“Bismillahirrohmanirrohim”
…..lalu, bagaimana jika cinta menyapa ketika hati ini belum siapa menatapnya, belum bisa berkata-berkata, belum bisa memberikan satu dua kata yang sama. Lalu, bagaimana pula ketika janji untuk saling setia tak bisa untuk dipegang. Pondok Pesantren “Al-Ihlas Ad-Dary” Makassar.Hari ini, hari keberuntunganku. Hari yang tak biasanya ku alami. Hari yang membuttaku selalu tersenyum tipis sejak mentari menyapaku tadi pagi. Bagaimana tidak, suatu kebanggaan terbesar bagiku untuk mewakili Pesantrenku mengikuti Olimpiade terbesar di Provinsiku. Sebuah ajang besar yang di laksanakan setahun sekali antara Pondok Pesantren se-Provinsi. Lombanya pun macam-macam. Mulai dari cerdas cermat, kaligrafi, pidato, baca kitab kuning, senam, dan lain –lain. Sementara aku, di tunjuk oleh Ustadzku pada lomba Pidato bahasa Arab. Yah, bukannya aku sombong, Di Pondokku aku cukup mahir berpidato. Aku juga tak tahu kenapa bakat ini menyatu denganku sejak aku masih duduk di bangku kelas empat Madrasah Ibtidaiyah. mungkin Ini juga sebuah Anugerah Tuhanku yang di berikan oleh keluargaku. Soalnya kakak-kakakku juga pandai berpidato. Belum lagi aku pernah juara dua Da’I Cilik tingkat Provinsi. Dari sini aku sadar, kalau ini sebuah nikmat dari Allah yangharus aku jaga baik-baik.Aku berlari menuju kantor Madrasah. Sebab, aku sudah telat sepuluh menit mengikuti rapat sebelum keberangkatan nanti. Senyum tipis masih menemaniku di sore ini. Sesekali aku berjalan lambat, karena jarak kantor juga agak jauh. Berjalan kecil-keci melewati teman-teman santri lain yang sedang asik bermain bola plastik. Ada juga yang santri yang sedang asik mencuci pakaian di sumur Tua. Ada juga santri yang saling antri mencuci beras di kerang Mushollah. Iniilah Pondokku yang aku cintai, Pondok yang telah lama memebesarkanku. Bagaimana tidak aku sudah berada di sini enam tahun yang lalu. Artinya semenjak aku berumur sepuluh tahun aku sudah berpisah jauh dengan orang tua. Hijrah menuntut ilmu, melewati laut dan pegunungan. Pondok yang kemandiriannya sangat terjaga.Beberapa saat kemudian…Aku sudah berada di depan kantor. Teman-teman lain sudah berkumpul. Aku agak malu masuk sebab rapat sudah di mulai. Belum lagi Santriwati lebih banyak di bandingkan santri putra. Tiba-tiba pak Muslimin, Ustadz yang akan membimbing kami nanti dalam Olimpiada ini melihatku.“Masuk saja Rif,”“Iya Pak.”Kemudian aku masuk. Sedikit memecah suasana di kantor. Melewati barisan teman-teman lain yang sudah serius duduk di kursi plastik mendengarkan arahan dari Ustadz.. Aku duduk di kursi paling belakang. Sementara itu jam dinding sudah bersandar di angka lima sore. Hari semakin sore saja. Lapangan yang tadinya ramai diisi oleh Santri-santri bermain bola kini sepi dimakan sorenya waktu. Tunggu!!!, aku bertanya-tanya dalam hati. “Siapa Santriwati yang memakai jilbab hijau itu?”. Wajahnya cantki sekali. Dia kelihatan tenang duduk di sana. Bibirnya merah dan tipis. Sungguh. “Astagfirullah!!,“ pintaku dalam hati. Setan barus saja merasuki otakku. Tak lama kemudian rapat pun dibubarkan. Seminggu lagi kita akan berangkat bertarung. Membawa nama Pondok, dan memenagkan pertarungan nantinya. Amin.Aku, Hamir, dan Amal pulang bersama sambil saling memegang bahu masing-masing. Aku menoleh sejenak. Melihat makhluk Tuhan berjilbab hijau tadi itu. Aku penasaran saja. Adzan Magrib kembali menyapa ratusan Santri. Aku terdiam sejnak di teras Mushollah. Aku merasa, kenapa aku harus mengingat dia terus. Wanita yang baru ku pandang sekali langsung membuat tubuh ini bergetar. “Apa ini yang namanya cinta?,” tanyaku dalam hati penasaran. Tapi, “Apakah ini yang di namakan nafsu?”. Aku semakin bingung saja. Malam harinya, aku tak bisa memejamkan mata.”Wanita berjilbab hijau itu masih ada dia di lesung pipiku”. “Oh, iya, hamir. Hamir pasti tahu sepenggal tentang wanita berlilbab hijau itu.” Batinku.Aku langsung bergegas menuju kamar Hamir yang tak jauh dari Asramaku. Hamir temanku yang cerdas. Orangnya agak kecil namun ia tak pernah dipandang sebelah mata.“Ada apa Rif?,” tanya Hamir yang menemukanku di luar pintu kamarnya.“Wah, kebetulan sekali, aku mau curhat sama kamu.”“Jangan di kamar,” lanjut Hamir.“Kenapa memangnya?,” tanyaku penasaran.“Kamu tahu sendiri kan, kalau teman sekamarku Rony tidur, semua tempat di kuasaiunya.”Aku tertawa. “Makanya dari dulu aku bilang, bilang Ustadz. Kalau begitu di atas Mushollah saja?”, tawarku padanya.“Ayo”.Di atas Mushollah…“Mau curhat apa memangnya?,” tanya Hamir yang membuka suasana malam.“Wanita berjilbab hijau di kantor tadi.” Kataku singkat dan malu.Hamir tersenyum, dan tertawa. “Gila kamu!, itu anaknya Pak Kyai.” Tegasnya.Aku tak bisa berkata-kata. Rasanya seperti barusan terjadi gempa bumi. Aku takut bukan main.“Serius kamu?”“Iyalah. Coba kamu bandingkan wajahnya dengan wajah Bu Nyai. Sama kan?”Aku diam sejenak. “Iya, yah.”Tak ada harapan lagi untuk banyak berpimpi dengannya. Malam itu juga, malam pertama aku merasakan cinta dalam hidupku. Sudahlah, cukluplah perasaan ini aku dan Tuhanku yang tahu. Cukuplah kata cintaku ku simpan buat diriku saja. Aku dan Hamir terus berobrol sambil berbaring santai dia atas sajadah, namun bukan lagi mengenai wanita berjilbab hijau itu lagi. Seminngu kemudian…Adzan shubuh memecah keheningan. Jangkrik-jangkrik bersholawat sejak tadi. Tetesan embun melekat di atap-atap Asrama Pondok. Ratusan Santri berhamburan memasuki Mushollah Tua. Mushollah yang sudah tak cukup lagi menampung banyaknya santri. Mushollah yang banyak mencetak Tokoh-tokoh jenius. Masya Allah, shubuh ini Pak Kyai tak bisa mememimpin sholat jamaah. Beginilah kondisi Pak Kyai yang sudah tak sekuat kuda liar lagi. Akhir-akhir ini beliau sakit-sakitan. Yah, kami dari santri merasa sedih juga kalau beliau terus terbaring dalam kehendak Tuhan itu. Mungkin hanya Do’a dan berperilaku baik yang bisa kami lakukan, agar beliau bisa sehat kembali.Sekarang sudah pukul 06:15. Mentari sudah bangun dari tidurnya setelah semalam melapor pada Tuhannya. Aku langsung bergegas mandi. Bersiap untuk berangkat Olimpiade. Tiba-tiba terdengar pengumuman dari Mushollah…“Diharapakan kepada seluruh santri dan santriwati agar berkumpul di Mushollah sekarang, tanpa terkecuali.” Entah pengumaman apa itu. Kayaknya penting sekali. Tidak sampai di situ. Para Ustadz pun terjun ke lapangan untuk lebih menegaskan. Aku semakin penasaran saja. Ada apa ini. Di sana sini terdengar pertanyaan yang sama dari sejumlah santri “Ada apa, ada apa, ada apa?.”Tak lama kemudian, ratusan santripun sudah berada dalam Mushollah yang kecil. Duduk tak beraturan. Ada yang sudah berseragam sekolah, ada yang membawa handuk, ada yang masih berpakaian kokoh, bahkan ada pula yang santri yang belum sempat membilas wajahnya dari segumpalan sabun. Yah, begitulah.Para Ustadz di depan sana saling berbisik-bisik. “Ustadz Muslimin menagis kenapa?,” tanyaku semakin penasaran dengan keadaan ini. Suasana sangat tegang sekali. Wajah-wajah hanya saling bertanya-tanaya. Ustadz akhirnya mengangkat suara, tanpa menggunakan Mic.Sungguh sulit ku terima dan ku percaya. Bahkan bukan hanya aku yang bernasib seperti ini. Kini Pak Kyai sudah tak ada lagi. Pergi untuk selama-lamanya. Kemarin shubuh adalah sholat jamaah terakhir yang kami lakukan bersama Beliau. Itulah sepenggal pengumuman yang disampaikan Pak Muslimin barusan. Wajah dan hati bersedih di mana-mana. Air mataku menetes, membasahi kedua belahan pipi yang pernah di pegang oleh Beliau. Aku langsung teringat ketika beliau pertama kalin mengajarkanku baca Al-Quran yang benar. Ma’ruf santri yang agak dekat dengan Pak Kyai mengamuk, namun langsung di amankan oleh kakak kelas lainya. Tak ada wajah riang. Hanya sedih dan tetesan air mata.Otomatis sudah. Olimpiade tahun kali ini Pondokku tak ikut serta. “Yaa Allah apakah engkau masih ada di sana”. Kediaman beliau terus didatangi para pelayat. Ku lihat wanita yang berjilbab hijau itu, yang ternyata bernama Ulfa meneteskan air mata juga. Dia anak Pak Kyai yang bungsu. Wajahnya bersih sekali. Sedih sekali. Hari ini hari bersejarah dalam hidupku. Bukan hanya aku, ratusan santri lainnya juga.Dua bulan kemudian…Sekarang aku sudah tahu kalau ternyata Ulfah juga berperasaan sama denganku. Entah dia banyak tahu dari mana tentang aku. Ternyata pandangannya yang selalu berpaling ketika berjumpa denganku itu hanya sebuah isyarat berharga. “Kau sungguh Sholihah.” Semua itu ku tahu dari buku Diarinya yang ketinggalan di Mushollha. Jelas-jelas kata-kata cintanya padaku tertulis indah di buku Diarinya. Sekarang aku tahu. Kami sudah saling cinta. Namun aku berjanji dalam jiwa ini, tak akan mengatakan perasaanku padanya. Ku tunggu waktu yang akan di kehendaki Tuhanku suatu saat nanti. 17 Ramadhan 1415 H.Malam ini, malam yang sangat mulia. Lebih Mulia dari seribu bulan. Bulan di turunkan Al-Quran ratusan tahun lalu. Sejak tadi pagi panitia Nuzulul Qur’an sudah menyipakan acara yang akan di laksanakan malam ini. Santri-santri sudah duduk rapi di luar Mushollah, sementara santriwati berada di dalam Mushollah. Para tamu sudah bersilah rapi juga. Malam ini aku ditugaskan membaca ayat Suci Al-Quran. “Insya Allah Siap,” mantapku dalam hati.“Mir, MC nya siapa?,” kataku sambil membuka lembaran Al-Quran yang akan ku baca nantinya.Tesenyum dan memegangku. “Ulfah.,” lanjut Hamir.Aku bengong. Memandang wajah Hamir. “Masya Allah!!.”Kini tibalah giliranku. Memulai aksi. “Aku harus memeperbaiki kembali niatku. Ini bukan karena Ulfa, tapin karena Allah”. Wajah Ulfah sangat sempurna ketika memanggil namaku. Ia tersenyum tipis padaku. Akupun membalasnya. “Cantiknya hamabamu ini yaa Allah.” Batinku.Tak terasa acara demi acara terlaksanakan dengan rapi dan lancar. Aku dan Hamir tak langsung pulang ke Asrama. Kami bersih-bersih dulu. Lalu kami pulang. Malampun larut dengan tenagnya. Suasana hening di pukul 23:05. Tiba-tiba saja, aku teringat oleh Pak Kyaiku. Aku menangis lagi mengingatnya. Tunggu!!!, Hamir menyruhku untuk ke Mushollah sekarang. Aku langsung ke sana saja tanpa memepertanyakannya lagi.Di teras Mushollah…“Kau mengagetkanku saja,” ucap lisan ini antara khawatir dan malu. “Ada apa kau memaggilku?,” tanyaku pada Ulfah agak grogi. Dia diam sejenak. “Kak, ini hadiah ulang tahun kakak dariku,” sambil menyodorkan kadomya.Aku memang aneh. Sampai-sampai hari ulang tahunku saja aku lupa. “Terima kasih,” ungkapku malu. “Cepat Ade” pergi dar sini, nanti ada yang lihat,” sambungku khawatir.Menatapku sejeanak, dan tersenyum “Assalaamu Alikum”.“Waalikum salam, semoga mimpi indah”.Malam ini indah sekali bagiku. Ini adalah kado pertamaku dari seorang wanita cantik dan sholihah. Aku sudah menagntuk. Kado itu masih ku pegang di dadaku, hingga aku tertidur bersamanya.Hari senin, 18 Ramadhan 1415 H.Pagi ini sudah libur. Aku sudah bergegas merapikan barang-barangku. Kado yang semalam Ulfah berikan padaku belum ku buka. Kata dia bukanya nanti sampai di rumah bersama ibuku.Aku heran. Drama apa lagi ini. Ibuku tiba-tiba datang ke Pondok. Tidak biasanya ibu ke Pondok. Bukannya juga senbentar lagi aku akan pulang. Pak Muslimin lalu menyampiriku dan ibuku. “Alhamduliillah ibu sudah datang,” sahut Pak Muslimin. Aku masih terheran-heran. Ada apa sebenarnya. “Mari Bu kita langsung ke kediaman Bu Nyai saja.” Lanjut pak Muslimin. Aku tak berkata-kata lagi. Aku dan ibuku menuju kediaman Pak Kyai dengan perasaan masih bingung. Ternyata ibuku juga belum tahu ada apa sebenarnya, kenapa Ibuku tiba-tiba di undang oleh Bu Nyai. Smentara itu, dari tadi aku perhatikan Pak Muslimin tersenyum saja. Semakin aneh saja.Di kediaman Pak Kyai…Aku semakin heran saja. Ternyata di dalam sana Bu Nyai, De Ulfah, beserta para Ustadz sudah berkumpul dan duduk rapi. Mereka sopan menyambut kami dan tersenyum. setelah kami duduk rapi, akhirnya Bu Nyai pun membuka Forum. “Sebelumnya kami minta maaf, kalau undangan kami sangat mendadak sekali. Saya sebagai Istri Pak Kyai hanya ingin menyampaikan selembaran wasiat dari beliau yang menginginkan Putri kami yang bernama Ulfah Ariani binti H. Abdillah L.c dinikahkan denagn putra Ibu.” Sungguh ini bagaikan mimpi, terasa aku berada di Planet Jupiter mendengar Ucapan beliau barusan. Aku seakan tak percaya. Dengan rauk wajahku yang keheranan, aku meminta beliau membacakan isi wasiat lagi itu dengan benar. Ternyata benar, namaku tertulis dalam wasiat itu. Ibuku terheran bukan main. Pandangannya langsung menuju padaku denga tangisan. Sementara Ulfah ku lihat tersenyum malu dan menunduk saja. Aku langsung meninggalkan Forum itu. Aku harus berfikir sejenak.Tidak mungkin aku langsung menerima isi wasiat itu. Aku tak tahu harus berbuat apa. Air mata antara sedih dan senang menemaniku di pagi hari itu. Akhirnya pertanyaan simple terlintas. “Apa aku harus nikah di usia yang mudah seperti ini?”, “Bukannya aku masih ingin melanjutkan studi yang lebih tinggi?”, “dan, apakah aku harus mengecewakan Pak Kyaiku, Bu Nyai dan De’ Ulfah?”. Aku pusing bukan main. Aku butuh waktu untuk semua ini.Sehari kemudian…Kini tinggal Allah Harapanklu. Tak ada tempat sandaran yang lain untuk keluar dari semua ini. Lalu, aku masuk ke gudang Pondok, membawa lilin dan korek api. Ini adalah hal yang pernah dilakukan oleh orang dahulu, untuk memutuskan suatu perkara setelah meminta bantuan dari Allah, membakar jari telunjuk di atas lilin. “Jika aku kuat menahan rasa panas lilin ini hingga usai aku membaca Al-fatihah tujuh kali, berarti aku harus menikah muda, dan cita-cita tinggiku tak ada lagi, namun jika aku tak kuat, artinya, ya tidak” ungkapku dengan mantap dalam hati.Mungkin sudah bukan takdir lagi. Aku tak bisa menahan rasa sakitnya. Aku menyerah di bacaan ke enam. Aku tak kuat. Aku meangais. Tanganku bengkak dan berdarah akibat panasnya. Hari itu juga aku dan ibuku kembali bertemu dengan Bu Nyai untuk memberikan jawaban. Jawabanku sudah mantap. “Aku belum bisa, dan siap” itu saja. Ibuku agak kecewa sedikit, namun ibuku bisa mengerti kalau aku masih ingin menambah ilmu dulu. “Sebelumnya, kami minta maaf. Dengan berat hati anakku belum bisa menerima isi wasiat yang di tuliskan oleh Pak Kyai,” lantun ibuku langsung.“Iya Bu Nyai, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, aku belum bisa dan siap”, jelasku menayambung perkataan ibuku.Aku lihat ibu Nyai agak kecewa, dan meneteskan aira mata. Dan tak berkata-kata. Tiba-tiba De’ Ulfah berlari meninggalkan Forum. Kali ini dia yang berlari meningglkan Forum. Aku tahu dia sedih mendengar jawabanku. Aku lansung menyusulnya dengan kesedihan pula. Tapi di mana dia. Aku mencoba mencarinya. Aku melihatnya. Di bawah menara Mushollah tua. Dia menagis dan tersungkur di tembok Musholla.“Ulfah, kalau kamu memang cinta padaku karena Allah kamu harus bisa menerima semua ini, kalau aku memang belum siap, kamu ingatkan kalau aku masih mau mencapai cita-citaku setinggi derajat Rosul”, lantunanku sedih.Dia masih terdiam dan menagis. Aku tahu ini sulit diterimanya, dan aku juga tahu kalau dia memang mencintaiku tulus. “ Aku hanya ingin menjadi istri kakak. Sampai kapan aku harus menunggumu?,” pertanyaan yang menjebak.Aku terseduh-seduh. Menatapnya. Lalu ku pegang kedua tangannya. “Kalau kamu memang cinta padaku karena Allah, tunggu aku lima tahun lagi, di tempat ini, di bulann yang sama, di jam yang sama”. Aku tak berkata banyak. Lalu, aku meninggalkannya yang masih larut dalam kesedihan. Sebenarnya juga aku tak rela, tapi mau bagaimana lagi. Hati ini juga terasa sakit. Hari itu juga aku langsung meninggalkan Pondok yang telah lama membesarkanku ini. Tapi, tidak untuk selamanya. Ratusan pandangan tertujuh padaku . suasana sangat hening. Bagaikan menonoton Film Drama kelas atas.Hari, rabu 19 Ramadhan 1415 H. menjadi bersejarah dalam kisah hidupku. Hari itu juga aku berangkat ke pulau Jawa. Menggapai satu, dua kata untuk hari-hariku nantinya. Ibuku sudah meridhohi apa pilihanku. Hanya bekal uang 300 ribu aku berangkat ke Yogyakarta lewat pelabuhan Makassar. Dan Alhamdulillah berkat pertolongan Tuhan dan Doa sang ibuku tercinta akhirnya aku sampai juga di Kota pelajar ini. Kota impianku sejak SMP dulu. Dalam perjalanan yang sama aku bertemu seorang santri yang bertujuan sama juga. Mungkin ini sudah Skanario Allah, santri itu megajakku masuk di Pondoknya saja, karena setelah semalam aku bercerita panjang tentang nasibku ini.Pondok Pesantern “Al-Huda” Yogyakarta.Alhamdulillah kini aku sudah tenang. Kejadian dua tahun lalu lalu, sudah mulai surut terlupakan dari benakku. Ini adalah tanggung jawab besar. Aku harus betul-betul serius dan giat belajar di sini. Terkadang juga, sesekali aku memikirkan Ulfah yang jauh di sana. Dalam hati ini aku selalu berharap, janjiku lima tahun sama Ulfah bisa ku tepati. Di pondokku ini aku banyak di ajarkan pelajaran yang belum pernah ku pelajari, dan indahnya kebersamaan.Tak terasa sudah, lima tahun sudah aku berada di Yogyakarta. Alhamdulillah, setelah lulus Madrasah Aliyah kemarin aku langsung mendapatkan pekerjaan menjadi guru di Pondok ini dan alhamdulillah lagi, aku bisa membiayai kuliahku sendiri. Seringkali ibuku menanyakan kepulanganku. Dan hari ini, aku ingin memberikan kejutan saja sama ibuku. Terlebih-lebihnya lagi menepati janji lima tahun lalu. Bulan kemarin ada wanita yang senang padaku, namun setelah aku mencerikan kisah cintaku dengan Ulfah ia malah mendukungku. Aneh. Perasaanku sudah mantap untuk menerima wasiat Pak kyaiku. Dengan ucapan “Bismillah” aku terbang ke Makassar. Banyak harapan dan doa.Pon-Pes “Al-Ikhlas Ad-Dary”, Makassar 18 Ramadhan 1418 H.Aku sudah berada di depan gerbang Pondok pertamaku. Tinggal melangkahkan kaki beberapa langkah saja, jodoh sudah ada di depan mata. Yah, begitulah harapanku saat itu yang sangat yakin. Lalu, aku masuk melewati bangunan pondok yang sudah banyak berubah, dan Mushollah yang belum juga di renovasi. Tiba-tiba teman lamaku Hamir menyampiriku. Kami berpelukan erat dengan rasa rindu yang tak terbendung. Aku tak membuang banyak waktu, tinggal beberapa menit lagi janji itu akan berubah menjadi kata “Penghianat”Aku sudah berdiri tegap di bawah menara Mushollah tua. Ada tawa dan sedih. Dari tadi, kayaknya Hamir menyembunyikan sesuatu dariku. Entah apa. Ulfah juga belum datang. Ratusan santri yang tak ku kenal melihatku. Mungkin mereka bilang aku orang gila. Tunggu!!!, dia datang. Namun agak berbeda. Air mataku meneyertaiku lagi. Diapun begitu. Tapi, agak ragu. Sekarang ia sudah di depan mataku. Aku belum memeganganya. Masih malu-malu. Lalu, aku duluan yang memeluknya. Dia agak ragu dan enggan. “Bagaiman kabarmu De’?.”Dia menagis dan dan memegang kandungannya. Dia tak berkata. Sementara aku lebih dari itu. Rasanya aku tak bisa berkedip lagi, melihat kenyataan pahit di depan mata. Aku menatapnya marah, dan sedih“Maafkan aku,” cuma kata itu saja yang ia katakan, lalu kembali membisu.“Tiba-tiba seorang Pria gagah, berbaju kokoh memanggilnya. “Istriku…,” dan pandanganya menuju ke arah Ulfah. sekaranga aku tahu. Aku lalu berkata “Ternyata kau tak mencintaiku kerena Allah, dan tak bisa setia. “ lalu, meninggalkannya yang masih berdiri dalam kesedihannya itu. Hati ini sakit bukan main. Mungkin tak ada obatnya. Kemudian dia berteriak padaku. “Tapi, aku masih sayang padamu”Aku menghiraukannya begitu saja dalam kesedihan yang tak bisa ku bahasakan. Tak ada kata selamat dariku Ulfah.
Sekian
Yogyakarta, 13 Ramadhan 1430 H
Sekilas tentang penulis:Manusia bernama lengkap Muhammad Syarief Dzul Fahmi Abdullah ini, lahir di Kota kendari 15 Desember 1990, hari kamis. Sekarang masih duduk di bangku kelas tiga Madrasah Aliyah, Pondok-Pesantern Krapyak Yogyakarata.Alamat rumahnya berada di sebelah Tenggara Indonesia. Jl: Titang 48, Kel: Sanua, Kec: Kendar Barat, Kota: Kendari. Sulawesi Tenggara. 93124.Lebih lanjut dia selalu ada di: E-mail, Facebook, Friendster. syndibed@yahoo.co.id/com.
NB: HAK CIPTA DILINDINGI ALLAH, DAN PENULISNYA.






