Maandag 25 Maart 2013

“PERGI”



Secangkir embun pagi….

Add caption

Sudah tiga tahun aku tinggal di kota pelajar ini, Jogja. Dulunya aku kurang bisa beradaptasi dengan suasana di kota budaya ini, tapi lama-kelamaan akhirnya aku sudah mulai meras aku harus bisa beradaptasi dan sampai sekarang, Alhamdulillah “Bisalah”. Tiap malam seperti ini, aku selalau duduk sendiri, termenung sendiri dan di temani secangkir kopi panas di teras kosku, tapi, seringkali juga sebuah buku bacaan menemaniku di malam yang gelap ini. Memang, ketika aku duduk sendiri ada banyak ide-ide yang muncul. Entah kenapa. Di bandingkan jika aku nongkrong bersama teman-temanku, rasanya tak pernah ada ide kreatif yang terpikirkan olehku..

“Bro!!! ke sekaten yuk!!,” kata Ari yang tiba-tiba datang dari belakangku, menghilangkan semua ide yang baru saja ku gali dari akarnya. “Kamu itu bikin kaget aja!!,”lanjutku sambil memukul pundaknya. “Sory bro!!,” gimana mau ke sekaten ga?,lanjut Ari. Aku berfikir sejenak. Kemudian…… “Ayo!!!, tapi yang lainnya mana?.” “Mereka sudah nunggu dari jam tujuh tadi bro!!!.” “Ayo, cabut….,lanjutku sambil membawa tas sampingku.

Ketika dalam perjalanan…………..

 Aku merasa ada yang ganjal dalam benakku ini, entah ada apa. Rasanya ada rasa was-was dalam jiwa ini. Aku tak melanjutkan langkah. Aku terdiam sejenak, hingga aku tertinggal jauh dengan Ari yang jauh di sana. “Astagfirullah!!!!, Ri, aku lupa kalau malam ini aku sudah ada janji sama Pak Subhan untuk pergi acara Maulid di gunung kidul, kataku sambil berlari menuju ke arah Ari. “Walla… kamu ini, gimana toh!!!”,lanjut Ari. “Jadi gimana dong, aku juga ga enak sama Bapaknya.” Kataku. “Ga papa lah, biar aku saja yang nyusul teman-teman di sana, kamu ke Pak Subhan saja cepat, nanti di marahin lagi”, pinta Ari yang begitu menyentuh. “Makasih yah, salam saja buat teman-teman yang lain”, kataku. “Maaf  banget yo!!!!,”lanjutku lagi.
Malam masih gelap, jangkrik-jangkrik berbunyi begitu nyaring, entah pesta apa yang mereka sedang adakan di kediamannya. Tiba-tiba saja ada petir, lalu…………,hujan pun turun dengan lebatnya. Aku langsung berlari kencang dangan  sekencang-kencangnya ke rumah Pak Subhan. Aku tak mau menyalahi janji padanya. Setahuku Bapak itu sangat disiplinnya bukan main. Jika ia mengatakan jam segini, maka jam segitu pula. Tak sama dengan kebanyak orang yang selama ini, tak tepat waktu. Mungkin juga aku. Semakin kencang aku berlari, hujan malah semakin rendah saja. Sepuluh menit kemudian, akhirnya aku sampai di kediaman Pak Subhan dengan basah kuyup. “Untung saja aku bawa salinan,” kataku dalam hati. Setelah aku kembali rapi, akhirnya aku, beserta keluarga Pak Subhan akhirnya berangkat menuju acara Maulid dengan mobil Sedannya yang sudah berumur tiga puluh tahun itu katanya. Ku lihat jam Digital yang melengket di depan kursi mobil menunjukkan pukul 22:13. Orang-orang masih rame. Begitu pula lampu-lampu jalanan masih bermain dengan keramaian malam. Indah sekali kota Jogja ini.

Di depan sana, terlihat sebuah keramaian. Entah keramaian apa. Tapi kayaknya sangat rame. Bahkan sempat terjadi kemacetan. “Bed!!! coba kamu lihat ada apa di depan sana,” kata Pak Subhan padaku. “Iya Pak.” Aku berjalan dengan biasa saja. Kemudian aku mulai menyeludup dari sela-sela keramaian itu, dan ternyata ada kecalakaan maut. Sebuah motor rupanya. Aku mulai mengenali motor itu. “Tidaaaaaaaaaaakkkk!!!, terikanku yang memecahakan suasana keramaaian itu. Sungguh tak bisa ku tahan air mata ini, ketika teman akrabku harus terkapar di jalan yang beraspal. Darah terus mengalir dari kepalanya. Padahal setengah jam yang lalu barusan saja kami bersenda gurau. Sebenarnya, ada hikmah juga yang bisa ku petik dari peristiwa ini. Bisa saja ketika aku ikut bersamanya ke Sekaten malam ini, mungkin aku menjadi korban juga. Tapi kesedihanku juga tak bisa ku ingkari lagi. Dia juga temanku. Teman yang selama ini banyak mengajariku bagaimana menghadapi hidup. Tubuhku begitu lemas melihatnya. Aku hanya bisa pasrah melihatnya, ketika jasadnya di angkut oleh Tim Medis. Hanya kesedihan yang menemaniku di malam itu. Aku berdoa semoga ia akan selau mengingatku di alam sana, bahkan akupun terus mendoakannya.

Selamat tinggal kawan……..

Syarief El Mahmudy
sackan thoellab
Jogja,2009

Vrydag 22 Maart 2013

“Tak Kala Indomie Menyapaku”


Ini Ceritaku……Apa Ceritamu???


By: Muhammad Syarief
 Sebuah kisah nyata, yang masih teringat olehku. Walau umur semakin hari semakin bertambah, tapi untuk sepenggal kisah ini, tak bisa ku lupakan.

Cerita tentang diriku dan indomie sebenarnya dan sesungguhnya kujalani tanpa kusadari, dan baru sekarang aku menyadari indahnya menikmati masa kecil bersama indomie. Selain aku bersekolah, aku juga rutin membantu kedua orangtuaku berjualan nasi kuning di pelabuhan. Aku beda dengan anak-anak zaman sekarang. Anak-anak SD zaman sekarang  pulang dari sekolah larinya ke depan computer, ngapain? Ngapain lagi kalau bukan facebook-kan. Dahulu aku, setelah pulang dari sekolah, aku langsung  ke warung membantu ibuku berjualan nasi kuning di pelabuhan. Termasuk membantu ibuku berjualan indomie siram. Begitupula membantu Ayahku mengumpulkan pembungkus Indomie untuk dijadikan undian.

Begini ceritanya.

Kendari, Tahun 1999 silam.

Sore itu, ayahku baru saja datang ke warung. Seperti biasanya dengan membawa buku bacaan, pakaian istiqomahnya, celana kain, dan peci andalannya. Tapi ada sesuatu yang beda. Lain dari pada hari yang lain. Dia datang dengan senyuman yang menawan. Ada apa gerangan, tanyaku dalam hati. Setelah meneguk kopi hangatnya. Dia membuka pecinya, meletakkan bukunya. “Ada undian berhadiah lagi Nak”.singkat. “Undian apa Ba’ba”, tanyaku santai. “Indomie”. Lanjutnya singkat. Aku tersenyum riang gembira. Sebab pekerjaan ini sangat ku sukai. Seperti undian-undian sebelumnya. Berpetualang dari kali ke kali, kios ke kios bahkan dari bak sampah satu ke bak sampah lain, mencari pembungkus Indomie yang nantinya akan di kirim ke Jakarta. Jika mujur tentulah ada hadiahnya. Seperti itulah bayanganku jika berpetualang mencari pembungkus indomie. Walaupun hadihnya saat itu yang ditawarkan sangat sederhana, tapi entah kenapa aku bersemangant sekali dengan yang satu itu.  Tak banyak kata lagi yang ku lontarkan. Aku bergegas mengganti seragam sekolahku. Lalu siap dengan karung besarku dilengkapi dengan kayu yang nantinya untuk menagais-ngais pembungkus indomie yang terlihat oleh mataku.

Matahari mulai kejam. Kejam dengan sinarnya yang membakar kulit. Tapi itu bukan sebuah hambatan bagiku. Kumulai aksiku saat itu di pinggir laut. Saat aku mulai menulis ini, hatiku terasa perih.  Teringat masa laluku yang penuh dengan rintangan.  Satu hal yang baru kusadari. Perjuanaganku mencari pembungkus indomie saat itu, tidak sempat terpikirkan bahkan terbesit perasaan malu dan jijik. Karena memang kondisi keluargaku yang menuntut seperti itu, apalagi waktu itu ayahku tak tahu harus bekerja apa setelah tiga petak kiosnya habis dimakan sijago merah. Yah begitulah yang namanya kehidupan, walaupun sepenuhnya bukan masalah ekonomi juga, yang jelasnya aku menjalaninya dengan senang. Terkadang juga aku ditemani oleh kakakku. Kalau masalah ejekan-ejekan itu sudah menjadi hal yang biasa. Seperti halnya ketika teman-temanku mengatakan kepadaku “Anak pak Ustadz kok jadi pemulung”, itu sudah biasa, bahkan kujadikan angin lewat semata. Satu kata kunci mengapa aku tak malu melakukan hal itu, karena bagiku itu perbuatan halal, dan tidak merugikan orang lain, bahkan membawa manfaat tentunya.

 Apalagi pekerjaan seperti itu sudah ku anggap ringan, kerena memang aku terlahirkan dari keluarga yang etos semangat kerjannya kuat. Sesuatu yang unik bagiku dan yang masih ku ingat, sasaran pembungkus indomie yang kukejar dulu, bukan saja pembungkus indomie yang masih bersih. Pokoknya semua. Entah itu yang kotor atau kusut, yang penting masih layak kirim semua ku masukkan dalam karungku. Karena proseses pencucian akan kulakukan pula. Seringkali disela-sela pemburuan itu jika aku dan kakakku merasa letih kami beristirahat sejeanak. Jika beruntung pula jika ada uang yang kami kantongi mie rebus indomie pun langsung menamani kami.

Setelah merasa puas dengan buruanku, aku pulang dengan badan yang sangat kotor, tapi hati terasa damai.  Terkadang pula aku pulang melewati kali yang ada di belakang rumahku  sambil mencucui badan.  Sesampai di rumah pun, kami langsung di sambut oleh ayahku dengan sekumpulan air bersih yang siap untuk mencucui bungkusan indomie, dilengkapi oleh tenaga  kerja yang banyak. Prosesnya  untuk di kirim ke Jakarta pun sangat sederhana. Setelah dicuci bersih, proses pengeringan diadakan secara manual, yaitu dengan menyediakan banyak kain yang sudah tidak diguanakan lagi, lalu di lap perlahan-lalahan agar tidak robek. Barulah setelah kering semua, malam harinya dimasukkan ke dalam amaplop. Amplopnya pun bukan amplop yang utuh yang dibeli di toko-toko. Untuk masalah amplop ayahku sangat kreatif. Ayahku memanfaatkan kertas-kertas yang tidak diguanakan lagi, untuk di buat sebuah amlpop, dan hasilnya pun sanagat bagus, layaknya amlpo baru. Untuk nama pengirimnnya terkadang ayahku mencantumkan nama-nama anaknya yang paling banyak mengumpulkan pembungkus indomie. Disela-sela pekerjaan pemasukan pembungkus indomie ke dalam amplop, lahir pula senda gurau di anatara kami bersaudara. Bahkan mantra-mantara pun ditiup semoga undian kami bisa naik nantinya. Seru sekali. Jika larut malam mendekam kami dengan dinginnya, santapan indomie pun hadir di depan kami,dari tangan ibuku yang menyayangiku. Yang paling andalan bagiku dulu adalah indomie rasa kari ayam, yang sampai sekarang masih rasa itu yang menyatu dengan bibirku.
Singkat cerita.

Hari yang ditunggu-tunggu itupun datang, jika sudah begitu, Ayahku menyuruhku untuk meliat pengumamannya diteleivisi tetangga. Seingatku sempat juga undian kami yang naik, tapi hanya untuk hadiah hiburan saja.  Kalau bapak masih penyimpan data-data pengirimya silahkan di cek langsung. a/n bpk. H Abdullah Colleng. Jln. Cakalang no 27 E. kel. Sauna. Kendari. Sulawesi tenggara.

Demikianlah kisahku bersama Indomie yang betul-betul orisinil. Semoga seetangkai kisahku ini bisa  memberi inspirasi kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa terkadang untuk menyatukan keluarga menjadi indah dibutuhkan sebuah hidangan yang membangkitkan selera, tentunya Indomie. Secara tidak sadar pula indomie banyak memberi sumbangsih kepada keluarga Indonesia, menyatukan keluraga Indonesia tak kala suasana tak mulai lagi bersahabat.

Semoga produksi Indomie bisa lebih maju sepanjang masa, produk-produknya bisa terpercayakan lebih mendalam, dan terus mengembangkan resep-resep terbaru untuk kembali memperkuat kebersamaan keluarga Indonesia. Maju terus indomie, buktikan kalau produk yang kamu ciptakan akan terus terpecayakan oleh masyarakat Indonesia dan seluruh penduduk dunia.

Sekian
Jakarta,  Senin, 27 Des 2011

Pengirim:
Nama: Muhammad Syarif Dzul Fahmi Abdullah
Status: Mahasiswa Islam Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an
Alamat: Jl. Batan 1 No. 63 Ps. Jum’at , Asrama RUSUNAWA PTIQ, Jakarta Selatan, Lebak Bulus, Cilandak 12440

Kontak: 085399519004/085241741763

“KATA MAAF TERAKHIR DARI MEKKAH”



Oleh: Syarief El Mahmudy*


Selangkah lagi. Sesaat lagi. Sebentar lagi ku akan terhententi sejenak dalam kerinduan yang mendalam. Sepasang sepatu hitamnnya sudah terlihat bersih di teras rumah, setelah usai sholat shubuh tadi Doni membersihkannya. Aku masih termenung diteras ini sementara suamiku belum lepas dari dua rakaat Dhuhanya. ku coba mengintipnya dari cela-cela jendela, namun kedua belahan bibirnya masih disibukkan dengan Dzikir Dhuanya pula. Antara sedih dan bahagia lamunanku terhenti, mendengar suara SMS masuk. Walau perpisahan dalam jejak mulianya ini sudah yang ketiga kalinya, aku sedikit tidak enak rasa, ada banyak was-was yang menerpa. Rasnaya ini yang terakhir. Air mataku menyerah. Segaris doaku dipagi hari akhirnya kembali ku panjatkan untuk-Nya, untuk suamiku. “Ayah kalau sudah sampai di Mekkah langsung telepon Mama yah?”, sahutku masih penuh isak kesedihan. Dia tersenyum. Tak ada kata terucap, hanya ciuman mesrah dikening yang ia balas. “Titip anak-anak yah sayang, bilangin ke Dede jangan lagi makan Es krim”, sambil memegang ranselnya kembali suamiku memelukku. “Hati-hati dijlalan yah sayang”, sambungku.
Malam menayapa dengan dinginyya. Tak sadar dalam kerinduan aku terbawa arus, hingga pukul sebelasa malam meyelimutiku. Mataku belum lelah. Tiba-tiba telepon berdering, sumiku rupanya. Malam terakhir ini ternyata tak bisa juga menutup kedua belahan mata suamiku. Aku bergegas menuju asrama haji. Memenuhi panggilannya. Walau terkesan bodoh tapi inilah kami kebersamaan selalu kami rindukan. Tak banyak pikir mobil langsung ku nyalakan. Bismillah..... Malam semakin larut saja dalam tumpuan kerinduan. Lampu jalan  masih saja kuat menyinari kami dipinggir jalan ini. Segelas jahe hangat sedikit menambah kemesrahan kami. Sepintas aku teringat pertemuan awalku dengannya 26 tahun silam, tepatnya tahun 1985, di dalam bus jurusan tanah abang-ciputat. Waktu yang cukup sulit untuk mengubah perasaaan cinta ini menjadi benci. Hatiku tak kuasa menahan pilu, menghayati gigihnya perjuanagannya menakulukkan hatiku ini, dari jakarta hingga ke Lampung.  Tak banyak obroalan yang tersingkap. Sekadar hanya ingin meelapskan kerinduan saja, sebelum suamiku besok berangkat ke Mekkah. Hingga akhirnya malam menjadi saksi bisu akan perjumpaan ini dan menutup obrolan kami dalam selimut syahdunya.
“Kabar dari kasir, Insya Allah Mama brangkat, kita haji bareng ya Ma.. Ayah mau menebus semua kesalah Ayah sama Mama. Ayah selalu menyakiti hati Mama. Ayah zalim sama Mama. Kita selesaikan semua di Mekkah. Ayah nangis nih. Ayah sayang Mama. Pulsanya tinggal bisa sms. Maafin Ayah sayang. Salam buat anak-anaku yang cantik-cantik”. “Semua pangkal masalah dari dulu samapai sekarang asalanya dari Ayah. Mama gak ada salah. Mama orang yang paling baik bagi Ayah. Sangat menyesal telah membuatmu menderita sayang. Maafkan sayang. Ayah menangis Ma, lihat air matanya tuh dipoto”. Dua SMS  dari suamiku membuat hatiku terasa terharu dan tak ingin memabagi cinta kepada siapa-siapa.

7 November 2011
Dua minggu berajalan dengan aktifitasku yang penuh kesibukan. Tapi tidak serta merta membuat komonikasiku dengan sang sauami terputus. Walau hanya sekedar menanyakan kabar saja. Lalu aku beranjak dari kelitihan ini setelah seharian suntuk menerima orderan catering masuk. Rasanya ingin bersamanya dalam keletihan ini. Ku hanya bisa sejenak tersenyum tipis melihat senyumannya yanag menawan itu lewat wallpaper HPku. Setangkai senyum yang tak bisa ku pungkiri hingga pilihanku tertuju ke dia pula, “Bang Mahmud yang menawan”, sahutku dalam hati. Tiba-tiba hayalanku terpecah. Mumtaz anakku yang sekarang dalam pengabdian di Gontor Kendari, menelpon. Tak ada pearsaan yang ganjil bahkan curiga. “Mama sudah ditelepon tante Erna belum?”, “Ada apa memang Nak?”, tanyaku penasaran. Suara hening. Mumtaz belum menjawab pertanyaanku. Masih hening. “Ada apa memang Nak?, tante Erna kan sedang di Mekkah dengan ayah?”, sambungku pelan. “Mama yang sabar yah, Ayah meninggal dunia didepan Ka’bah”. Sahut Mumtaz terbatah-batah. Aku tak berdaya, tak kuasa mendengar berita ini. Aku tersungkur dalam kesedihan dan kepanikan. Rasanya tak percaya. Sungguh mustahil. “Ayah!!!!”.
Seminggu berlalu masih dalam keadaan duka. Ku lesuh dan tak berdaya. Persedian air mataku tak banyak lagi. Semenjak sore tadi, anak PTIQ sudah terilhat khusyuk dalam lantunan ayat sucinya yang dikemas dalam bentuk khataman .  Sesekali aku tak percaya. Tapi aku harus rela, dan belajar mengikhlaskannya, suamiku tersayang. Semalam pengurus Haji di Mekkah menelponku, kalau jasad suamiku tak bisa dipulangkan secepat ini dengan dalih musim Haji masih berjalan setengan waktu. Padahal sudah ku persiapkan uang cass lima 50 juta untuk memulangkan jasad suamiku tercinta. Ada satu alasan juga yang mengurungkan niatku memulangkannya. Pernah suamiku mengatakan kepada sahabatnya, “Itulah rezeki terbesar ketika kematian akan menyapa di Mekkah”, sampai-sampai suamiku membantah keras untuk tidak memulangkan jamaah Haji yang meninggal dunia di Mekkah. Itulah mungkin salah satu alamat yang Allah berikan kepadaku. Selamat jalan suamiku tercinta. Ku akan ikhlaskan kepergianmu. Tenanglah dalam Dzikir Dhuhamu yang rutin kau dirikan. Salam dariku dan keempat anak-anakmu yang cantik dan gagah.




*Manusia Ushuluddin 3 PTIQ

“NYANYIAN CINTA TERAKHIR”



Oleh: Syarief El Mahmudy*

...Lalu, akankah terus penderitaan ini ku pertahankan? Kemana harus kini ku melangkah? Andai saja bukan karena anak-anakku, ku tak akan terus diam seperti ini. Hari ini baru saja aku mendapat tamparan yang kesekian kalinya dari suamiku. Walau ia anak Kyai, tapi sungguh jauh dari hakikat kata itu.  Hingga akhirnya ku yakini bahwa tak ada jaminan akhlaq yang baik akan terwarisi. Awal aku mengenalnya, sungguh indahnya kata-kata dan tingkah lakunya, seketika ku terhipnotis. “Allah masih ada”, tiga kata  terucap sebelum bilasan piring berbusa ini ku akhiri. Tak terasa air mataku menyerah lagi yang kesekian kalinya pula. Sesekali aku ingin menikmati indahnya pagi hari dengan sapaan atau dekapan  mesra dari suamiku. Tapi semua itu nihil, semenjak sebulan lalu dia pergi meninggalkanku bersama ketiga anakku, tingkah lakunya semakin hari semakin tak jelas. Bahkan terkadang angin dan bayangannya ikut pusing tujuh keliling.
“Ayah!!!, sarapan buatan Bunda sudah siap”, sahut Difyan anak bungsuku di atas kursi kecilnya seraya melambai-lambaikan tangannya ke arah Ayahnya. Semua sudah duduk diatas kursi masing-masing, termasuk Rewa anak pertamaku yang sedikit pendiam, namun banyak tahu tentang sikap buruk Ayahnya. Sesekali pula terlintas dalam benakku, ternyata kekayaan materi bukan segalanya, dan itu harus ku yakini, dan sungguh itu terjadi dalam keluargaku. Namun do’aku tak pernah lepas. Semoga suamiku diberi jalan yang baik, walau sekata dan setindak saja ia bisa mengertiku.
Ku tersingkap tak kala melihat ekspresi Difyan larut dalam lahapnya. Ku bangga bisa melahirkannya dan ku bertekad kuat untuk terus mendidiknya, hingga akhirnya ia bisa menyangi kedua orang tuanya,  tak kala waktu tua menghampiri. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu diluar sana. Ku menoleh sejenak, dengan menggilingkan sedikit kepalku ke arah kanan, rupanya seorang pengemis laki-laki. “Ayah, bolehkan aku memberikan sesuatu kepada pengemis itu?”, kataku sopan. “Tidak usah. Usir saja dia. Cepat saja kamu habsikan makananmu, lalu hantar anak-anakmu ini ke sekolah, hari aku sangat sibuk sekali”, Jawabnya lantang. “Masih banyak yang harus kamu kerjakan dari pada pengurus pengemis malas itu”, lanjutnya keras.
Hari meninggalkanku, termasuk masa-masa buruk bersama suamiku. Awalnya memang terasa berat, tapi inilah jalanku. Belum lagi anak-anaku juga semakin hari semakin tak meras betah dengan Ayahnya sendiri, hingga akhirnya  perceraianku dengannya terucap sepuluh bulan yang lalu. Namun tak bisa ku pungkiri dan menentang takdir Allah. Setelah masa iddahku selesai dengannya, Allah kembali memberiku jalan baru. Seorang pria Almnus Mesir meminangku. Saat itu aku sangat dilema juga, melihat posisiku mempunyai dua anak yang harus ke besarkan, lalu ku dihadapkan dengan persoalan baru yang secara tidak langsung bertambah lagi amanah yang Allah berikan. Untungnya aku masih punya keluarga, Abi dan Ummi yang masih melihat sisi baiknya dari persoalan ini. Sebut saja Ustdz Azka. Sederhana namun berwawasan dan berakhlaq baik. “Bismillah”, sahutku saat ini tak kala menreima lamarannya.
Kesyukuran terbesarku sungguh tak bisa ku bendung. Ternyata dia betul pria yang baik. Akhlaqnya dan sifat pengertiannya  membuatku betah bersamanya, hingga akhirnya Alllah kembali menganugrahkan anak perempuan, Balqis namanya. Hari-hariku bersamanya tak ingin ku sia-siakan, apalgi ku nodai dengan peretengkaran dan kedurhakaan, karena ku sadar dia adalah orang yang diutus Allah untuk  menuntutku ke arah yang lebih baik. Walau profesinya  tak banyak orang bangga dengan posisinya; guru ngaji di PAUD, tapi sikap tanggung jawabnya tak pernah hengkang. Pribadi inilah yanag sebenarnya diinginkan oleh wanita pada umumnya, tanggung jawab.
Selepas mengajar, ku hampiri suamiku dalam kelelahan yang ku lihat di wajahnya, pucat. Sambil menyodorkan segelas air dingin di depannya, ku mulai membuka obrolan tentang si Rewa yang mendapat prestasi dikelasnya. “Oh yaa!!!, hebat sekali yah”, komentar suamiku pelan. Obroaln kami terpotong, ada sahutan diluar sana, rupanya seorang pengemis, sedilkit tua. “Duhai suamiku, maukah engkau memberikan aku izin menemui pengemis itu, memberikannya sesuatu yang bisa meringankan bebabnnya?, tuturku teratur. “Silahkan saja istriku, berikan uang ini juga kepadanya”, jawabnya santai sambil menyodorkan amlop putih yang berisi uang gaji ngajarnya bulan ini. “ sebelulm ku beranjak, ku terpukai melihat ketulusan dan kepedulian suamiku.
“Mengapa engkau menangis sayang?”, tanya suami penasaran setelah melihatku bertemu dengan pengemis itu. Ku masih tak bisa bayangkan skanario Allah ini. Ku terheran dan seakan tak percaya. Ku masih dalam isak tangis. “Wahai suamiku!, tahukan engkau siapakah pengemis yang tadi ku jumpai?”. “Memangnya dia siapa istriku?”, tanya suamiku penasaran. Ku terdiam sejenak, mengatur kata-kata yang pas untuknya. "Dia adalah mantan suamiku dahulu, Ayah Difyan dan Rewa”. Suasana hening. Suamiku belum berkomentar. Aku juga mulai bertanya-tanya, kenapa dia hanya bisa terdiam setalah mendengar kenyataan ini. Kepalanya ditundukkan ke bawah, serasa ada sesuatu yang ia sembunyikan juga. Lalu kembali melihatku rupanya  air matanya menetes, sama dengan diriku. “Ada apa gerangan suamiku?, menagapa engkau ikut menangis?”. Masih sajan dalam kebisuan. “Dan tahukah engkau wahai istriku, siapa penegmis yang dia (Mantan suami istriku) usir itu?” lantunan suami syahdu. Aku terdiam. Masih belum faham dengan tingkah suamiku, tiba-tiba ia menangis, dan kembali bersuara. Aku mengeleng-gelengkan kepala. “Itu adalah aku, wahai istriku”, lanjut sumiku.  ku tak tahan dan tak percaya sebaik dan sehebat ini Allah mengatur skanario-Nya. Aku memeluknya melepaskan rasa terharuku kepadanya dan sebagai simbol maafku padanya dahulu.
Bersambung..... nantikan kelanjutan cerintanya....


*Manusia Ushuluddinn  3. Syndibed@yahoo.co.id

“Jejak kanan Nayaka”



Oleh: M.Syarief El Mahmudy*

….., Lalu apa yang harus ku ucapkan pada bibir yang terjajah ini?, terjajah dengan penuh keterasingan.
Aku tak mengerti dzikir apalagi yang dilantunkan serangga itu. Setelah hujan melewatinya. Bayang-bayang mulai hengkang dari porosnya. Kunang-kunang semakin gemerlap menari di luar sana, dan malampun menyelimuti heningnya sore.  Damai terasa menyatu, indahnya malam ini.  Tapi tidak untuk selamanya. Aku tersandar dalam lamunan . tiba-tiba Azka, adikku melangkah, mendekati kesunyianku, meretakkan semua lamunanku. “Mas, sampean di golei abah”, sahut Azka sebelum memegang buku bekas yang ku beli di pasar kauman siang tadi. Tak banyak kata dari Azka, sampul yang manarik dari buku itu membuat lisannya tak banyak cakap, konsentrasinya tertuangkan dalam sebuah buku; komik Satria baja hitam. Aku meningglkannya, beranjak dari letihnya kedua kakiini setelahseharian berkeliling Alun-alun kidul Jogjakarta, menjajakan peyek buatan Ummiku.
Kulihat abahku masih berkomat-kamit dalam dzikir magribnya, dengan surban putihnya, warisan dari kakekku membuatnya terlihat sedikit beribawa. Sementara Ummiku baru saja ku lihat mengusap kedua belahan tangannya yang bersejarahdari segumpal do’a yang mulia, dan sedikit keyakinanku berkata semoga ada doa yang diselipkan untukku. Abahku melirikku setelah bunyi pintu tengah kubuka. “Assalamu Alaikum “, ucapku sambil berjalan pelan. Setelah mencium kedua belahan tangan ayah dan ibuku, aku mulai melipat kedua kaki ini. Hatiku bertanya-tanya. Ada apa gerangan. Tak seperti biasanya, abahku memanggilku dengan penuh keseriusan. “Le’ sesokoe ra usah bakulan iwak peyek meneh”, selip Ummiku memulai lembaran obrolan malam ini. Belum sempat aku menanyakan kenapa, abahku menyambung perkataan Ummi, “Tadi Kyai Syam silaturrahim ke sini, dan aku sudah mengiyakan kalau anak saya Nayaka akan ke pesantren Kyai Syam”. Aku terdiam. Tak ada kata yang tersusun dari belahan bibirku hingga malam menenggelamkanku.
Sudah sejam lamanya aku bersama kucingku sesayanganku. Diteras rumah bambuku. Perlahan-lahan teh cap gunung mulai mendingin ditelan embun pagi. Sementara Abah dan Ummiku masih tetap disubukkan dengan dzikir paginya. Sesekali Ummuiku mengusap air matanya. Hati ibu siapa yang tak terisris jika mengetahui anaknya sebentar lagakan pergi meninggalkannya. Tak ada lagi lonceng yang berbunyi dariku diselingi teriakan “Es lilin....”. itulah aku. Suara itu akan terdengar lagi kalau Kyai Syam sudah mengizinkan aku pulang. Banyak hayalan yang berlabu di pagi ini, tapi itu tak cukup mengurangi kesedihanku jua. Sudah tiga delman yang melewati rumahku, namun delman Pak Suryo belum juga menghapiriku. Dari kejahuan sana Ummiku membuat kode untukku. Namun tak bisa ku pahami. Hingga akhirnya dia menunjukkan jarinya ke arah utara, ternyata delapan Pak Suryo sudah terlihat dari kejahuan bola mata yang masih dipenuhi kesedihan ini. Aku sudah bersiap-siap. Dengan koper tempo dulu Mbahku membuatku terlihat seperti perantau tingkat atas.  “Mas, jangan lupa kirim surat yah”, sahut Azka sambil mencengkram tangan kananku. Delman tua itu akhirnya menghampiriku. “Ayo Le, sebentar lagi kereta akan berangkat”, sahut Pak Suryo pelan.  “Tak banyak  yang abah inginkan darimu Nak, patuhilah Kyai Syam, berlaku dan berkata jujurlah Nak, jangan lupa belajar yang giat Nak”,  dawuh Abahku hingga mataku tak tahanmenahan air mata ini. Ummiku pun sama, larut dalam tangisan. Semikin lama-semakin tertinggal tiga orang yang kucintai selama ini. Delman Pak Suryo semakin cepat berlaju. Dari kejahuan sanaAzka melambaikan tangannya seraya berteriak, “Mas, jangan lupa belikan komik Satria baja hitam yah”. Ungkapan Azka sedikit membuat hatiku terasa aman dari tangisan ini.
Sesampainya di stasiun lempuyangan Jogja, perlahan-lahan ku mulai rapuh. Rapuh dengan keramaian ini. Kereta kelas ekonomi ini terasa sumpek luar biasa. Hampir semua jenis manusia ada si atas sepur ini. Kiri, kanan, depan dan belakang tak ada sopan santun lagi yang telihat. Tidak ada lagi kata permisi lagi yang terdengar. Ambisi dan ego mulai bergejolak. Aku tak tahan. Aku berjalan pelan menuju gerbong satu, tapi kata permisi dariku masih terucap, sebab itu pesan dari Ummiku. Sepertinya semua gerbong kereta membeludak, rupanya suporter Timnas yang memenuhi sepur ini. Lagi-lagi bola yang membuat orang seperti ini. Tak banyak pikir, dengan modal Bismillah aku beranjak dari keramaian ini. Kepala kereta pilihanku, walaupun resikonya tinggi, bisa-bisa ajal yang menjemput, angin yang begitu keras. Tapi mau bagaimana lagi. Inilah pilhananku.
Langkahku sedikit tertahan.ku berhenti sejenak. Pagar bambu Pesantren Al-Ikhlas, Dawar Boyolali membuat dadaku terasa siap untuk menerima semua tetesan pena. Walaupun sebanyak buih di lautan. Tiba-tiba seorang pria baya mendekatiku. “Assalamu Alaikum, Mas Nayaka?”. “Engge Mas”, lanjutku seraya berjabak tangan dengannya. “Pak Kyai sudah menunggu kedatangan Mas, monggo Mas”, tuturnya sopan membuatku hatiku tersa nyaman. 
“Ahlan wasahlan Le”, dawuh  Kyai Syam sambil menggosok-gosok telapak kakinya dengan minyak urut. sepontan aku langsung membuat tangan beliau berhenti memijat kakinya, tanganku dengan cepat menggantikannya. Sambil sandaran dengan pelapah bambu kering Kyai Syam ku lihat membaca mantra. Entah mantea apa. Sepertinya doa buatku. Semoga saja. “Besok kamu antar Nayaka ke kebun, mulai besok penjaga kebunnya bukan kamu lagi”, Dawuh Kyai sambil menunujuk ke arah pria baya tadi yang meyambutku, yang rupanya bernama Rewa. “Enje Pak Kyai”, sahut Rewa dengan penuh ta’dzim. Akhirnya, adzan magrib memecahkan suasana syahdu ini. Hatiku terasa nyamann bersama Kyai Syam.  Dalam suasana seperti ini, tak lupa do’a ku panjatkan .Selepas ku usapkan kedua belahan tanganku ini, tak sengaja ku lihat perempuan berkerudung putih. Wajahnya bersih. Dengan perlahan-lahan dia melewati tirai hijau disampingku. Setangkai pertanyaan akhirnya keluar, “Siapa dia?”. Aku terbawa khyalan. Astagfirullah setan baru saja menari difikiranku, ataukah ini rahmat.
Barisan shaf mulai terlihat rapi, namun belum juga muadzzin berdiri.Santri-santri terlihat tenang.Baju koko santri sederhana membuat hati kecilku ini ingin berkata lebih, “Indahnya suasana pesntren. Belum lagi ku lihat dipojok sana bocah kecil yang dengan lincahnya menyambung huruf demi huruf hijaiyyah itu tersusun rapi hingga menjadi sebuah kalimat yang indah terdengar; fasih. “Subahanallah”, selipku dalam hati dengan penuh kekaguman.Rupanya pak Kyai sudah berdiri tegak di bawah mihrab kayu ulin.Memecahkan kekagumanku pada bocah kecil itu. Anadai ku tahu seindah ini sauasana pesantren, maka doa yang paling pertama ku panjatkan setelah aku keluar dari rahim ibuku adalah, “Bawa diri ini ke Pesantren”.Suasana bertambah syahdu setelah shaolat magrib dihiasi oleh puji-puujian asmaul husna.Tak terasa air mataku menyerah.
“Nay, dapat surat dari Ummi”, teriak Rewa lantang dari kejahuan semak-semak.Mendengar teriakan itu, sepontan sapu lidi yang pegang langsung ku tinggalkan, meninggalkannya sejenak. Dengan masih dipenuhi keringat siang, ku berlari sekuat mungkin ke arah Rewa, menjemput surat dari Ummiuku. Senyumku tak bisa ku rangkai.Hanya kesenagan yang ada.“Ongkos Pos nya dong Nay”, canda Rewa menambah kesenanganku.Sejenak ku tinggalakn Rewa.Dia hanya bisa terseyum tipis melihat kegiranganku.Ku lansung mamanjat pohon asam; tempat istrahatku setelah membersihkan kebun Kyai Syam. “Nay, dapat salam dari Zidna”, sahut Rewa sambil berjalan pulang meninggalkanku. Kesekian kalinya sudah Rewa mengungkapkan kata-kata itu, akupun tidak begitu meresponnya, karena ku tahu itu hanya candaan. Bahkan mustahil kalau Zidna, putri bungsu Kyai Syam menitipkan salamnya kepada penjaga kebun seperti aku, yang sama sekali tidak ada garis keluarga Kyai. Andai-andai itu ku buang jauh, selemberan surat dari Ummiku membuatku beralih dari senyum zidna.Sudahlah. Perlahan-lahan ku mulai membuka surat dari Ummiku. Ada tulisan Shawalat yang mengawali tulisan Ummiku.“Nak, sebentar sore adikmu Azka akan dimakamkan, gunakanlah uang ini. Pulanglah Nak”. Kesenanganku berubah drastis.Tak banyak yang bisa aku ucap.Mulutku terkunci rapat.Bagai gembok raksasa mengunci bibirku.Tak sadar ku terjatuh dari pohon asam,namun tak membuat fisikku terasa sakit, lebih sakit dan perih mendengar kabar duka ini.Deras air mataku tak bisa ku hitung. Hanya kata-kata “Azka,azka, dan azka yang tersu ku ucap”.Innalillahi wainna ilahi rojiun.
Aku masih tersungkur ddibawah pohon asam.Egoku saat ini tak bisa ku merdekakan. Bagaimana bisa aku menatap adikku Azka yang terakhir kalinya, kalau Kyai Syam sedang ke Luar kota. Pesan ayahku membuatku berfikir lebih.Mata air yang terpercik-percik disampinkku membuat hati kecilku tergugah.Ku ambil air wudhu dari mata air itu dengan selang yang terbuat dari bambu, hingga sholat Ghaib pun ku dirikan di kebun rindang ini, sebagai penghormatan terakhirku kepada adik kecilku Azka.
Waktu terus berlalu.Tak kenal yang sungguh-sungguh atau tidak.Meninggalkan semua wacana.Menertawakan orang yang lalai atasnya.Ku mulai perhatikan pahatan demi pahatan yang ku goreskan di pohon asam besar ini.Rupanya sudah 5 tahun berlalu dalam jejakku dipesantren ini.Sesakali ku renungkan akan langkahku ini. Lima tahun menghabsikan waktu bersama pohon asam.Membakar ratusan daun tiap hari.Mencabut rumput liar disekeliling pohon tomat, cabe, kangkung dan buah-buah lainnya.Namun semua itu tak membuatku berkecil hati.
Ku melanghkah.Dengan sedkit kelahan yang menyelimutiku.Tetesan keringat membuat ku berjalan cepat, sebelum santriwati melihatkku.Tiba-tiba langkakahku terhenti.Terpotong oleh dawuh Kyai Syam. “le, tolong petikkan buah delima yang manis”, singkat. “Enje Pak Kyai”. Kyai Syam langsung meningglkanku.Keringaku kemabli mengalir alam langklh ke kebun.Hanya sepuluh buah delima yang ku petik, karena Cuma itu yang matang.Tak banayk piker ku mabil pelapah pisang lalu ku bungkus sepuluh buah delima itu. Seampainnya di depan rumah Pak Kyai, akun terhenti. Aku bertanya, apakah layak dengan pakian yang kusm ini, badan yang penuh keringat, belum lagi bau asap sampah deaunan aku layak masuk dikediaman beliau. Belum semapt aklu melangkah kebelakang untuk menggati baju, Zidna mengampiriku.Tak ada kata yang diucapkannya.Wajahnya bersih, putih.Alisnya yang indah membuatku mengaguminya sejenak, namun cepat ditutupi oleh kain putih yang dipegangnya. Hanaya tangannya ynag ia ulurkan, sebagai isyarat kalau buah delima yang uiainginkan.
Sepuluh langkah ku leawti, langkahku semakin lelah.Jari-jariku gemetar.Bertanda aku butuh setengah piring nasi untuk mengganjal perutku.Namun, Kyai Syam kembali memanggil namaku. “Nayaka!”. Respon ku menoleh cepat, “Enje Pak Kyai?”, sahutku dramatis. Kyai Syam, Rewa, Zidna dan tiga Kyai sahabat Kyai  Syam, membutaku bertanya-tanya. Ada apa gerangan. Menagapa mereka berdiri sesrius itu.Terlihat sesekali Kyai Syam memuntahkan buah delima yang diamaknnya. “Ada apa Pak kyai?”, tanyaku sambil menuju kedepan beliau. “sudah lima tahun kamu manajga kebun saya, masa cuma diperintahkan memilih delima yang manis kamu tidak bisa”, lantun Kyai syam sedikit serisu.”.sejenak ku rapuh. Takut.Belum lagi orang-orang disamping Kyai Syam pandangannnya sedkit sinis.Ku masih terdiam.Ku ingin bangkit dari pertnyataan Kyai, namun kekhawatiranku masih ada.Pak kyai tak berhenti sampai disitu, ku mulia dihujat.
“Ngapunten pak Kyai. Memang selama lima tahun ini aku menjaga kebunpanjenenganngan, namun demi Allah, sumpah atas nama Allah pencipta alam semesta, tak pertah sama sekali aku mencicipi buah delima. Walaupun buah delima itu jatuh pak Kyai aku tak pernah memakannya, karena selama lima tahun ini, Pak Kyai hanay memerintahklan kepadaku menjaga kebun saja. Aku minta maaf Pak Kyai kalau akau salah dalam memilih buah delima”.Jelasku panjangh.Susasnan hening.Masih taka da suara.Aku tak bisa banyak menoleh.Hany kakiku yang kusap ku pandang, juga sesekali semut merah memanjat kaki yang dipenuhi tanah liat.Tiba-tiba seseorang memulikku, namun belum ku pastikan itu siapa.Aku masih menunduk.Perlahan-lahan kepalaku mulai ku ayunkan ke atas.Aku terheran luar biasa.Rsa gemetar akhirnya hadir juga.“Baru kali ini ak mendapaykan santri sejujur ini.”Kata pak kYai yang masih dalam pelukannya.Tangisan pak Kyai Syam terdengar jelas ditelinga kananku.Aku hanya bisa terdiam.
Masih dalam susasana syahdu ini, bagaikan aku berada di area syuting bersama Syahrul Khan, semua terharu, termasuk Zidna.Namun taka da rekayasa.Masih dlam suasana syahdu.Kyai Syam perlahan-lahan melepaskan pelukan berkahnya.Ku mulai mengusap sedikit demi sdikit air mataku, begitupula Kyai Syam. “Duduk Sini Nak”, desah Kyai Syam pelan.Perasaan saya semakin terharu lagi, kata “Nak” terucap dari lisan Kyai Syam.Ku masih tegap dalam suasana ini.Kyai Syam menulis diatas kertas putih yang diambil dari sakunya. Entah,apa yang ditulis. “Pulanghlah besok Nak, berikan surat ini kepada orang tuamu. Jangan lupa samapaikan salam hangatku padanya”.“Enje Pak kyai, sahutku sambil mencium kedua belajan tangannya yang mulai kriput.
Hari ini hari, hari sangat bersejarah dalam hidupku. Sebentar lagi semua senyum akan tercurahkan kepadaku, semua kata selamat akan tertuju padaku termasuk kedua orang tuaku, terlebih lagi dari Kyai Syam. Surat yang dititipkan oleh Kyai Syam seminggu yang lalu, emmbuatku sedikit tak percaya akankeputusannya dan kepercayaan beliau. Begitu maha misterinya kausa Allah.  Janji suciku kepada Zidna sebentar lagi akan terucap. Perasaan terharu masaih saja menyelimutiku.Tamu undangan, dan para santri sudah terlihat membeludak.Namun tak bisa ku pungkiri, Zidna kelihat anggun.Sedikit aku tak percaya kalau dia adalah jodohku.Senyumnya begitu original.
Perlahan0lahan tnafasku ku atur, duduk silahku mulai berubah, hingga terucaplah kalimat “Qobiltu” dri lisanku.Ummi dan Abiku tak kuasa menahan air matanya. Akupun larutt, namun tangisanku kali ini hanya un tuk Azka. Andai saja dia bisa melihagt kebahgiaan kakaknta ini.
Bersambung…tunggu season berikutnya.