memang cinta padaku karena Allah, tunggu aku lima tahun lagi, di tempat ini, di bulann yang sama, di jam yang sama”. Aku tak berkata banyak. Lalu, aku  meninggalkannya yang masih larut dalam kesedihan. Sebenarnya juga aku tak rela, tapi mau bagaimana lagi. Hati ini juga terasa sakit. Hari itu juga aku langsung meninggalkan Pondok yang telah lama membesarkanku ini. Tapi, tidak untuk selamanya. Ratusan pandangan tertujuh padaku . suasana sangat hening. Bagaikan menonoton Film Drama kelas atas.Hari, rabu 19 Ramadhan 1415 H. menjadi bersejarah dalam  kisah hidupku. Hari itu juga aku berangkat ke pulau  Jawa. Menggapai satu, dua kata untuk hari-hariku nantinya. Ibuku sudah meridhohi apa pilihanku. Hanya bekal uang 300 ribu aku berangkat  ke Yogyakarta lewat pelabuhan  Makassar. Dan Alhamdulillah berkat pertolongan Tuhan dan Doa sang ibuku tercinta akhirnya aku sampai juga di Kota pelajar ini. Kota impianku sejak SMP dulu. Dalam perjalanan yang sama aku bertemu  seorang santri yang bertujuan sama juga.  Mungkin ini sudah Skanario Allah, santri itu megajakku masuk di Pondoknya saja, karena setelah semalam aku bercerita panjang  tentang nasibku ini.Pondok Pesantern “Al-Huda” Yogyakarta.Alhamdulillah kini aku sudah tenang. Kejadian dua tahun lalu lalu, sudah mulai surut terlupakan dari benakku. Ini adalah tanggung jawab besar. Aku harus betul-betul serius dan giat belajar di sini. Terkadang juga, sesekali aku memikirkan Ulfah yang jauh di sana. Dalam hati ini aku selalu berharap, janjiku lima tahun sama Ulfah bisa ku tepati. Di pondokku ini aku banyak di ajarkan pelajaran yang belum pernah ku pelajari,  dan indahnya kebersamaan.Tak terasa sudah, lima tahun sudah aku berada di Yogyakarta. Alhamdulillah, setelah lulus Madrasah Aliyah kemarin aku langsung mendapatkan pekerjaan menjadi guru di Pondok ini dan alhamdulillah lagi, aku bisa membiayai kuliahku sendiri.  Seringkali ibuku menanyakan kepulanganku. Dan hari ini, aku ingin memberikan kejutan saja sama ibuku. Terlebih-lebihnya lagi menepati janji lima tahun lalu. Bulan kemarin ada wanita yang senang padaku, namun setelah aku mencerikan kisah cintaku dengan Ulfah ia malah mendukungku. Aneh. Perasaanku sudah mantap untuk menerima wasiat Pak kyaiku.  Dengan ucapan “Bismillah” aku terbang ke Makassar. Banyak harapan dan doa.Pon-Pes “Al-Ikhlas Ad-Dary”, Makassar 18 Ramadhan 1418 H.Aku sudah berada di depan gerbang  Pondok pertamaku. Tinggal melangkahkan kaki beberapa langkah saja, jodoh sudah ada di depan mata. Yah, begitulah harapanku saat itu yang sangat yakin. Lalu, aku masuk melewati bangunan pondok yang sudah banyak berubah, dan Mushollah yang belum juga di renovasi. Tiba-tiba teman lamaku Hamir menyampiriku. Kami berpelukan erat dengan rasa rindu yang tak terbendung. Aku tak membuang  banyak waktu, tinggal beberapa menit lagi janji itu akan berubah menjadi kata “Penghianat”Aku sudah berdiri tegap di bawah menara Mushollah tua. Ada tawa dan sedih.  Dari tadi, kayaknya Hamir menyembunyikan sesuatu dariku. Entah apa. Ulfah juga belum datang. Ratusan santri yang tak ku kenal melihatku. Mungkin mereka bilang aku orang gila. Tunggu!!!, dia datang. Namun agak berbeda. Air mataku meneyertaiku lagi. Diapun begitu. Tapi, agak ragu. Sekarang ia sudah di depan mataku. Aku belum memeganganya. Masih malu-malu. Lalu, aku duluan yang memeluknya. Dia agak ragu dan enggan. “Bagaiman kabarmu De’?.”Dia menagis dan dan memegang kandungannya. Dia tak berkata. Sementara aku lebih dari itu. Rasanya aku tak bisa  berkedip lagi, melihat kenyataan pahit di depan mata. Aku menatapnya marah, dan sedih“Maafkan aku,” cuma kata itu saja yang ia katakan, lalu kembali membisu.“Tiba-tiba seorang Pria gagah, berbaju kokoh memanggilnya. “Istriku…,” dan pandanganya menuju ke arah Ulfah.  sekaranga aku tahu.  Aku lalu berkata “Ternyata kau tak mencintaiku kerena Allah, dan tak bisa setia. “ lalu, meninggalkannya yang masih berdiri dalam kesedihannya itu.  Hati ini sakit bukan main. Mungkin tak ada obatnya. Kemudian dia berteriak padaku. “Tapi, aku masih sayang padamu”Aku menghiraukannya begitu saja dalam kesedihan yang tak bisa ku bahasakan. Tak ada kata selamat dariku Ulfah.
Sekian

Yogyakarta, 13 Ramadhan 1430 H






Sekilas tentang penulis:Manusia bernama lengkap Muhammad Syarief Dzul Fahmi Abdullah ini, lahir di Kota kendari 15 Desember 1990, hari kamis. Sekarang masih duduk di bangku kelas tiga Madrasah Aliyah, Pondok-Pesantern Krapyak Yogyakarata.Alamat rumahnya berada di sebelah Tenggara Indonesia. Jl: Titang 48, Kel: Sanua, Kec: Kendar Barat, Kota: Kendari. Sulawesi Tenggara. 93124.Lebih lanjut dia selalu ada di: E-mail, Facebook, Friendster. syndibed@yahoo.co.id/com.
NB: HAK CIPTA DILINDINGI ALLAH, DAN PENULISNYA.


”BUKAN CINTA YANG LUMPUH”


Perjuangan Cinta Yang Harus Tetap diperjuangkan...



………,Setelah itu,  apa yang aku akan katakan pada bibir yang terjajah ini, jika hati terkadang berbicara tak searah dengan lisan ini?
Dulu,aku sempat Depresi menghadapi kenyaataan cinta dalam hidup ku ini.yaa, bagaimana tidak jika orang yang kucintai selama ini, perasaanku hanya ku simpan untuknya tak bisa menerimaku dengan tulus hati. Dari situ aku bercermin akan sikapku yang belum sempurna ini.Aku memang harus lebih banyak belajar lagi memperbaiki sikap, atau juga pilihanku masih kurang tepat. Akan tetapi selama itu aku merasa, kalau aku bukan Tipe orang yang pembagi cinta kepada lawan jenis,cukup mengatakan “Aku cinta kamu”.Mungkin itu sudah sangat memuasakan bagiku, dan untuk melanjutkannya kayaknya aku masih kurang mampu.
Waktu itu, aku sangat berani bersumpah, menyumpai diri ini sendiri untuk tidak menjalin cinta kepada lawan jenis lagi. Entah kenapa aku ini. Dan aku siap menerima resiko yang ada nantinya.
Tapi tunggu……entah kenapa cinta ini kembali lagi.
Di pertengahan februari 2006 aku mengenal teman cewek di sekolahku. Ku kenal dia bukan dari Hp, bukan pula dari kontak jodoh yang sering ada di lembaran koran atau majalah, bukan pula dari cafee. Sebut saja dia Ulfa. orangnya manis, pintar dan berakhlak, belum lagi sikap malunya yang membuatku ingin mengetahui dia lebih lanjut. Ku kenal di karena waktu itu aku di tunjuk oleh guruku mengikuti Olimpiade Matematika se-Provinsi. Kebutulan pasanganku waktu itu dia, Ulfa. Belum sempat ada obrolan panjang di antara kami. Paling hanya ada obrolan seputar soal di Olimpiade nanti.
Sudah dua minggu kami latihan bersama. kami yakin bisa mendapat nomor di ajang itu nanti. “Fa, sejak kapan kamu ikut Olimpiade ini?”,tanyaku yang ingin mendinginkan suasana. “Baru kali ini”, jawabnya singkat. Berbicara masalah siakapnya, akau belum terlalu faham, tapi sejauh ini aku bisa mengatakan kalau orangnya agak sedikit supel, tapi asik. Pandai, jenius. 
Tak terasa sore sudah berbicara, aku dan dia pulang tanpa ada diskusi lagi. Sesampainya di kamar,aku merasa bingung akan sikapnya yang supel itu. Tapi aku tak begitu menyerah saja untuk menghapadinya.
Bumi terus memutari Matahari, bayang-bayang mimpi indah masih merasukiku, ada banyak cerita diakhir pekan ini, dan tak terasa tibalah saatnya ajang yang menarik itu. Aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ada sedikit yang berbeda di pagi ini. Yah sepatu baru. Sepatu baru ini hadiah dari kawanku yang sekilah di Negeri kanguru. Walaupun sedikit norak, tapi tak apalah untuk menghargai pemberian sahabat dekaku ini.aku sudah berdiri di depan pintu, menunggu bapak menggoncengku dengan sepeda ontelnya. Tak alama kemudian aku bersalaman dengan ibu dan adikku, memohon doa darinya. “Assalamu alaikum Bu”. Akupun berangkat ke sekolah dengan jutaan harapan. Tak lama kemudian akupun sampai di depan gerbang sekolah. Suasana sepi. Dedaunan masih berserakn disekitar sekolah. Tiba-tiba pak Edi lewat di garis bola mataku sekitar dua puluh meter, ”Pak, Ulfah sudah datang,?”,tanyaku. Pak Edi hanya terdiam membisu. Belum menjawab pertanyaanku. Aku bingung. Tak disangka Pak Edi menangis. Mengajakku dududk sejenak dekat kolam ikan hias. “ Ada apa dengan Bapak, Kok menangis sich pak?”, tanyaku peanasaran sambil memerbaiki lengan bajuku. Pak Edy masih terdiam. Masih mengusap air matanya dengan sapu tanagn merahnya. Bersamaan aku bersin, Pak Edy pun berkata dengan suaranya yang menyedihlkan, “Ulfa masuk Rumah sakit nak, kemarin dia kecelakaan”. Aku tak bisa berkata banyak, hanya air mata yang menemaniku di pagi itu. rasanya tubuh baru saja dipenggal hidup-hidup. Susuah untuk bergerak dan berkata-kata.Aku seakan tak percaya dengan semua itu. Pak Edi hanya bisa melihatku saja,tak ada satu kata sambungan untukku.
Siang harinya aku ke Rumah sakit bersama kedua Orang tuaku. Ku lihat tubuh Ulfa terbaring lemas di atas kasur dan di dampingi oleh kedua orang tuanya yang di hiasi dengan tangisan pilu juga.”Selamat siang Bu, Pak”,kataku yang berada di depan pintu.”Silahkan masuk Nak”,lanjut ibu Ulfa. “Aku teman Olimpiadenya Ulfa Bu,aku juga turut berduka cita atas musibah ini”.Belum sempat ibu ulfa menanggapi pembicaraanku,tiba-tiba seorang Dokter bertkaca mata masuk menghampiri kami sambil membawa selembar kertas.”Kami dari tim Rumah sakit sudah sangat berusaha dengan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan anak bapak,tapi Tuhan berkata lain. kedua kaki anak bapak tak bisa kami selamatkan dengan sempurna”,jelas Dokter itu. “Maksudnya?”Tanya Ibu Ulfa penasaran. “Anak ibu di nyatakan lumpuh seumur hidup. kerena kecelakaan yang menimpahnya kemarin sangat parah sekali. Sekali lagi kami mohon maaf”,lanjut Dokter itu. Tiba-tiba Ibu Ulfa jatuh pingsan. Sulit sekali rasanya mengambil nafas waktu itu. Aku hanya bisa terdiam saja, tak ada kata yang keluar dariku. Sementara ayah Ulfa hanya bisa pasrah dan menggendong kembali sang istri.
Ulfa juga hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya yang malang itu. Lalu kudekati dia.”Ulfa tak usah sedih, mungkin ini yang terbaik bagi ulfa dari Tuhan”. Dia masih menangis dan menangis. Lalu aku berpamitan. Meninggalkannnya dalam keadaan kesedihan. Meninggalkannnya, tapi bukan untuk selamanya.
Tujuh tahun kemuduian……
Sekarang aku sudah kerja di industri minyak,jabatanku lumayan tinggi,yaitu di  bagian Marketing. Hijrah ke Jakarta memang tergantung dari nasib baik atau buruk. Tak banyak orang yang hijrah ke Jakarta untuk meraih kesuksesan namun akhirnya hidupnya masih terlilit sewa kontrakan, tak banayk pula yang Hijrah ke kota yang terjuluki “Lebih kejam dari ibu tiri’ ini meraih kesuksesannnya di Kota ini. Mungkin aku termasuk pada golongan yang kedua ini. Aku juga tak menyangka bisa bekerja di tempat yang sangat diimpikan banyak orang ini. Hanya berbekal Sarjana Ekonomi dari Universitas Hasanuddin Makassar, aku langsung bisa diposisikan di tempat ini.ini sebuah Anugerah Allah yang Maha kuasa. Kejadian tujuh tahun yang lalu itu sudah terlupakan di pita otakku. Tapi terkadang pula sejenak aku mengingatnya. Terkadang aku bertanya, “Apakah dia masih terebaring lemas?”. Yang jelasnya Doaku tetap ada untuknnya. Orang tuaku menyuruhku untuk segera menikah,melihat umurku yang semakin matang saja. Belum lagi orang tuaku sudah iri melihat saudara-saudaranya yang sudah memangku cucu-cucunya di sore hari sambil bermain di taman hijau. Mereka juga selalu berkata “Hasil keringatmu tidak akan berberkah sebelum kamu menikah”. Kata-kata itu menyimpan jutaan makna. Tapi, aku sering menyanggahnya dengan ucapan seperti ini “Sekarang dalam tahap pencarian Bu, doakan saja bu semoga dapat yang shaleh”. Perkantoran ini besok akan mendapatkan lahan baru untuk peluassan jaringan bisnis, artinya aku akan diajak, dan kebetulan sekali di daerah agak dekat dengan tempat kelahiranku.
Sesampainya di sana sempat terpikirkan olehku kalau tempat ini pernah ku kunjungi,”Tapi siapa dan kapan?”,tanyaku penasaran.”Apa betul ini tempatnya Pak?”, tanyaku keheranan pada Bosku. “Iya lah”. Jawabnya singkat. Aku mencoba mengingatnya ,lalu…., ”Iya, aku ingat. Wilayah ini tempat temanku Ulfa.Tapi di mana dia sekarang. Aku mencoba mencari tahu di mana ia sekarang. ku tanya masyarakat setempat tentang keberadaanya. Lalu, ku lihat seorang bapak dan ibu yang sudah sangat tua. Aku menangis melihatnya.Ternyata dia adalah orang tua Ulfa, teman SMA ku yang kecelakaan tujuh tahun yang lalu. Aku menangis melihatnya. Kemudian aku memeluknya. Ternyata dia juga masih mengingatku walaupun dengan pakaian yang mewah dan di lengkapi dengan dasi.”Ulfanya di mana Bu?, tanyaku penasaran. Dia tak menjawab,hanya menunjukkan arah. Lalu ku telusuri arah itu, dan tiba-tiba,…… aku menagis,bukan sekedar tangisan. Bahkan aku langsung berlutut memegangnya,seraya berkata “Aku tak kan rela melihatmu tersiksa begini saja. Maukah kamu menjadi istriku?”,lantunanku sedih.Ulfa hanya bisa menangis melihat ketulusan cintaku.”Tak mungkin kamu mau menikahi wanita lumpu seperti aku,sedangkan kau pria yang normal dan terhormat”,lantunan Ulfa yang di hiasi dengan air mata. “Bagiku itu tak penting, yang penting hatimu yang tak pernah lumpuh semangat hidup dari cobaan Tuhan selama ini. Sebab, aku sadar “Bukan cantik yang menyebabkan cinta, akan tetapi cintalah yang menyebabkan cantik dan keselurhan perasaan indah”.
Akhirnya kami menikah. kebahagiaan menyertai kami. Semua pihak kelurgaku sangat bahagia, terlebih lagi kedua orang tuaku. Di sinilah kenikmtan cinta yang hakiki. Semoga Tuhan mengeretkan cinta kami ,hingga ajalkan kan “Berkata….”


Terinspirasi Dari Sang Mantan Ulfah Ariany... 2006

NB: Nominasi 10 Cerpen Terbaik Tingkat SMA-SMK-MA Se-Yogyakarta 2009.





“MENGUKIR SEJARAH”



Sekuntum kisah bernuansa perjuangan hidup.....


"Jadi terkadang sikap menerima apa adanya itu memberikan kepuasan terbesar dalam diri seseorang, bukan hanya materi yang  bisa buat orang tersenyum. Banyak orang kaya, punya tabungan bermiliyar-miliyar tapi sayangnya hanya jagung dan singkong yang ia bisa makan. Tidak banyak pula orang kaya yang hidupnya selalu di liputi pertengkaran dalam rumah tangganya, begitu pula tak banyak diantara mereka yang kaya materi tapi di mata masyarakat mereka kurang di pandang. Namun, lain halnya jika sikap kepuasan hati yang di miliki oleh orang yang berokonomi lemah, hidup yang mereka hadapi begitu mulus, tak ada hambatan. Jika ada sesuatu hal yang menarik yang mereka temui mereka langsung tersenyum. Jadi intinya, bagaimana kita hidup, sikap menerima apa adanya harus kita tanamkan".

"Yaa Tuhan…,Adnan!!!", teriak ibu Adnan dari dapur. Pagi ini Adnan  baru saja menulis beberapa tumpuan kata pikirannya. Memang tiap hari Adnan selalu mewajibkan dirinya untuk menulis. Aku pernah Tanya padanya, "Buat apa sih kamu menulis?" tapi sebelum dia menjawab pertanyaanku, dia malah balas bertanya "Buat apa kamu bernafas?. Aku hanya diam. Menatapku dengan pandangan santai. "Bagiku, setiap hembusan nafas yang aku keluarkan adalah sejarah, setiap kata yang aku tuliskan hari ini akan menjadi sejarah". Jawabnya singkat. ia lalu meninggalkannku, menyuruh aku tuk merenungi. Adnan memang hoby menulis, pokoknya dia jadikan sebagian dari hidupnya. Walaupun keterbatasan materi yang sudah bertahun-tahun bersamanya tapi semangatnya tak pernah pupus. Kemudian Adnan buru-buru bangkit dari pulpen hitam dan buku tulisnya. "Iya bu, tunggu sebentar." Sahut Adnan keheranan. " Ada apa bu?", Tanya Adnan yang baru masuk dari mulut pintu dapur. "(Bingung dan heran) yang bawa beras sekarung ini siapa yah Nak? "(Heran) aku tidak tahu juga Bu". Lanjut Adnan.
Pagi ini entah Barokah apa yang menghujani keluarga ini. Rumah yang sangat sederhana, yang tidak ada penerangan lampu listrik tiba-tiba mendapat sekarung beras yang tak di tahu dari mana asalnya. "Ohhhh, mungkin itu dari juragan," lanjut Adnan yang memotong suasana heran. "Ah.., ga mungkilah Nak, kalau juragan mau ngasi itu biasanya bulan  oktober, nah sekarang kan bulan maret" jawab Ibu Adnan seraya memegang karung beras yng masih terikat rapi itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar "Tok-tok,tok!!!, bu Ratna!!!" " Nan ada orang tuh, cepat buka pintunya" perintah Ibunya. Adnan terdiam sejenak,mencoba menintip-ngintip sejenak. "Cepat!!!!," lanjut Ibu Adnan lagi.
Adnan bukannya malas, tapi dari suara orang di balik pintu itu kayaknya bukan orang biasa. Suaranya agak serat, seakan orang yang ingin minta segelas air di siang hari. Belum lagi pancaran sinar matahari yang menerobos masuk lewat dinding rumah yang terbuat dari bambu, Adnan semakin penasaran saja. Sekarang Adnan tinggal membuka pintu, tapi dia ragu. Menoleh ke belakang, melihat ibunya yang mengintip-ngintip juga. "Ayo buka," kata Ibu Adnan dengan gerakan mulut sambil memberikan isyarat lewat tangan kanannya. Adnan terdiam sejenak. Manusia di luar itu semakin lambat memanggil nama Bu Ratna."Bu Ratna!!!!". Dengan bekal kata Bismillahirrahmanirrahim di siang hari, akhirnya Adnan membuka pintu, "Srettttt".
Betapa kagetnya Adnan melihat makhluk yang membuatnya penasaran dan sempat takut beberapa menit yang lalu. Adnan girangnya bukan main. Melompat-lompat gembira siapa yang ada di hadapanya sekarang. Bu Ratna mencoba tuk mengenali orang yang baru datang itu. Adnan belum memeluknya. Masih di liputi kegembiraan yang bukan main. Masih belum beraksi. "Ayah!!!," serentak mereka berteriak, berusaha tuk memeluknya, mendapatkan posisi yang yang stabil, memeluk hangatnya kerinduan kepada sang Ayah. Indahnya pertemuan ketiga hati ini di siang hari. Penuh dengan senyuman.
Ayah Adnan baru saja datang dari Batam. Setelah sekian lama berkelahi dengan panasnya matahari dan kotornya debu di tanah yang kaya itu, akhirnya siang ini akan menjadi saksi bertemunya tiga insan yang saling merindukan. Ayah Adnan atau pak Sugi memang seringkali pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu, dan ini adalah kejutan yang lima kalinya. "Gimana kerjaanya di sana Pak?" Tanya sang Istri lembut. "(Terdiam sejenak) Alhamdulillah masih lancar" jawab pak Sugi sambil memegang kerudung putih sang Istri.
Pak sugi melihat keadaan rumahnya dengan raut muka sedih. Atap-atap rumah sudah bocor, maka jika hujan sudah reda, kerjaan mengepel sudah menjadi agenda rutin. Belum lagi dinding rumah sudah mulai termakan usia. "Maafkan aku Bu, Nak, aku tak bisa membahagiakan kalian. Ayah janji suatu saat nanti kita akn tidur nyaman, dinding rumah akan ayah ganti dengan yang baru". Kata Pak Sugi dengan suara kalem, namun penuh dengan keinginan kuat.
"Ayah, Adnan sudah banggga ko' hidup begini.kita sudah mendingan hidup kaya gini, dari pada orang-orang yang hidip di bawah jembatan. Dan yang aku lebih bangga lagi kekeluargaan kita nyaman sekali. Di bandingkan banyak orang kaya di luar sana , tapi kekeluargaan mereka seringkali rebut." Pinta Adnan panjang lebar seakan baru saja memberi semangat baru untuk keluarganya.
Adnan semakin di peluk erat oleh Ayahnya. "Ayah bangga punya anak kaya kamu." "Ko' kaya aku sih??", Tanya Adnan. "Lho.. terus harus gimana?", Tanya Ayahnya penasaran.
"Bukan kaya aku, tapi seperti ini." Lanjut Adnan yang agak membingungkan kedua orang tuanya. "Kamu makin pintar saja, hehehehe!!" Ayah Adnan baru mengerti.
Sekarang hari kamis, Adnan tidak berangkat ke Madrasah, katanya hari tenang sebelum, ujian semester genap tiba, dan hari ini ia tak menduga kalau kejutan hati akan datang. Ibunya pun sama, biasanya setiap hari kamis ia keliling kampung menjajakan jasa cucinya. Biasanya ia bisa dapat sepuluh ribu hingga dua puluh ribu. Tapi hari ini lain, tangannya lecet dan perih. Namun keajaiban datang bersamaan.  Tiba-tiba ada beras satu karung terikat rapi dan tak kala bahagianya sang suami tiba-tiba datang. Alangkah senangnaya. "Oh..iya, besok pagi kita ke makam yah!!!", kata Pak Sugi sambil membawa tasnya menuju ke kamar. "Aduh.. Pak, kemarin aku dari makamnya Paman terus aku ga tahu nisanya miring gitu," sambung Adnan dengan nada kecewa."Paling tertiup angin," sambung Ibunya. "Yah.. besok kita ziarah sekalian memperbaikinya," lanjut Ayahnya santai.
Adnan anak bungsu. Tiga tahun kemarin pamannya di panggil dengan  cepat oleh Allah. Ajalnya di jemput ketika ia ikut pergi menerima BLT di lapangan. Nyawanya tak bisa terselamatkan kerena kekurangan oksigen akibat terinjak-injak oleh massa yang berjumlah banyak. Keluarganya  sangat sedih sekali ketika mendengar kabar naas itu, termasuk Ayah Adnan yang satu darah. Belum lagi kekecewaanya terhadap pemerintah pemerintah yang tidak bisa mengatur dengan baik sistem pembagian itu.
Jarum pendek jam dinding mendarat di angka dua belas pas. Rasa tawa dan senang sudah hanpir redup. Bu Ratna masuk ke dapur, mengambilkan segelas air untuk sang suami. Sementara Adnan sibuk merapikan pakaian ayahnya yang baru di bawanya. Berselang beberapa detik terdengar suara Adzan Dzuhur berkumandang dengan merdunya. Indah sekali. "Pak, SPP Adnan bulan kemarin sama bulan ini belum di bayar. "(Menatap sejenak) sabarlah Nak. Ayah juga merasa malu menjadi seorang Ayah yang tak bisa membahagiakan anaknya." Lanjut Pak Sugi dengan nada agak sedih. Sebenarnya, bukan karena pak Sugi tak punya uang. Tapi ketika dalam perjalanan menuju ke rumahnya ia melihat sebuah keluarga yang menurutnya hidupnya sangat menyedihkan sekali. Bayangkan saja, kedua orang tua yang mempunyai anak lima orang harus hidup di bawah jembatan panjang. Sampai-sampai Pak Sugi meneteskan air mata melihat keluarga itu, dan merasa bersukur masih bisa hidup lebih layak, walaupun tidak begitu juga. Jadi tinggallah selembar uang seratus ribu yang menemani perjalanannya, hingga sampai ke rumah. "Sudah lah pak kalau memang niat bapak tulus tuk membantunya, maka balasan pasti akan datang, dan lagian juga ibu masih punya tabungan ko'," pinta Bu Ratna yang berusaha membawa jiwa sang suami ke alam yang penuh rasa sabar.Adnan hanya bisa mendengar dengan khusuk rintian kedua orang tuanaya dengan santai.

Seminggu kemudian

Pagi yang sangat cerah. Puluhan burung gereja sedang asik bermain di di udara sana . Embun pagi masih pula malas untuk beranjak dari kediamannya. Tak ada makanan special di pagi ini. Hanya ada semangkuk sup dan tempe hangat yang menemani sarapan mereka. Setelah sarapan Adnan langsung berangkat ke sekolah di temani oleh sepasang sepatu yang sudah lanjut usia. Adnan memang bukan anak gengsian. Apa yang ia dapatkan, itu yang ia jalankan. Di sekolah ia terkenal sopan, pintar dan rajin. Teman-temannya selalu segan padanya, walaupun masih duduk di bangku kelas satu Madrasah aliyah cita-citanya sudah bisa di banggakan oleh guru dan orang tuanya. Sementara pak sugi pagi ini akan mengerjakan atap yang bocor. Peralatan sudah siap.
"Bu, Adnan pulang sekolah jam berapa?" Tanya Pak Sugi sambil menaiki tangga menuju atap rumah. "Ya paling jam satu Pak." Akhirnya tak ada lagi obrolan di antara mereka, karena Bu ratna juga sedang sibuk menimba air  dari sumur yang usianya hanya beda dua hari dengan usianya sendiri.
Siang sudah menyapa. Matahari semakin gagah memancarkan sinarnya. Mungkin tinggal dua atau tiga genteng lagi yang kan di pasang lalu selesai."Pak, makan siang sudah siap.” Kata Bu Ratna singkat. "Iya, tunggu sebentar. Tapi, anak kita ko belum pulang Bu.'"
"Ah paling sebentar lagi datang." Jawab Bu Ratna santai.
Akhirnya Pak Sugi pun turun, bersama keringatnya. Lalu bergegas mandi. Sementara Bu Ratna sudah duduk lesehan, menunggu sang suami datang dan anaknya tuk makan bersama. Jam sudah bersuara pada pukul dua siang. Adnan tak kunjung pulang juga. Orang tua Adnan sangat khawatir. Beginilah perasaan orang tua yang diberikan kepada kedua insan ini. Sangat beda dengan kasih sayang seorang pacar. Nasi hangat yang di masak oleh Bu ratna lewat tungku, mulai dingin, begitu pula dengan lauk yang lainnya. Alis pak sugi agak bengkok, lain halnya dengan wajah bu ratna yang kedua belahan pipinya sudah digenangi oleh kesedihan.
“Ibu tunggu di sini saja, biar ayah yang mencarinya,” sahut pak sugi, sambil bangkit dari lesehannya dan ditemani oleh topi coklatnya. Tak ada kata yang terlontar dari belahan bibir bu Ratna, di dalam hatinya pasti hanya doa yang ia panajtkan kepada anaknya, dan masih besedih. Setelah sekitar sepulu meter pak sugi berjalan, bukan sekedar berjalan, ada jutaan perasangka yang sedang menghantui dirinya, dan akan ada satu perasangka yang akan terjadi. Semakin lama pak sugi berjalan, semakin cepat langkahnya untuk keluar dari jalan setapak. Tiba-tiba ia berhenti sejenak. Memperhatikan keramaian dari depan sana . Jalan yang menghubungkan antra jalan poros dengan jalan masuk perkampungan. Kemudian seseorang yang mengenal pak sugi menghampirinya. Ternyata dia adalah Jarot, petugas keamanan desa. Sepertinya pak sugi sudah bisa menebak skanario Allah di siang hari ini. Belum sempat jarot melaporkan berita duka itu, pak sugi langsung berlari menuju ke keramaian itu, melewati jalan setapak yang dikelilinggi pohon-pohon mangga, dan jalanan yang masih berpasir kuning basah. Semua pandangan dikerumunan, langsung tertuju pada pak sugi yang berlari yang ditemani oleh tangisannya. Sesampainya di sana , pak sugi hanya bisa pasrah melihat keadaan anaknya Adnan yang tubuhnya lemas tertabrak truk pengagkut pupuk. Namun masih ada nafas yang berjalan diantar mulut dan tenggorekan adnan, itu artinya masih ada harapan untuk hidup. Masyarakat hanya bisa terdiam lemas. Adanan masih bisa bicrara, namun sepatah kata saja sangat sulit di ucapkan.
Tak lama kemudian akhirnya adanan dibawah ke rumah sakit terdekat, setelah beberapa waktu tadi menunggu mobil pak lurah.
Di rumah sakit adnan masih terbaring lemas, setelah dua jam lamanya dokter dan para perawat lainnya membatu sekuat tenaga untuk bisa menyelamatkan nyawa anak berbakti ini. “Bapak harus pasrah dan tawakkal saja, anak bapak divonis lumpuh seumur hidup dan buta.” Kata Dokter dengan mata berkaca-kaca. Sulit untuk dibahasakan, pak sugi bukan main kagetnya, hingga sampai ia jatuh pingsan. Sungguh skanrio Allah yang begitu dahsyat namun penuh makna.

Dua tahun kemudian….

Adnan kini sudah mulai pandai berjalan dengan kursi rodanya, walaupun sesekali sang ayah atau ibunya membantunya. Namun ada satu hal yang mengherankan dari adnan, walaupun dua tahun yang lalu ia telah divonis oleh dokter buta, namun kegemarannya menulis tak pupus juga. Sesekali teman akrabnya syarif pergi mengambil tulisannya untuk diterbitkan di majalah-majalah kota atau koran kota , dan pastinya tulisannya selalu ditunggu-tunggu dan digemari. Ini sebuah pelajaran besar bagi kita. Adnan memang lumpuh dan buta, namun semangat dan kreativitasnya jangan dikatakan lumpuh. Sebab, baginya menulis adalah mengukir sejarah.

Teruslah berkarya Adnan temanku.

 Di mulai di kota Jogja bulan july 2009, di akhiri di Makassar (Takkalasi), 20 January 2010






RIWAYAT PENULIS

Nama kecilnya ketika SD Lalif, filosofinya kurang jelas juga. Masuk jenjang pendidikan MTS di Pon-Pes “Al-Ikhlas Ad-Dary” DDI Takkalsi, Barru, namanya berubah dengan “Syarief”. Tahun 2006, hijrah ke Yogyakarta melanjutkan jenjang pendidikan MA di Pondok Pesantren “Ali Maksum” krapyak, namanya berubah drastis menjadi “Bugis”. filosofinya mudah sekali. karena dari ratusan santri yang bersekolah di Madrasah itu cuma dia yang berasal dari seberang Sulawesi, Makassar dan berdarah bugis. sebut saja Muhammad Syarief  Dzul Fahmi Abdullah, putra asli sulewesi selatan kelahiran 15 Desember 1990 silam.
Anak ke tujuh dari sebelas bersaudara ini, menemukan hobi menulisnya ketika umurnya menginjak 16 tahun. yang baginya menulis itu “Sejarah”. “Menulislah engkau jika engkau tak mau dilupakan oleh sejarah”, itulah prinsip hidupnya.
Syarief yang kini masih tercatat sebagai santri di salah satu Pondok Pesantren Qur’an “Al-Imam Ashim” di Tidung, Makassar ini masih banyak menghabiskan waktunya mengkaji Qur’an dan menulis catatan harian.
baginya dimanapun kita berada kreativitas harus tetaap ada.


untuk lebih lanjut dia terkadang ada di: Syndibed@yahoo.co.id
atau beralamat di:

“Yayasan Al-Imam Ashim Pondok-Pesantren Tahfidzul Qur’an”
Jl: Tidung Marioli lrg.7 no.11, kel:Tidung, Kec: Rappocini, Kota Makassar, kode pos 90222
tlp:0411 884906/5062686. a/n: Muh.Syarief.











Maandag 25 Maart 2013

“PERGI”



Secangkir embun pagi….

Add caption

Sudah tiga tahun aku tinggal di kota pelajar ini, Jogja. Dulunya aku kurang bisa beradaptasi dengan suasana di kota budaya ini, tapi lama-kelamaan akhirnya aku sudah mulai meras aku harus bisa beradaptasi dan sampai sekarang, Alhamdulillah “Bisalah”. Tiap malam seperti ini, aku selalau duduk sendiri, termenung sendiri dan di temani secangkir kopi panas di teras kosku, tapi, seringkali juga sebuah buku bacaan menemaniku di malam yang gelap ini. Memang, ketika aku duduk sendiri ada banyak ide-ide yang muncul. Entah kenapa. Di bandingkan jika aku nongkrong bersama teman-temanku, rasanya tak pernah ada ide kreatif yang terpikirkan olehku..

“Bro!!! ke sekaten yuk!!,” kata Ari yang tiba-tiba datang dari belakangku, menghilangkan semua ide yang baru saja ku gali dari akarnya. “Kamu itu bikin kaget aja!!,”lanjutku sambil memukul pundaknya. “Sory bro!!,” gimana mau ke sekaten ga?,lanjut Ari. Aku berfikir sejenak. Kemudian…… “Ayo!!!, tapi yang lainnya mana?.” “Mereka sudah nunggu dari jam tujuh tadi bro!!!.” “Ayo, cabut….,lanjutku sambil membawa tas sampingku.

Ketika dalam perjalanan…………..

 Aku merasa ada yang ganjal dalam benakku ini, entah ada apa. Rasanya ada rasa was-was dalam jiwa ini. Aku tak melanjutkan langkah. Aku terdiam sejenak, hingga aku tertinggal jauh dengan Ari yang jauh di sana. “Astagfirullah!!!!, Ri, aku lupa kalau malam ini aku sudah ada janji sama Pak Subhan untuk pergi acara Maulid di gunung kidul, kataku sambil berlari menuju ke arah Ari. “Walla… kamu ini, gimana toh!!!”,lanjut Ari. “Jadi gimana dong, aku juga ga enak sama Bapaknya.” Kataku. “Ga papa lah, biar aku saja yang nyusul teman-teman di sana, kamu ke Pak Subhan saja cepat, nanti di marahin lagi”, pinta Ari yang begitu menyentuh. “Makasih yah, salam saja buat teman-teman yang lain”, kataku. “Maaf  banget yo!!!!,”lanjutku lagi.
Malam masih gelap, jangkrik-jangkrik berbunyi begitu nyaring, entah pesta apa yang mereka sedang adakan di kediamannya. Tiba-tiba saja ada petir, lalu…………,hujan pun turun dengan lebatnya. Aku langsung berlari kencang dangan  sekencang-kencangnya ke rumah Pak Subhan. Aku tak mau menyalahi janji padanya. Setahuku Bapak itu sangat disiplinnya bukan main. Jika ia mengatakan jam segini, maka jam segitu pula. Tak sama dengan kebanyak orang yang selama ini, tak tepat waktu. Mungkin juga aku. Semakin kencang aku berlari, hujan malah semakin rendah saja. Sepuluh menit kemudian, akhirnya aku sampai di kediaman Pak Subhan dengan basah kuyup. “Untung saja aku bawa salinan,” kataku dalam hati. Setelah aku kembali rapi, akhirnya aku, beserta keluarga Pak Subhan akhirnya berangkat menuju acara Maulid dengan mobil Sedannya yang sudah berumur tiga puluh tahun itu katanya. Ku lihat jam Digital yang melengket di depan kursi mobil menunjukkan pukul 22:13. Orang-orang masih rame. Begitu pula lampu-lampu jalanan masih bermain dengan keramaian malam. Indah sekali kota Jogja ini.

Di depan sana, terlihat sebuah keramaian. Entah keramaian apa. Tapi kayaknya sangat rame. Bahkan sempat terjadi kemacetan. “Bed!!! coba kamu lihat ada apa di depan sana,” kata Pak Subhan padaku. “Iya Pak.” Aku berjalan dengan biasa saja. Kemudian aku mulai menyeludup dari sela-sela keramaian itu, dan ternyata ada kecalakaan maut. Sebuah motor rupanya. Aku mulai mengenali motor itu. “Tidaaaaaaaaaaakkkk!!!, terikanku yang memecahakan suasana keramaaian itu. Sungguh tak bisa ku tahan air mata ini, ketika teman akrabku harus terkapar di jalan yang beraspal. Darah terus mengalir dari kepalanya. Padahal setengah jam yang lalu barusan saja kami bersenda gurau. Sebenarnya, ada hikmah juga yang bisa ku petik dari peristiwa ini. Bisa saja ketika aku ikut bersamanya ke Sekaten malam ini, mungkin aku menjadi korban juga. Tapi kesedihanku juga tak bisa ku ingkari lagi. Dia juga temanku. Teman yang selama ini banyak mengajariku bagaimana menghadapi hidup. Tubuhku begitu lemas melihatnya. Aku hanya bisa pasrah melihatnya, ketika jasadnya di angkut oleh Tim Medis. Hanya kesedihan yang menemaniku di malam itu. Aku berdoa semoga ia akan selau mengingatku di alam sana, bahkan akupun terus mendoakannya.

Selamat tinggal kawan……..

Syarief El Mahmudy
sackan thoellab
Jogja,2009

Vrydag 22 Maart 2013

“Tak Kala Indomie Menyapaku”


Ini Ceritaku……Apa Ceritamu???


By: Muhammad Syarief
 Sebuah kisah nyata, yang masih teringat olehku. Walau umur semakin hari semakin bertambah, tapi untuk sepenggal kisah ini, tak bisa ku lupakan.

Cerita tentang diriku dan indomie sebenarnya dan sesungguhnya kujalani tanpa kusadari, dan baru sekarang aku menyadari indahnya menikmati masa kecil bersama indomie. Selain aku bersekolah, aku juga rutin membantu kedua orangtuaku berjualan nasi kuning di pelabuhan. Aku beda dengan anak-anak zaman sekarang. Anak-anak SD zaman sekarang  pulang dari sekolah larinya ke depan computer, ngapain? Ngapain lagi kalau bukan facebook-kan. Dahulu aku, setelah pulang dari sekolah, aku langsung  ke warung membantu ibuku berjualan nasi kuning di pelabuhan. Termasuk membantu ibuku berjualan indomie siram. Begitupula membantu Ayahku mengumpulkan pembungkus Indomie untuk dijadikan undian.

Begini ceritanya.

Kendari, Tahun 1999 silam.

Sore itu, ayahku baru saja datang ke warung. Seperti biasanya dengan membawa buku bacaan, pakaian istiqomahnya, celana kain, dan peci andalannya. Tapi ada sesuatu yang beda. Lain dari pada hari yang lain. Dia datang dengan senyuman yang menawan. Ada apa gerangan, tanyaku dalam hati. Setelah meneguk kopi hangatnya. Dia membuka pecinya, meletakkan bukunya. “Ada undian berhadiah lagi Nak”.singkat. “Undian apa Ba’ba”, tanyaku santai. “Indomie”. Lanjutnya singkat. Aku tersenyum riang gembira. Sebab pekerjaan ini sangat ku sukai. Seperti undian-undian sebelumnya. Berpetualang dari kali ke kali, kios ke kios bahkan dari bak sampah satu ke bak sampah lain, mencari pembungkus Indomie yang nantinya akan di kirim ke Jakarta. Jika mujur tentulah ada hadiahnya. Seperti itulah bayanganku jika berpetualang mencari pembungkus indomie. Walaupun hadihnya saat itu yang ditawarkan sangat sederhana, tapi entah kenapa aku bersemangant sekali dengan yang satu itu.  Tak banyak kata lagi yang ku lontarkan. Aku bergegas mengganti seragam sekolahku. Lalu siap dengan karung besarku dilengkapi dengan kayu yang nantinya untuk menagais-ngais pembungkus indomie yang terlihat oleh mataku.

Matahari mulai kejam. Kejam dengan sinarnya yang membakar kulit. Tapi itu bukan sebuah hambatan bagiku. Kumulai aksiku saat itu di pinggir laut. Saat aku mulai menulis ini, hatiku terasa perih.  Teringat masa laluku yang penuh dengan rintangan.  Satu hal yang baru kusadari. Perjuanaganku mencari pembungkus indomie saat itu, tidak sempat terpikirkan bahkan terbesit perasaan malu dan jijik. Karena memang kondisi keluargaku yang menuntut seperti itu, apalagi waktu itu ayahku tak tahu harus bekerja apa setelah tiga petak kiosnya habis dimakan sijago merah. Yah begitulah yang namanya kehidupan, walaupun sepenuhnya bukan masalah ekonomi juga, yang jelasnya aku menjalaninya dengan senang. Terkadang juga aku ditemani oleh kakakku. Kalau masalah ejekan-ejekan itu sudah menjadi hal yang biasa. Seperti halnya ketika teman-temanku mengatakan kepadaku “Anak pak Ustadz kok jadi pemulung”, itu sudah biasa, bahkan kujadikan angin lewat semata. Satu kata kunci mengapa aku tak malu melakukan hal itu, karena bagiku itu perbuatan halal, dan tidak merugikan orang lain, bahkan membawa manfaat tentunya.

 Apalagi pekerjaan seperti itu sudah ku anggap ringan, kerena memang aku terlahirkan dari keluarga yang etos semangat kerjannya kuat. Sesuatu yang unik bagiku dan yang masih ku ingat, sasaran pembungkus indomie yang kukejar dulu, bukan saja pembungkus indomie yang masih bersih. Pokoknya semua. Entah itu yang kotor atau kusut, yang penting masih layak kirim semua ku masukkan dalam karungku. Karena proseses pencucian akan kulakukan pula. Seringkali disela-sela pemburuan itu jika aku dan kakakku merasa letih kami beristirahat sejeanak. Jika beruntung pula jika ada uang yang kami kantongi mie rebus indomie pun langsung menamani kami.

Setelah merasa puas dengan buruanku, aku pulang dengan badan yang sangat kotor, tapi hati terasa damai.  Terkadang pula aku pulang melewati kali yang ada di belakang rumahku  sambil mencucui badan.  Sesampai di rumah pun, kami langsung di sambut oleh ayahku dengan sekumpulan air bersih yang siap untuk mencucui bungkusan indomie, dilengkapi oleh tenaga  kerja yang banyak. Prosesnya  untuk di kirim ke Jakarta pun sangat sederhana. Setelah dicuci bersih, proses pengeringan diadakan secara manual, yaitu dengan menyediakan banyak kain yang sudah tidak diguanakan lagi, lalu di lap perlahan-lalahan agar tidak robek. Barulah setelah kering semua, malam harinya dimasukkan ke dalam amaplop. Amplopnya pun bukan amplop yang utuh yang dibeli di toko-toko. Untuk masalah amplop ayahku sangat kreatif. Ayahku memanfaatkan kertas-kertas yang tidak diguanakan lagi, untuk di buat sebuah amlpop, dan hasilnya pun sanagat bagus, layaknya amlpo baru. Untuk nama pengirimnnya terkadang ayahku mencantumkan nama-nama anaknya yang paling banyak mengumpulkan pembungkus indomie. Disela-sela pekerjaan pemasukan pembungkus indomie ke dalam amplop, lahir pula senda gurau di anatara kami bersaudara. Bahkan mantra-mantara pun ditiup semoga undian kami bisa naik nantinya. Seru sekali. Jika larut malam mendekam kami dengan dinginnya, santapan indomie pun hadir di depan kami,dari tangan ibuku yang menyayangiku. Yang paling andalan bagiku dulu adalah indomie rasa kari ayam, yang sampai sekarang masih rasa itu yang menyatu dengan bibirku.
Singkat cerita.

Hari yang ditunggu-tunggu itupun datang, jika sudah begitu, Ayahku menyuruhku untuk meliat pengumamannya diteleivisi tetangga. Seingatku sempat juga undian kami yang naik, tapi hanya untuk hadiah hiburan saja.  Kalau bapak masih penyimpan data-data pengirimya silahkan di cek langsung. a/n bpk. H Abdullah Colleng. Jln. Cakalang no 27 E. kel. Sauna. Kendari. Sulawesi tenggara.

Demikianlah kisahku bersama Indomie yang betul-betul orisinil. Semoga seetangkai kisahku ini bisa  memberi inspirasi kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa terkadang untuk menyatukan keluarga menjadi indah dibutuhkan sebuah hidangan yang membangkitkan selera, tentunya Indomie. Secara tidak sadar pula indomie banyak memberi sumbangsih kepada keluarga Indonesia, menyatukan keluraga Indonesia tak kala suasana tak mulai lagi bersahabat.

Semoga produksi Indomie bisa lebih maju sepanjang masa, produk-produknya bisa terpercayakan lebih mendalam, dan terus mengembangkan resep-resep terbaru untuk kembali memperkuat kebersamaan keluarga Indonesia. Maju terus indomie, buktikan kalau produk yang kamu ciptakan akan terus terpecayakan oleh masyarakat Indonesia dan seluruh penduduk dunia.

Sekian
Jakarta,  Senin, 27 Des 2011

Pengirim:
Nama: Muhammad Syarif Dzul Fahmi Abdullah
Status: Mahasiswa Islam Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an
Alamat: Jl. Batan 1 No. 63 Ps. Jum’at , Asrama RUSUNAWA PTIQ, Jakarta Selatan, Lebak Bulus, Cilandak 12440

Kontak: 085399519004/085241741763