Oleh: M.Syarief El Mahmudy*
….., Lalu apa yang harus
ku ucapkan pada bibir yang terjajah ini?, terjajah dengan penuh keterasingan.
Aku tak mengerti dzikir apalagi yang dilantunkan serangga itu. Setelah
hujan melewatinya. Bayang-bayang mulai hengkang dari porosnya. Kunang-kunang semakin gemerlap menari di luar sana,
dan malampun menyelimuti
heningnya sore. Damai terasa menyatu,
indahnya malam ini. Tapi tidak untuk
selamanya. Aku tersandar dalam lamunan . tiba-tiba Azka, adikku melangkah, mendekati kesunyianku,
meretakkan semua
lamunanku. “Mas, sampean di golei abah”, sahut Azka sebelum memegang
buku bekas yang ku beli di pasar kauman siang tadi. Tak banyak kata dari Azka,
sampul yang manarik dari buku itu membuat lisannya tak banyak cakap,
konsentrasinya tertuangkan dalam sebuah buku; komik Satria baja hitam. Aku
meningglkannya, beranjak dari letihnya kedua kakiini setelahseharian berkeliling
Alun-alun kidul Jogjakarta, menjajakan peyek buatan Ummiku.
Kulihat abahku masih berkomat-kamit dalam dzikir magribnya, dengan surban putihnya, warisan dari kakekku membuatnya
terlihat sedikit beribawa.
Sementara Ummiku baru saja ku lihat mengusap kedua belahan tangannya yang
bersejarahdari segumpal do’a yang mulia, dan sedikit keyakinanku berkata semoga
ada doa yang diselipkan untukku. Abahku melirikku setelah bunyi pintu tengah
kubuka. “Assalamu Alaikum “, ucapku sambil berjalan pelan. Setelah mencium
kedua belahan tangan ayah dan ibuku, aku mulai melipat kedua kaki ini. Hatiku bertanya-tanya. Ada apa
gerangan. Tak seperti biasanya, abahku memanggilku dengan penuh keseriusan. “Le’ sesokoe ra usah bakulan
iwak peyek meneh”, selip Ummiku
memulai lembaran obrolan malam ini. Belum sempat aku menanyakan kenapa, abahku menyambung
perkataan Ummi, “Tadi Kyai Syam silaturrahim ke sini, dan aku sudah mengiyakan
kalau anak saya Nayaka akan ke pesantren Kyai Syam”. Aku terdiam. Tak ada kata
yang tersusun dari belahan bibirku hingga malam menenggelamkanku.
Sudah sejam lamanya aku bersama kucingku sesayanganku. Diteras rumah
bambuku. Perlahan-lahan teh cap gunung mulai mendingin ditelan embun pagi. Sementara Abah dan Ummiku masih tetap disubukkan dengan
dzikir paginya.
Sesekali Ummuiku
mengusap air matanya. Hati ibu siapa yang tak terisris jika mengetahui anaknya
sebentar lagakan pergi meninggalkannya. Tak ada
lagi lonceng yang berbunyi dariku diselingi teriakan “Es lilin....”. itulah aku. Suara itu akan terdengar lagi
kalau Kyai Syam sudah
mengizinkan aku pulang. Banyak hayalan yang berlabu di pagi ini, tapi itu tak
cukup mengurangi kesedihanku jua. Sudah tiga delman
yang melewati rumahku,
namun delman Pak Suryo
belum juga menghapiriku. Dari kejahuan sana Ummiku membuat kode untukku. Namun tak bisa ku pahami. Hingga
akhirnya dia menunjukkan jarinya ke arah utara, ternyata delapan Pak Suryo
sudah terlihat dari kejahuan bola mata yang masih dipenuhi kesedihan ini. Aku
sudah bersiap-siap. Dengan koper tempo dulu Mbahku membuatku terlihat
seperti perantau tingkat atas. “Mas,
jangan lupa kirim surat yah”, sahut Azka sambil mencengkram tangan kananku. Delman tua itu akhirnya
menghampiriku. “Ayo Le, sebentar lagi kereta akan berangkat”, sahut Pak Suryo pelan. “Tak banyak
yang abah inginkan darimu Nak, patuhilah Kyai Syam, berlaku dan berkata
jujurlah Nak, jangan lupa belajar yang giat Nak”, dawuh Abahku hingga mataku tak tahanmenahan
air mata ini. Ummiku pun sama, larut dalam tangisan. Semikin lama-semakin
tertinggal tiga orang yang kucintai selama ini. Delman Pak Suryo semakin cepat berlaju. Dari kejahuan sanaAzka melambaikan tangannya seraya berteriak, “Mas, jangan lupa
belikan komik Satria baja hitam yah”. Ungkapan Azka sedikit membuat hatiku
terasa aman dari tangisan ini.
Sesampainya di stasiun lempuyangan Jogja, perlahan-lahan ku mulai rapuh. Rapuh dengan
keramaian ini. Kereta kelas ekonomi ini terasa sumpek luar biasa. Hampir semua jenis manusia
ada si atas sepur ini. Kiri, kanan, depan dan belakang tak ada sopan santun lagi yang telihat. Tidak ada
lagi kata permisi lagi yang
terdengar. Ambisi dan ego mulai bergejolak. Aku tak tahan. Aku berjalan pelan menuju gerbong satu, tapi kata permisi dariku
masih terucap, sebab itu pesan dari Ummiku. Sepertinya semua gerbong kereta membeludak,
rupanya suporter Timnas yang memenuhi sepur ini. Lagi-lagi bola yang
membuat orang seperti ini. Tak banyak pikir, dengan modal Bismillah aku
beranjak dari keramaian ini. Kepala kereta pilihanku, walaupun resikonya tinggi, bisa-bisa ajal
yang menjemput, angin yang begitu keras. Tapi mau bagaimana
lagi. Inilah pilhananku.
Langkahku sedikit tertahan.ku berhenti sejenak. Pagar bambu Pesantren Al-Ikhlas, Dawar Boyolali
membuat dadaku terasa siap untuk
menerima semua tetesan pena. Walaupun sebanyak buih di lautan. Tiba-tiba seorang pria baya
mendekatiku. “Assalamu Alaikum,
Mas Nayaka?”. “Engge Mas”, lanjutku seraya berjabak tangan dengannya. “Pak Kyai
sudah menunggu kedatangan
Mas, monggo Mas”, tuturnya sopan membuatku hatiku tersa nyaman.
“Ahlan wasahlan Le”, dawuh Kyai
Syam sambil menggosok-gosok telapak kakinya dengan minyak urut. sepontan aku
langsung membuat tangan beliau berhenti memijat kakinya, tanganku dengan cepat
menggantikannya. Sambil sandaran dengan pelapah bambu kering Kyai Syam ku lihat membaca mantra. Entah mantea apa. Sepertinya doa
buatku. Semoga saja. “Besok kamu antar Nayaka ke kebun, mulai besok penjaga
kebunnya bukan kamu lagi”, Dawuh Kyai sambil menunujuk ke arah pria baya tadi
yang meyambutku, yang rupanya bernama Rewa. “Enje Pak Kyai”, sahut Rewa
dengan penuh ta’dzim. Akhirnya, adzan magrib memecahkan suasana syahdu ini.
Hatiku terasa nyamann bersama Kyai Syam.
Dalam suasana seperti ini, tak lupa do’a ku panjatkan .Selepas ku
usapkan kedua belahan tanganku ini, tak sengaja ku lihat perempuan berkerudung
putih. Wajahnya bersih. Dengan perlahan-lahan dia melewati
tirai hijau disampingku. Setangkai pertanyaan akhirnya keluar, “Siapa dia?”. Aku terbawa khyalan. Astagfirullah setan baru
saja menari difikiranku, ataukah ini rahmat.
Barisan shaf mulai
terlihat rapi, namun belum juga muadzzin berdiri.Santri-santri terlihat
tenang.Baju koko santri sederhana membuat hati kecilku ini ingin berkata lebih,
“Indahnya suasana pesntren. Belum lagi ku lihat dipojok sana bocah kecil yang
dengan lincahnya menyambung huruf demi huruf hijaiyyah itu tersusun rapi hingga
menjadi sebuah kalimat yang indah terdengar; fasih. “Subahanallah”, selipku
dalam hati dengan penuh kekaguman.Rupanya pak Kyai sudah berdiri tegak di bawah
mihrab kayu ulin.Memecahkan kekagumanku pada bocah kecil itu. Anadai ku tahu
seindah ini sauasana pesantren, maka doa yang paling pertama ku panjatkan
setelah aku keluar dari rahim ibuku adalah, “Bawa diri ini ke Pesantren”.Suasana
bertambah syahdu setelah shaolat magrib dihiasi oleh puji-puujian asmaul husna.Tak
terasa air mataku menyerah.
“Nay, dapat surat dari
Ummi”, teriak Rewa lantang dari kejahuan semak-semak.Mendengar teriakan itu,
sepontan sapu lidi yang pegang langsung ku tinggalkan, meninggalkannya sejenak.
Dengan masih dipenuhi keringat siang, ku berlari sekuat mungkin ke arah Rewa,
menjemput surat dari Ummiuku. Senyumku tak bisa ku rangkai.Hanya kesenagan yang
ada.“Ongkos Pos nya dong Nay”, canda Rewa menambah kesenanganku.Sejenak ku
tinggalakn Rewa.Dia hanya bisa terseyum tipis melihat kegiranganku.Ku lansung
mamanjat pohon asam; tempat istrahatku setelah membersihkan kebun Kyai Syam.
“Nay, dapat salam dari Zidna”, sahut Rewa sambil berjalan pulang meninggalkanku.
Kesekian kalinya sudah Rewa mengungkapkan kata-kata itu, akupun tidak begitu
meresponnya, karena ku tahu itu hanya candaan. Bahkan mustahil kalau Zidna,
putri bungsu Kyai Syam menitipkan salamnya kepada penjaga kebun seperti aku,
yang sama sekali tidak ada garis keluarga Kyai. Andai-andai itu ku buang jauh,
selemberan surat dari Ummiku membuatku beralih dari senyum zidna.Sudahlah.
Perlahan-lahan ku mulai membuka surat dari Ummiku. Ada tulisan Shawalat yang
mengawali tulisan Ummiku.“Nak, sebentar sore adikmu Azka akan dimakamkan, gunakanlah
uang ini. Pulanglah Nak”. Kesenanganku berubah drastis.Tak banyak yang bisa aku
ucap.Mulutku terkunci rapat.Bagai gembok raksasa mengunci bibirku.Tak sadar ku
terjatuh dari pohon asam,namun tak membuat fisikku terasa sakit, lebih sakit
dan perih mendengar kabar duka ini.Deras air mataku tak bisa ku hitung. Hanya
kata-kata “Azka,azka, dan azka yang tersu ku ucap”.Innalillahi wainna ilahi
rojiun.
Aku masih tersungkur
ddibawah pohon asam.Egoku saat ini tak bisa ku merdekakan. Bagaimana bisa aku
menatap adikku Azka yang terakhir kalinya, kalau Kyai Syam sedang ke Luar kota.
Pesan ayahku membuatku berfikir lebih.Mata air yang terpercik-percik
disampinkku membuat hati kecilku tergugah.Ku ambil air wudhu dari mata air itu
dengan selang yang terbuat dari bambu, hingga sholat Ghaib pun ku dirikan di
kebun rindang ini, sebagai penghormatan terakhirku kepada adik kecilku Azka.
Waktu terus berlalu.Tak
kenal yang sungguh-sungguh atau tidak.Meninggalkan semua wacana.Menertawakan
orang yang lalai atasnya.Ku mulai perhatikan pahatan demi pahatan yang ku
goreskan di pohon asam besar ini.Rupanya sudah 5 tahun berlalu dalam jejakku
dipesantren ini.Sesakali ku renungkan akan langkahku ini. Lima tahun
menghabsikan waktu bersama pohon asam.Membakar ratusan daun tiap hari.Mencabut
rumput liar disekeliling pohon tomat, cabe, kangkung dan buah-buah
lainnya.Namun semua itu tak membuatku berkecil hati.
Ku melanghkah.Dengan
sedkit kelahan yang menyelimutiku.Tetesan keringat membuat ku berjalan cepat,
sebelum santriwati melihatkku.Tiba-tiba langkakahku terhenti.Terpotong oleh
dawuh Kyai Syam. “le, tolong petikkan buah delima yang manis”,
singkat. “Enje Pak Kyai”. Kyai Syam langsung meningglkanku.Keringaku kemabli
mengalir alam langklh ke kebun.Hanya sepuluh buah delima yang ku petik, karena
Cuma itu yang matang.Tak banayk piker ku mabil pelapah pisang lalu ku bungkus
sepuluh buah delima itu. Seampainnya di depan rumah Pak Kyai, akun terhenti.
Aku bertanya, apakah layak dengan pakian yang kusm ini, badan yang penuh
keringat, belum lagi bau asap sampah deaunan aku layak masuk dikediaman beliau.
Belum semapt aklu melangkah kebelakang untuk menggati baju, Zidna
mengampiriku.Tak ada kata yang diucapkannya.Wajahnya bersih, putih.Alisnya yang
indah membuatku mengaguminya sejenak, namun cepat ditutupi oleh kain putih yang
dipegangnya. Hanaya tangannya ynag ia ulurkan, sebagai isyarat kalau buah
delima yang uiainginkan.
Sepuluh langkah ku
leawti, langkahku semakin lelah.Jari-jariku gemetar.Bertanda aku butuh setengah
piring nasi untuk mengganjal perutku.Namun, Kyai Syam kembali memanggil namaku.
“Nayaka!”. Respon ku menoleh cepat, “Enje Pak Kyai?”, sahutku dramatis. Kyai
Syam, Rewa, Zidna dan tiga Kyai sahabat Kyai
Syam, membutaku bertanya-tanya. Ada apa gerangan. Menagapa mereka
berdiri sesrius itu.Terlihat sesekali Kyai Syam memuntahkan buah delima yang
diamaknnya. “Ada apa Pak kyai?”, tanyaku sambil menuju kedepan beliau. “sudah
lima tahun kamu manajga kebun saya, masa cuma diperintahkan memilih delima yang
manis kamu tidak bisa”, lantun Kyai syam sedikit serisu.”.sejenak ku rapuh.
Takut.Belum lagi orang-orang disamping Kyai Syam pandangannnya sedkit sinis.Ku
masih terdiam.Ku ingin bangkit dari pertnyataan Kyai, namun kekhawatiranku
masih ada.Pak kyai tak berhenti sampai disitu, ku mulia dihujat.
“Ngapunten pak Kyai.
Memang selama lima tahun ini aku menjaga kebunpanjenenganngan, namun demi
Allah, sumpah atas nama Allah pencipta alam semesta, tak pertah sama sekali aku
mencicipi buah delima. Walaupun buah delima itu jatuh pak Kyai aku tak pernah
memakannya, karena selama lima tahun ini, Pak Kyai hanay memerintahklan
kepadaku menjaga kebun saja. Aku minta maaf Pak Kyai kalau akau salah dalam
memilih buah delima”.Jelasku panjangh.Susasnan hening.Masih taka da suara.Aku
tak bisa banyak menoleh.Hany kakiku yang kusap ku pandang, juga sesekali semut
merah memanjat kaki yang dipenuhi tanah liat.Tiba-tiba seseorang memulikku,
namun belum ku pastikan itu siapa.Aku masih menunduk.Perlahan-lahan kepalaku
mulai ku ayunkan ke atas.Aku terheran luar biasa.Rsa gemetar akhirnya hadir
juga.“Baru kali ini ak mendapaykan santri sejujur ini.”Kata pak kYai yang masih
dalam pelukannya.Tangisan pak Kyai Syam terdengar jelas ditelinga kananku.Aku
hanya bisa terdiam.
Masih dalam susasana
syahdu ini, bagaikan aku berada di area syuting bersama Syahrul Khan, semua
terharu, termasuk Zidna.Namun taka da rekayasa.Masih dlam suasana syahdu.Kyai
Syam perlahan-lahan melepaskan pelukan berkahnya.Ku mulai mengusap sedikit demi
sdikit air mataku, begitupula Kyai Syam. “Duduk Sini Nak”, desah Kyai Syam
pelan.Perasaan saya semakin terharu lagi, kata “Nak” terucap dari lisan Kyai
Syam.Ku masih tegap dalam suasana ini.Kyai Syam menulis diatas kertas putih
yang diambil dari sakunya. Entah,apa yang ditulis. “Pulanghlah besok Nak,
berikan surat ini kepada orang tuamu. Jangan lupa samapaikan salam hangatku
padanya”.“Enje Pak kyai, sahutku sambil mencium kedua belajan tangannya yang
mulai kriput.
Hari ini hari, hari
sangat bersejarah dalam hidupku. Sebentar lagi semua senyum akan tercurahkan
kepadaku, semua kata selamat akan tertuju padaku termasuk kedua orang tuaku,
terlebih lagi dari Kyai Syam. Surat yang dititipkan oleh Kyai Syam seminggu
yang lalu, emmbuatku sedikit tak percaya akankeputusannya dan kepercayaan
beliau. Begitu maha misterinya kausa Allah.
Janji suciku kepada Zidna sebentar lagi akan terucap. Perasaan terharu
masaih saja menyelimutiku.Tamu undangan, dan para santri sudah terlihat
membeludak.Namun tak bisa ku pungkiri, Zidna kelihat anggun.Sedikit aku tak
percaya kalau dia adalah jodohku.Senyumnya begitu original.
Perlahan0lahan tnafasku
ku atur, duduk silahku mulai berubah, hingga terucaplah kalimat “Qobiltu” dri
lisanku.Ummi dan Abiku tak kuasa menahan air matanya. Akupun larutt, namun
tangisanku kali ini hanya un tuk Azka. Andai saja dia bisa melihagt kebahgiaan
kakaknta ini.
Bersambung…tunggu season
berikutnya.